USD/IDR: Rupiah Tertekan ke Rp17.300-an saat Minyak Tinggi dan The Fed Membayangi
|- Rupiah melemah ke area Rp17.300-an per Dolar AS pada awal sesi Eropa, dengan USD/IDR naik 0,66% ke 17.324.
- Harga minyak yang kembali menguat memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi impor, kebutuhan Dolar AS untuk migas, dan beban subsidi energi.
- Pasar menunggu keputusan The Fed malam ini, setelah data AS memberi sinyal campuran tetapi belum cukup lemah untuk menekan Dolar AS secara signifikan.
Rupiah kembali tertekan pada awal sesi Eropa hari Rabu. Pasangan mata uang USD/IDR naik 0,66% ke 17.324, setelah bergerak dalam rentang harian 17.215-17.337. Posisi ini membawa Rupiah kembali dekat area terlemah historis, saat pasar menakar kombinasi permintaan safe haven Dolar AS, harga minyak yang tetap tinggi, dan kehati-hatian menjelang arah kebijakan The Fed.
Dari sisi acuan Bank Indonesia, Kurs Transaksi BI per 29 April menunjukkan kurs jual Dolar AS di Rp17.331,22 dan kurs beli di Rp17.158,78. Sementara itu, JISDOR BI terbaru pada 28 April berada di Rp17.245, naik tipis dari Rp17.227 pada 27 April.
Risiko Energi Masih Membatasi Pemulihan Rupiah
Ahli strategi OCBC, Sim Moh Siong dan Christopher Wong, menilai pelemahan Rupiah masih dipengaruhi ketidakpastian eksternal dari risiko konflik AS-Iran yang berkepanjangan serta kerentanan Indonesia terhadap guncangan energi. Meski USD/IDR sempat turun mengikuti pullback besar Dolar AS, harga minyak yang masih tinggi membuat pemulihan Rupiah belum sepenuhnya meyakinkan.
OCBC melihat ruang pemulihan IDR jika ketegangan geopolitik dan harga minyak mereda. Untuk saat ini, support USD/IDR dipantau di 17.100, yang bertepatan dengan MA 21-hari, dan 16.960, dekat MA 50-hari. Sementara itu, resistance berada di 17.250 dan 17.315, area yang menjadi penghalang terdekat setelah kenaikan tajam pasangan mata uang ini.
Ketegangan Hormuz dan Reposisi UEA Menambah Risiko Energi
Sentimen geopolitik masih menahan pasar setelah Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz jika AS mencabut blokade dan perang dihentikan. Namun, Washington belum puas karena isu nuklir belum masuk dalam paket penyelesaian utama. Di saat yang sama, laporan bahwa AS dapat memperpanjang blokade terhadap Iran menjaga kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Harga minyak ikut mempersempit ruang pemulihan Rupiah. Data Trading Economics pukul 06:37 GMT menunjukkan WTI naik 0,43% ke US$100,36 per barel, sementara Brent meningkat 0,84% ke US$112,20 per barel. Bagi Indonesia, minyak tinggi memperbesar risiko inflasi impor, kebutuhan Dolar AS untuk impor migas, serta beban subsidi energi.
Di tengah tekanan tersebut, Uni Emirat Arab mengumumkan keluar dari OPEC dan OPEC+. Keputusan ini sempat memangkas sebagian kenaikan harga minyak, tetapi juga memunculkan kekhawatiran baru terhadap kekompakan produsen dan koordinasi pasokan global. Reuters menyebut otoritas Emirat menilai langkah itu sejalan dengan strategi energi nasional yang lebih luas, tidak hanya bertumpu pada minyak.
Data AS Campuran, Fokus Beralih ke The Fed
Dari AS, data Selasa malam memberi sinyal campuran. Rata-rata empat minggu ADP turun tipis ke 39,25 ribu dari 40,25 ribu, sementara Indeks Harga Perumahan Februari stagnan di 0%, di bawah konsensus 0,2%. Namun, Keyakinan Konsumen Conference Board naik ke 92,8, melampaui proyeksi 89,0, menunjukkan konsumsi AS masih bertahan.
Selanjutnya, fokus malam ini beralih ke data perumahan, pesanan barang tahan lama, dan keputusan The Fed. Pasar menunggu Izin Pendirian Bangunan Maret, Perumahan Baru Maret, serta Pesanan Barang Tahan Lama Maret, tetapi perhatian utama tetap tertuju pada keputusan suku bunga The Fed yang diprakirakan bertahan di 3,75%. Pernyataan kebijakan dan konferensi pers FOMC akan menjadi penentu arah Dolar AS berikutnya, sekaligus menentukan apakah tekanan terhadap Rupiah dapat mereda atau justru kembali melebar.
Indikator Ekonomi
Keputusan Suku Bunga The Fed
Federal Reserve (The Fed) berunding tentang kebijakan moneter dan membuat keputusan tentang suku bunga pada delapan pertemuan yang dijadwalkan sebelumnya per tahun. The Fed memiliki dua mandat: untuk menjaga inflasi pada 2%, dan untuk mempertahankan lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai hal ini adalah dengan menetapkan suku bunga – baik di mana The Fed meminjamkan ke perbankan dan perbankan saling meminjamkan. Jika The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga, Dolar AS (USD) cenderung menguat karena menarik lebih banyak arus masuk modal asing. Jika The Fed memangkas suku bunga, hal ini cenderung melemahkan USD karena modal mengalir keluar ke negara-negara yang menawarkan pengembalian yang lebih tinggi. Jika suku bunga dibiarkan tidak berubah, perhatian beralih ke nada pernyataan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC), dan apakah FOMC hawkish (mengharapkan suku bunga masa depan yang lebih tinggi), atau dovish (mengharapkan suku bunga masa depan yang lebih rendah).
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Apr 29, 2026 18.00
Frekuensi: Tidak teratur
Konsensus: 3.75%
Sebelumnya: 3.75%
Sumber: Federal Reserve
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.