USD/IDR: Rupiah Turun ke Rp18.045 akibat Lonjakan Minyak meski Dolar AS Lesu
|- Rupiah melemah 45 poin atau 0,25% ke Rp18.045 per Dolar AS pada Kamis, di tengah lonjakan harga minyak dunia yang memperbesar tekanan terhadap mata uang Indonesia.
- Minyak Brent melesat ke atas US$112 per barel akibat meningkatnya ketegangan Timur Tengah, sementara Dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS justru melemah.
- BI memperkuat kebijakan stabilisasi Rupiah melalui penyesuaian instrumen moneter, tetapi risiko MSCI dan arus modal asing masih membayangi, meskipun IHSG melanjutkan pemulihan untuk hari ketiga.
Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah Indonesia (IDR) berlanjut pada perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026, di mana kurs ditutup melemah 0,25% atau 45 poin ke level Rp18.045 per USD dari posisi Rp18.000 pada hari Rabu. Esalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang membuat harga minyak global melambung menjadi pemicu utama, memicu kecemasan pasar atas potensi risiko biaya impor energi dan defisit transaksi berjalan Indonesia. Menariknya, koreksi Rupiah ini berlangsung di saat Indeks Dolar AS (DXY) serta imbal hasil obligasi pemerintah AS mengalami penurunan, sementara Bank Indonesia (BI) telah memperkuat perangkat stabilisasi nilai tukar.
Berbeda dengan pasar valas, IHSG melanjutkan masa pemulihannya selama tiga hari berturut-turut. Usai menguji level terendah 5.185 di awal perdagangan, IHSG bangkit 1% ke posisi 5.385 menjelang akhir sesi II hari ini. Kebangkitan saham domestik tersebut memperlihatkan mulai meredanya tekanan jual setelah kejatuhan pekan lalu, tetapi belum cukup menghapus kekhawatiran terhadap potensi arus keluar modal asing menyusul konsultasi MSCI mengenai klasifikasi pasar Indonesia.
Lonjakan Minyak Membayangi Pelemahan Dolar AS
Meningkatnya harga minyak mentah Brent berjangka terus berlanjut hingga melampaui US$112 per barel atau naik 3,15% pada Kamis, mendekati puncak tertinggi dalam lima bulan. Reuters melaporkan bahwa serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi menjadi pemicu utama yang meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk. Kenaikan harga turut diperkuat oleh laporan penurunan persediaan minyak mentah AS lebih dari tiga juta barel, melampaui prakiraan para analis.
Pada saat yang sama, DXY melemah ke sekitar 101,57, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke kisaran 5,09%. Penurunan tersebut terjadi ketika investor beralih ke obligasi pemerintah AS di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan aksi jual saham teknologi global. Namun, pelemahan Dolar belum memberikan dukungan berarti bagi Rupiah. Tingginya harga minyak dan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko masih membatasi pemulihan mata uang Indonesia menjelang pertemuan Federal Reserve (The Fed) pada 27–28 Oktober.
BI Perkuat Stabilisasi, MUFG Tetap Waspadai Pelemahan Rupiah
Bank Indonesia pada Rabu (21/10) mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%, tetapi menaikkan Deposit Facility sebesar 25 basis poin menjadi 5,00%. Bank sentral juga memperbesar insentif lindung nilai melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) serta mengumumkan penurunan bertahap Giro Wajib Minimum (GWM) bank konvensional dari 9% menjadi 8% pada 1 November dan 7% pada 1 Desember. Penyesuaian serupa berlaku bagi perbankan syariah, dengan GWM turun dari 7,5% menjadi 5,5% dalam dua tahap. Bauran kebijakan tersebut dirancang untuk menjaga stabilitas Rupiah sekaligus memastikan likuiditas perbankan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi.
Lloyd Chan, analis MUFG, menilai langkah BI dapat memperlambat pelemahan Rupiah, tetapi belum cukup untuk membalikkan arahnya. Tingginya imbal hasil AS, harga energi, serta risiko arus keluar portofolio akibat kemungkinan perubahan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market masih menjadi tantangan. "Langkah terbaru BI dapat membantu memperlambat laju depresiasi rupiah, tetapi kemungkinan tidak akan membalikkan tren tersebut, terutama di tengah tekanan eksternal dan arus keluar terkait saham yang persisten," ujar Chan. MUFG mempertahankan prakiraan USD/IDR di 18.350 pada akhir 2026 dan 18.500 pada kuartal pertama 2027.
Penembusan Rp18.000 Membuka Peluang Uji Rp18.090
Dengan memantau grafik harian, USD/IDR melesat dari pembukaan 17.943 hingga berakhir di level tertinggi 18.045, menunjukkan keberhasilan breakout di atas area psikologis 18.000 serta batas atas Bollinger Band di 18.008. Dominasi tekanan terhadap Rupiah di akhir perdagangan membuka peluang penguatan lanjutan menuju resistance penting 18.090. Indikator Relative Strength Index (RSI) yang merangkak naik ke posisi 67,05 mencerminkan momentum bullish USD yang semakin solid, meskipun pergerakannya mulai memasuki zona overbought.
Prospek bullish USD/IDR menuju target 18.090 masih terjaga selama harga mampu mengamankan posisi di atas penghalang 18.008–18.000. Sebaliknya, ketidakmampuan menjaga level penembusan tersebut berpotensi memicu pullback menuju support awal 17.943 (terendah 22 Oktober), diikuti 17.860 (terendah 30 September) dan 17.795 (terendah 23 September). RSI yang mendekati wilayah overbought juga perlu dicermati karena dapat meningkatkan peluang konsolidasi setelah kenaikan tajam, terutama apabila tekanan eksternal mulai mereda.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.