USD/IDR: Rupiah Tembus Rp18.050, Capai Rekor Terlemah Baru, Tekanan Berlapis dari Domestik hingga Global
|- Rupiah melemah ke Rp18.050, membawa mata uang Garuda ke rekor terlemah baru.
- Tekanan tidak hanya datang dari Dolar AS, tetapi juga dari kekhawatiran domestik, minyak tinggi, dan surplus perdagangan yang menipis.
- Pasar masih menunggu apakah BI mampu menahan tekanan, sementara sentimen FTSE, MSCI, dan data AS ikut membatasi ruang pemulihan Rupiah.
Rupiah menembus level Rp18.000 tanpa penahanan berarti pada perdagangan Kamis. Pasangan mata uang USD/IDR menembus Rp18.050 dan terus berupaya bergerak lebih tinggi, menguat 0,70%, sekaligus membawa Rupiah masuk ke zona tekanan baru. Dengan USD/IDR berada dekat puncak harian dan area tertinggi baru sepanjang masa di sekitar Rp18.056, fokus pasar kini tertuju pada respons otoritas dan kemampuan Rupiah kembali bertahan di bawah batas psikologis tersebut.
Pelemahan ini terlihat makin curam sejak USD/IDR melewati area Rp17.000. Sebelumnya, pasangan mata uang ini sempat terkonsolidasi di sekitar Rp16.900-Rp17.000, sebelum menanjak agresif dan menembus beberapa level penting tanpa koreksi yang dalam. Area Rp16.975-Rp16.985, yang sempat menjadi batas atas pada awal 2026, kini tertinggal jauh dan menandai fase tekanan yang lebih berat bagi Rupiah.
Tekanan Bukan Sekadar Cerita Dolar AS
Menariknya, tekanan hari ini tidak sepenuhnya datang dari penguatan Dolar AS. Pada pembukaan Kamis, Rupiah sudah melemah ke Rp18.003 per Dolar AS, sementara indeks Dolar AS justru turun tipis 0,08% ke 99,445. Artinya, pelemahan Rupiah lebih banyak dipengaruhi kombinasi kekhawatiran terhadap aset Indonesia, sikap risk-off, dan permintaan Dolar domestik. Reuters juga mencatat DPR baru saja mengesahkan aturan yang memperluas penekanan peran Bank Indonesia untuk mendukung pertumbuhan, sehingga menambah kekhawatiran investor terhadap potensi intervensi politik terhadap bank sentral.
Dari sisi eksternal, harga energi masih menjadi beban. Walau minyak turun, Brent tetap berada di sekitar US$97,35 per barel dan WTI di US$95,42, level yang masih tinggi bagi Indonesia sebagai importir energi. Harga minyak yang mahal dapat memperbesar risiko inflasi, menekan neraca perdagangan, dan memperlemah posisi transaksi berjalan.
Surplus Perdagangan Menipis, Inflasi Mendekati Batas Atas
Bantalan eksternal Rupiah juga makin tipis. Surplus perdagangan Indonesia pada April hanya US$0,09 miliar, jauh di bawah ekspektasi US$1,5 miliar dan menjadi surplus terkecil sejak 2020. Penyempitan ini terjadi karena impor naik 22,49% yoy, terutama dipicu lonjakan impor migas yang melonjak lebih dari 80% yoy, sementara impor nonmigas naik 14,11% yoy.
DBS Group Research juga mencatat inflasi Indonesia naik ke 3,1% yoy pada Mei dari 2,4%, masih dalam target BI 1,5%-3,5%, tetapi sudah mendekati batas atas. Radhika Rao menilai pelemahan Rupiah, risiko cuaca, dan surplus perdagangan yang menyempit dapat menambah tekanan pada neraca perdagangan serta transaksi berjalan.
Sentimen Saham Ikut Menambah Beban Psikologis
Sentimen dari pasar saham turut menambah beban psikologis terhadap aset Rupiah. FTSE Russell telah merilis perlakuan khusus terhadap saham Indonesia pada 13 Mei, lalu mengumumkan penghapusan sejumlah saham dalam rebalancing Juni, dengan revisi tambahan pada 1 Juni dan perubahan efektif pada 22 Juni 2026.
Di saat yang sama, MSCI juga masih menjadi perhatian setelah tidak memasukkan saham baru Indonesia ke indeks utama dalam review Mei, sementara pasar menunggu evaluasi pada 18 dan 23 Juni untuk melihat apakah risiko penurunan status Indonesia dari Emerging Market ke Frontier Market benar-benar mereda.
Data Tenaga Kerja AS Jadi Ujian Berikutnya bagi Rupiah
Tekanan dari luar negeri juga belum banyak membantu Rupiah. Data JOLTS sebelumnya menunjukkan lowongan kerja AS naik ke 7,6 juta pada April, sementara ADP Mei bertambah 122 ribu, di atas konsensus 117 ribu. Meski PMI Gabungan S&P Global turun ke 51,5, PMI Jasa ISM justru naik ke 54,5 dan indeks harga ISM menguat ke 71,3. Kombinasi pasar tenaga kerja yang masih solid dan tekanan harga jasa yang tinggi membuat investor tetap berhati-hati terhadap peluang pemangkasan suku bunga The Fed.
Menjelang Nonfarm Payrolls (NFP) Jumat, pasar malam ini akan mencermati data lanjutan dari AS, mulai dari Challenger Job Cuts, neraca perdagangan, klaim awal pengangguran yang diprakirakan turun ke 213 ribu dari 215 ribu, hingga produktivitas dan biaya tenaga kerja kuartal I. Jika data kembali menunjukkan tenaga kerja AS masih kuat, tekanan terhadap Rupiah berisiko bertahan.
Peluang Pemulihan Masih Ada, tetapi Syaratnya Berat
Di tengah tekanan tersebut, MUFG masih melihat peluang bias turun ringan pada USD/IDR jika posisi beli USD/IDR yang sudah padat mulai dilepas dan valuasi Rupiah yang murah kembali menarik minat pasar. Ruang penguatan Rupiah belum sepenuhnya tertutup, terutama jika tensi AS-Iran mereda dan harga energi ikut turun. Dukungan BI melalui kenaikan suku bunga 50 bp serta penerbitan SRBI berimbal hasil tinggi juga dinilai dapat membantu menjaga daya tarik Rupiah, meski pasar masih membutuhkan sinyal yang lebih kuat sebelum menilai tekanan telah mencapai puncaknya.
Indikator Ekonomi
Laporan PHK Challenger (Thn/Thn)
PHK Challenger, yang dirilis oleh Challenger, Grey & Christmas setiap bulan, memberikan informasi tentang jumlah PHK perusahaan yang diumumkan menurut industri dan wilayah. Laporan tersebut merupakan indikator yang digunakan oleh investor untuk menentukan kekuatan pasar tenaga kerja. Biasanya, pembacaan yang tinggi dianggap negatif (atau bearish) bagi Dolar AS (USD), sedangkan pembacaan yang rendah dianggap positif (atau bullish).
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Kam Jun 04, 2026 11.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: -
Sebelumnya: 83.687Rb
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.