USD/IDR: Rupiah Terus Melemah ke Rp18.175 saat Minyak Melonjak Jelang The Fed
|- Kurs Rupiah melemah 19 poin ke level Rp18.175 per Dolar AS, melanjutkan penurunan selama tiga sesi perdagangan berturut-turut.
- Harga minyak Brent melonjak mendekati US$116/barel akibat meningkatnya risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah, sementara Dolar AS bertahan kuat menjelang keputusan The Fed.
- Arus keluar modal asing dan ketidakpastian klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI masih membebani Rupiah, meskipun Bank Indonesia memperkuat kebijakan stabilisasi.
Rupiah Indonesia (IDR) kembali merosot pada perdagangan Rabu (28/10), mencatatkan pelemahan selama tiga sesi berturut-turut di tengah meningkatnya tekanan dari pasar global dan domestik. Mata uang Garuda ditutup melemah 19 poin atau 0,10% ke level Rp18.175 per Dolar AS, dibandingkan dengan penutupan Selasa di Rp18.156. Lonjakan harga minyak mentah dunia akibat eskalasi ketegangan di Timur Tengah, penguatan Dolar AS menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed), serta arus keluar modal asing dari pasar keuangan Indonesia menjadi kombinasi tekanan yang terus membayangi Rupiah.
Ancaman gangguan pasokan energi dari Timur Tengah kembali mendorong harga minyak dunia setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim telah menyerang kilang minyak terbesar Arab Saudi, meskipun otoritas setempat belum mengonfirmasi serangan tersebut. Harga minyak mentah Brent berjangka melonjak 1,1% menjadi US$115,14 per barel pada perdagangan Rabu, sementara West Texas Intermediate (WTI) melesat 1,3% ke US$101,23. Sebelumnya, analis ING Warren Patterson dan Ewa Manthey menilai kenaikan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir mencerminkan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap eskalasi kembali konflik Timur Tengah. Namun, keduanya melihat peluang terkikisnya premi risiko apabila pemilu sela AS pada 3 November berlalu tanpa serangan baru terhadap Iran. Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor bersih minyak, tingginya harga energi berisiko memperbesar kebutuhan Dolar AS untuk impor sekaligus meningkatkan tekanan inflasi domestik.
Arus Modal Asing Masih Membebani Rupiah
Dari dalam negeri, tekanan terhadap Rupiah diperburuk oleh berlanjutnya aksi jual investor asing dan kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Investor asing membukukan penjualan bersih saham sebesar Rp651,26 miliar pada Selasa (27/10), ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok 1,99% ke level 5.266. Secara kumulatif, penjualan bersih investor asing sejak awal tahun telah mencapai Rp97,37 triliun. Ekonom dan Analis Pendapatan Tetap BCA Sekuritas, Felix Darmawan, menilai pemulihan kepercayaan investor masih membutuhkan kepastian kebijakan serta implementasi reformasi pasar modal. Tekanan juga menjalar ke pasar obligasi, dengan imbal hasil SBN bertenor 10 tahun meningkat ke sekitar 7,5%.
Bank Indonesia (BI) berupaya meredam tekanan tersebut melalui penguatan kebijakan stabilisasi nilai tukar. Setelah mempertahankan BI-Rate di 5,75% pada pertemuan 20–21 Oktober, bank sentral memperbesar insentif lindung nilai melalui instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), termasuk meningkatkan pengurangan premi menjadi 40% untuk tenor enam bulan dan 45% untuk tenor 12 bulan. Kebijakan ini ditujukan untuk menarik aliran modal asing dan menjaga stabilitas Rupiah. Namun, tingginya harga energi, tekanan pada pasar obligasi, dan berlanjutnya aksi jual saham oleh investor asing masih menjadi tantangan bagi upaya pemulihan mata uang domestik.
Dolar AS Bertahan Kuat, Pasar Tunggu Sinyal The Fed
Dari pasar internasional, Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di sekitar 102,40 pada Rabu, mendekati level tertinggi sejak 14 Oktober, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun naik ke sekitar 5,01%. Daya tarik aset berbasis Dolar tetap kuat ketika pelaku pasar mengantisipasi kemungkinan sikap hawkish The Fed, meskipun bank sentral AS diprakirakan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober. Perhatian investor kini tertuju pada kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya pada Desember, terutama setelah serangkaian data ekonomi AS menunjukkan ketahanan yang masih cukup solid.
Indeks Keyakinan Konsumen Conference Board melonjak menjadi 91,7 pada Oktober dari 84,2 pada September, jauh melampaui prakiraan pasar sekitar 81. Pesanan barang tahan lama juga meningkat 1,8% pada September, meskipun pesanan di luar transportasi hanya naik 0,5%, sedikit di bawah ekspektasi 0,6%. Sementara itu, rata-rata penambahan tenaga kerja swasta ADP selama empat minggu melambat menjadi 16.800 dari 17.500, mengisyaratkan bahwa kondisi ekonomi AS belum sepenuhnya menunjukkan percepatan yang merata. Kombinasi data tersebut membuat perhatian pasar tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh seusai keputusan suku bunga Rabu, khususnya mengenai prospek pengetatan kebijakan pada Desember yang berpotensi menentukan arah Dolar AS dan Rupiah dalam waktu dekat.
USD/IDR Dekati Resistance 18.180, Risiko Koreksi Mulai Meningkat
Berdasarkan grafik harian ICE, USD/IDR melanjutkan momentum bullish dengan ditutup di 18.175 pada perdagangan domestik, mendekati resistance penting 18.180 (tertinggi 8 Juni). Posisi harga di atas batas atas Bollinger Bands di sekitar 18.095 menunjukkan kuatnya tekanan beli. Namun, Relative Strength Index (RSI) di 69,89 hampir mencapai jenuh beli, mengisyaratkan risiko koreksi jangka pendek.
Penembusan di atas 18.180 berpotensi membawa USD/IDR menuju level psikologis 18.200, disusul 18.300. Sebaliknya, support terdekat berada di 18.090 (resistance sebelumnya yang kini berubah menjadi support), kemudian 18.000 dan area 17.946–17.943 (garis tengah Bollinger Band dan support horizontal yang membatasi penurunan pekan lalu). Selama bertahan di atas 18.000, bias jangka pendek masih bullish, meskipun risiko aksi ambil untung mulai meningkat.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.