USD/IDR: Rupiah Tertekan ke Rp17.825, Dolar AS Menguat Jelang Keputusan Suku Bunga BI
|- Kurs Rupiah melemah 0,54% ke Rp17.825 per Dolar AS pada Senin, sementara JISDOR Bank Indonesia naik menjadi Rp17.813.
- Penguatan Dolar AS setelah kenaikan suku bunga The Fed dan risiko pelepasan yen carry trade menambah tekanan terhadap Rupiah.
- Pasar menantikan keputusan suku bunga BI pada Rabu dan pertemuan Trump–Xi pada Kamis, sementara USD/IDR mendekati resistance Rp17.837.
Rupiah Indonesia (IDR) kembali melemah terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Senin, 21 September, dengan pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp17.825, naik 95 poin atau sekitar 0,54% dari Rp17.730 pada Jumat. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) turut naik menjadi Rp17.813 dari Rp17.745. Tekanan terhadap Rupiah berlanjut ketika Dolar AS mempertahankan penguatannya setelah kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pekan lalu, sementara perubahan kebijakan moneter Jepang menambah risiko pelepasan posisi yen carry trade di pasar negara berkembang. Dari dalam negeri, investor menantikan keputusan suku bunga BI pada Rabu, 23 September, serta mencermati arah kebijakan fiskal pemerintah. Sementara itu, rencana pertemuan Trump–Xi pada Kamis turut menjadi perhatian pasar karena berpotensi memengaruhi sentimen terhadap mata uang Asia, termasuk Rupiah.
Dolar AS Bertahan Kuat, Pasar Menantikan Keputusan BI
Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di sekitar 100,31 pada perdagangan Senin setelah menguat lebih dari 1% sepanjang pekan lalu. The Fed sebelumnya menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4,00% dan mengisyaratkan kemungkinan pengetatan lanjutan. Menurut Reuters, pelaku pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 55% bahwa bank sentral AS kembali menaikkan suku bunga pada Oktober. Ekspektasi tersebut mempertahankan daya tarik aset berdenominasi Dolar AS, sementara imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun masih berada di sekitar 4,96% meskipun sedikit menurun pada Senin.
Kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) menjadi 1,25% pada Jumat turut meningkatkan risiko pelepasan posisi yen carry trade yang dapat memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun, Yen justru melemah sekitar 2% terhadap Dolar AS sepanjang pekan lalu dan bergerak di sekitar 156,85 pada Senin. Sejauh ini, belum ada konfirmasi bahwa pelepasan posisi tersebut secara langsung menekan Rupiah.
Pasar turut mencermati rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada Kamis, 24 September, yang diprakirakan membahas hubungan perdagangan dan kebijakan tarif. Hasil pertemuan tersebut berpotensi memengaruhi sentimen terhadap mata uang Asia, termasuk Rupiah.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent turun 2,19% ke sekitar US$101,68 per barel setelah muncul laporan peningkatan ekspor minyak dari kawasan Teluk. Penurunan harga energi berpotensi mengurangi tekanan terhadap kebutuhan Dolar AS untuk impor minyak Indonesia. Namun, Brent yang masih diperdagangkan di atas US$100 per barel tetap menjadi risiko bagi biaya impor dan inflasi domestik, terutama ketika konflik Timur Tengah belum sepenuhnya mereda.
Menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 22–23 September, perhatian pasar tertuju pada arah kebijakan moneter bank sentral. BI sebelumnya mempertahankan suku bunga acuan di 5,75% pada Agustus untuk menjaga stabilitas Rupiah di tengah gejolak pasar global. Dengan Dolar AS yang masih kuat dan selisih imbal hasil antara aset Rupiah dan Dolar AS menjadi pertimbangan investor, keputusan suku bunga serta langkah stabilisasi nilai tukar BI akan menjadi faktor penting bagi pergerakan USD/IDR berikutnya.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, pemerintah berupaya memberikan kepastian mengenai arah kebijakan fiskal. Menteri Keuangan Suahasil Nazara pada Jumat menegaskan komitmen menjaga defisit APBN 2026 di bawah batas 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan proyeksi defisit sebesar 2,85%. Hingga Agustus, defisit anggaran tercatat Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap PDB. Penegasan tersebut memberikan gambaran mengenai arah pengelolaan fiskal setelah pergantian Menteri Keuangan, meskipun perkembangan pasar valuta asing pada Senin masih dibayangi penguatan Dolar AS dan prospek suku bunga global.
USD/IDR Mendekati Resistance Rp17.837
Berdasarkan grafik harian ICE, USD/IDR melanjutkan pemulihan dari area Rp17.500 dan bergerak ke Rp17.830 setelah menyentuh level tertinggi harian Rp17.833. Pasangan mata uang ini telah kembali berada di atas Moving Average (MA) 100-hari di sekitar Rp17.690 dan garis tengah Bollinger Bands pada Rp17.681. Relative Strength Index (RSI) naik ke 59,12, menunjukkan momentum kenaikan USD/IDR semakin kuat tanpa memasuki wilayah jenuh beli. Resistance terdekat berada di Rp17.837, yang merupakan batas atas Bollinger Bands. Penembusan level tersebut berpotensi membuka jalan menuju level angka bulat Rp17.900.
Sebaliknya, apabila USD/IDR gagal menembus Rp17.837, koreksi awal dapat membawa pasangan mata uang ini kembali menguji support Rp17.770, area yang membatasi pergerakan akhir Agustus hingga awal September. Penurunan lebih lanjut akan mengarahkan perhatian pada area Rp17.690–Rp17.681, tempat MA 100-hari berdekatan dengan garis tengah Bollinger Bands. Jika area tersebut ditembus, support berikutnya berada di Rp17.600, sebelum level psikologis Rp17.500.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.