fxs_header_sponsor_anchor

Berita

USD/IDR: Rupiah Pangkas Penguatan ke Rp18.065, Pasar Tunggu PPI AS dan Warsh

  • Rupiah memangkas penguatannya terhadap Dolar AS pada awal sesi Eropa Rabu, dengan USD/IDR bergerak di sekitar Rp18.065.
  • Dolar AS melemah setelah inflasi AS melambat lebih tajam dari prakiraan dan pasar mengurangi taruhan kenaikan suku bunga The Fed.
  • Pasar juga mencermati pandangan Purbaya, prospek kebijakan BI, harga minyak, PPI AS, serta kesaksian Ketua The Fed Kevin Warsh.

Nilai tukar Rupiah sempat menguat ke sekitar Rp18.000 terhadap Dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu di tengah merosotnya greenback setelah inflasi Amerika Serikat (AS) melambat lebih tajam dari prakiraan. Namun pada awal sesi Eropa, mata uang Garuda memangkas penguatannya dan diperdagangkan di sekitar Rp18.065.

Pasangan mata uang USD/IDR turun 15 poin atau 0,08% pada pukul 13:05 WIB dari penutupan Selasa di Rp18.080.

JISDOR Bank Indonesia pada Selasa ditetapkan di Rp18.099, dibandingkan Rp18.131 pada perdagangan sebelumnya.

Dari sisi teknis, OCBC melihat momentum bullish ringan USD/IDR masih bertahan, sementara RSI mendekati area jenuh beli. Resistance terdekat berada di 18.190, dengan support di 18.000 dan 17.910 yang merupakan MA 21-hari.

Dolar AS Turun setelah Inflasi Melambat

Dolar AS (USD) anjlok 39 poin dalam setengah jam pertama setelah rilis IHK AS yang melambat semalam, ketika pasar mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Hingga awal sesi Eropa Rabu, DXY masih melanjutkan penurunan ke 100,77.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan inflasi tahunan turun menjadi 3,5% pada Juni dari 4,2% pada Mei, lebih rendah dari ekspektasi 3,8%. Inflasi inti tahunan juga melambat menjadi 2,6% dari 2,9%. Secara bulanan, Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI) turun 0,4%, sementara IHK inti stagnan.

Pasca rilis, CME FedWatch Tool kini menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga pada Juli turun menjadi 17% dari 40%, sementara peluang kenaikan pada September merosot menjadi 60% dari 75%.

Purbaya: Kalau Punya Dolar, Jual Dolarnya

Di dalam negeri, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memprakirakan sentimen negatif di pasar saham, obligasi, dan nilai tukar Rupiah dapat mereda setelah S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia di BBB dengan outlook stabil.

"Seharusnya ke depan sentimen negatif di pasar modal, di pasar obligasi, maupun nilai tukar rupiah akan hilang dengan cepat. Jadi ke depan siap-siap beli saham, kalau punya dolar, jual dolarnya," kata Purbaya pada Selasa.

OCBC menilai afirmasi S&P memberi sedikit dukungan bagi Rupiah karena menghapus risiko penurunan peringkat dalam waktu dekat. Namun, penguatan dinilai dapat terbatas tanpa konsolidasi fiskal dan perbaikan arus modal yang lebih jelas.

Sementara itu, Societe Generale memprakirakan BI akan mempertahankan bias hawkish dan siap bertindak jika pelemahan Rupiah memburuk, termasuk melalui kenaikan suku bunga apabila intervensi tidak cukup meredam tekanan.

Harga Minyak Tetap Dicermati

Di luar pergerakan Dolar AS, ketegangan AS-Iran dan Selat Hormuz tetap menjadi perhatian. Garda Revolusi Iran menyatakan jalur tersebut akan tetap ditutup dan mengancam koridor ekspor lain yang menguntungkan AS dan sekutunya, setelah Washington kembali memberlakukan blokade terhadap Iran dan melancarkan serangan baru di sekitar Hormuz.

Di tengah perkembangan tersebut, Brent bergerak di sekitar USD85,50 per barel, sementara WTI diperdagangkan di USD79,87.

Warsh Tegaskan Komitmen terhadap Inflasi 2%, Pasar Tunggu PPI AS

Dalam hari pertama kesaksiannya di hadapan Komite Jasa Keuangan DPR AS, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan komitmen The Fed terhadap stabilitas harga dan target inflasi 2%.

"Inflasi adalah pilihan. The Fed tidak akan lempar batu sembunyi tangan," kata Warsh, seraya menegaskan masih ada pekerjaan yang harus dilakukan untuk menekan inflasi.

Selanjutnya, pasar akan mencermati Indeks Harga Produsen (IHP/PPI) AS untuk Juni dan hari kedua kesaksian Ketua The Fed Kevin Warsh pada Rabu malam, setelah data IHK yang lebih lemah dari prakiraan mendorong pasar mengurangi taruhan kenaikan suku bunga.

Indikator Ekonomi

Indeks Harga Produsen non Pangan & Energi (Thn/Thn)

Indeks Harga Produsen dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja, Departemen Tenaga Kerja mengukur rata-rata perubahan harga di pasar utama AS oleh produsen komoditas di semua negara bagian untuk pengolahan. Perubahan IHP secara luas diikuti sebagai indikator inflasi komoditas. Secara umum, pembacaan tinggi dipandang sebagai positif (atau bullish) untuk USD, sedangkan bacaan yang rendah dipandang sebagai negatif (atau bearish).

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Rab Jul 15, 2026 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 5.2%

Sebelumnya: 4.9%

Sumber: US Bureau of Labor Statistics

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.