USD/IDR: Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.980, Dolar Lemah dan Data Indonesia Menopang
|- Kurs Rupiah ditutup menguat 10 poin ke Rp17.980 per Dolar AS pada perdagangan Senin.
- Defisit perdagangan menyempit menjadi US$450 juta, sementara PMI manufaktur kembali ke zona ekspansi dan inflasi melandai.
- Ruang penguatan terbatas oleh rebound harian Dolar AS dan lonjakan impor Indonesia.
Rupiah Indonesia (IDR) melanjutkan penguatan tipis 10 poin atau sekitar 0,06% ke Rp17.980 per Dolar AS (USD) pada perdagangan antarbank domestik Senin, dari penutupan Jumat di Rp17.990. Mata uang Garuda mendapat dukungan dari pelemahan tajam Greenback pada pekan lalu, sementara dari dalam negeri, penyempitan defisit perdagangan, melandainya inflasi, dan kembalinya aktivitas manufaktur ke zona ekspansi turut menopang sentimen.
Namun, penguatan Rupiah masih terbatas karena Indeks Dolar AS memantul dari level terendah harian. Lonjakan impor Indonesia juga menunjukkan kebutuhan terhadap valuta asing tetap tinggi meski defisit perdagangan mengecil. Setelah perdagangan antarbank domestik berakhir, pasangan mata uang USD/IDR bergerak di sekitar Rp17.994. JISDOR Bank Indonesia ditetapkan menguat 67 poin ke Rp17.991 dari Rp18.058 pada Jumat.
Defisit Perdagangan Menyempit, tetapi Impor Melonjak
Neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit US$450 juta pada Juni, menyempit dari US$1,61 miliar pada Mei dan lebih baik daripada prakiraan defisit US$790 juta. Ekspor pulih 8,84% secara tahunan, jauh di atas ekspektasi 0,25% setelah sebelumnya turun 5,73%. Namun, impor melonjak 34,27%, dari 22,16% pada bulan sebelumnya dan melampaui prakiraan 25,3%. Perincian data menunjukkan impor minyak dan gas meningkat 105,15% secara tahunan, mempertegas masih kuatnya kebutuhan valuta asing.
Inflasi Juli melandai menjadi 2,88% secara tahunan dari 3,34% dan berada di bawah prakiraan 3,2%. Secara bulanan, Indonesia mengalami deflasi 0,14%, sementara inflasi inti bertahan di 2,76%. PMI Manufaktur S&P Global juga naik ke 50,2 dari 46,9, menandai kembalinya sektor tersebut ke zona ekspansi. Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, mengatakan pemulihan produksi ditopang stabilisasi pesanan baru dan membaiknya kepercayaan pelanggan. “Perusahaan mencatat optimisme tertinggi dalam enam bulan,” ujarnya.
Dolar AS Memantul dari Terendah Harian
Indeks Dolar AS berada di sekitar 99,81 pada perdagangan Senin, turun tipis 0,01% setelah sempat menyentuh terendah harian di 99,42. Greenback masih tertekan setelah merosot tajam dalam dua sesi sebelumnya, ketika Yen melonjak lebih dari 600 poin di tengah dugaan intervensi. Namun, rebound Dolar AS dari level rendah membantu membatasi penguatan Rupiah.
Data AS pada Jumat cenderung solid, dengan Indeks Biaya Tenaga Kerja kuartal II naik 0,9% dan PMI Chicago meningkat ke 57,6. Sentimen Konsumen Michigan juga naik ke 55,2, tetapi ekspektasi inflasi satu dan lima tahun masing-masing bertahan di 4,2% dan 3,3%. Presiden The Fed Richmond, Tom Barkin, kemudian mengatakan masih belum jelas apakah suku bunga saat ini cukup tinggi untuk membawa inflasi kembali ke target 2%. “Masih menjadi pertanyaan apakah suku bunga sudah cukup tinggi,” ujarnya.
Harga minyak turut memberi dukungan tambahan bagi Rupiah setelah AS membatalkan rencana serangan terhadap Iran dan memilih mengejar kesepakatan nuklir yang dapat membuka kembali Selat Hormuz. WTI merosot 5,79% ke US$79,77 per barel, sedangkan Brent turun 4,65% ke US$83,84, sehingga membantu meredakan kekhawatiran terhadap biaya impor energi Indonesia.
Pasar Menunggu PMI ISM AS
Pasar selanjutnya menunggu PMI Manufaktur ISM AS Juli yang diprakirakan naik ke 54 dari 53,3 pada pukul 21.00 WIB, beserta komponen harga, ketenagakerjaan, dan pesanan baru. Data yang kuat atau tekanan harga yang tetap tinggi berpotensi menopang Dolar AS dan membatasi Rupiah. Survei Pinjaman Pejabat Senior kuartal II akan dirilis dini hari WIB, sebelum perhatian beralih ke Nonfarm Payrolls (NFP) AS menjelang akhir pekan.
Indikator Ekonomi
PMI Manufaktur ISM
Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Institute for Supply Management (ISM), yang dirilis setiap bulan, merupakan indikator utama yang mengukur aktivitas bisnis di sektor manufaktur AS. Indikator tersebut diperoleh dari survei terhadap eksekutif pemasok manufaktur berdasarkan informasi yang mereka kumpulkan di organisasi masing-masing. Respons survei mencerminkan perubahan, jika ada, pada bulan ini dibandingkan bulan sebelumnya. Angka di atas 50 menunjukkan bahwa ekonomi manufaktur secara umum berkembang, yang merupakan tanda bullish bagi Dolar AS (USD). Angka di bawah 50 menandakan aktivitas pabrik secara umum menurun, yang dipandang sebagai bearish bagi USD.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Sen Agu 03, 2026 14.00
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 54
Sebelumnya: 53.3
Sumber: Institute for Supply Management
Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Institute for Supply Management (ISM) memberikan pandangan yang andal terhadap keadaan sektor manufaktur AS. Data di atas 50 menunjukkan bahwa aktivitas bisnis berkembang selama periode survei dan sebaliknya. IMP dianggap sebagai indikator utama dan dapat menandakan pergeseran siklus ekonomi. Hasil cetak yang lebih kuat dari perkiraan biasanya berdampak positif pada USD. Selain IMP utama, data Indeks Ketenagakerjaan dan Indeks Harga yang Dibayar diawasi dengan cermat karena keduanya menyoroti pasar tenaga kerja dan inflasi.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.