USD/IDR: Rupiah Menguat ke Rp17.868, DXY dan Minyak Turun Jelang NFP AS
|- Kurs Rupiah menguat 0,40% ke Rp17.868 per Dolar AS pada Jumat dan mencatat kenaikan tipis sekitar 0,07% sepanjang pekan.
- DXY terkoreksi ke 101,85 setelah menyentuh 102,20, sementara WTI dan Brent turun masing-masing 2,24% dan 1,37%, meredakan sebagian tekanan eksternal terhadap Rupiah.
- Kebijakan baru BI dan data domestik yang membaik memberi dukungan, sementara pasar mencermati perombakan kabinet dan NFP AS malam ini.
Rupiah Indonesia (IDR) menutup perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026, dengan penguatan terhadap Dolar AS (USD). Pasangan mata uang USD/IDR turun ke Rp17.868, membuat Rupiah menguat sekitar 0,40% dari penutupan Kamis di Rp17.940. Dibandingkan posisi Rp17.880 pada Jumat pekan lalu, mata uang Indonesia naik tipis sekitar 0,07% sepanjang pekan. Sementara itu, kurs referensi JISDOR Bank Indonesia ditetapkan di Rp17.898 per Dolar AS.
Penguatan terjadi ketika tekanan dari Dolar AS dan harga minyak sedikit mereda menjelang akhir pekan. Indeks Dolar AS (DXY) turun ke sekitar 101,85 setelah sempat menyentuh 102,20, level tertinggi sejak Mei 2025. WTI melemah 2,24% ke US$90,79 per barel dan Brent turun 1,37% ke US$100,91. Koreksi minyak membantu meredakan tekanan terhadap Rupiah, meski Brent yang masih bertahan di sekitar US$100 per barel tetap menjadi beban bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak.
Kebijakan BI dan Data Domestik Menopang Rupiah
Bank Indonesia pada Kamis memperluas surat berharga yang dapat digunakan sebagai underlying operasi moneter dengan memasukkan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi. Langkah tersebut ditujukan untuk menambah fleksibilitas pengelolaan likuiditas perbankan sekaligus memperdalam pasar keuangan. Hingga 30 September, transaksi repo dengan underlying surat berharga PT SMF mencapai Rp1,25 triliun, sementara obligasi dan sukuk PT SMI mulai masuk dalam lelang repo pada akhir September.
Perkembangan domestik lainnya datang dari perombakan Kabinet Merah Putih pada Kamis. Presiden Prabowo melantik Drajad Hari Wibowo sebagai Wakil Menko Perekonomian, Nurkholisoh Ibnu Aman dan Luky Alfirman sebagai Wakil Menteri Keuangan, serta Bahlil Lahadalia sebagai Menko Hilirisasi dan Transisi Energi. Sejauh ini reshuffle belum terlihat menjadi penggerak utama Rupiah, tetapi perubahan susunan tim ekonomi tetap dicermati terkait arah kebijakan fiskal, investasi, dan hilirisasi.
Latar domestik juga ditopang data ekonomi yang membaik. PMI Manufaktur Indonesia September naik ke 52,4 dari 49,8 dan kembali ke zona ekspansi, sementara surplus perdagangan Agustus melonjak menjadi US$3,55 miliar dari US$0,12 miliar pada Juli. Inflasi September memang naik menjadi 3,28% YoY dari 3,19%, tetapi masih berada dalam sasaran BI 2,5±1%, sedangkan inflasi inti melandai menjadi 2,84% dari 2,92%. BI tetap menegaskan komitmennya menjaga stabilitas Rupiah melalui intervensi di pasar valas, dengan porsi spot yang kini lebih kecil dan penggunaan NDF serta DNDF yang lebih besar.
Data AS Masih Solid Jelang NFP
Data AS semalam belum menunjukkan pelemahan yang tegas. PMI Manufaktur ISM September turun tipis ke 54,5 dari 54,6 dan berada di bawah prakiraan 55, tetapi detail laporannya masih cukup kuat. Pesanan baru meningkat ke 55,3 dari 53,7 dan indeks ketenagakerjaan naik ke 52,7 dari 51,2. Prices Paid bahkan melonjak ke 77,9 dari 71,1, menunjukkan tekanan biaya masih tinggi, sementara klaim tunjangan pengangguran awal turun menjadi 197 ribu. Pasar kini menunggu Nonfarm Payrolls (NFP) malam ini untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai kondisi tenaga kerja dan arah suku bunga AS.
USD/IDR di Bawah Ascending Channel, Support 17.860 Jadi Fokus
Pada grafik harian ICE, USD/IDR bergerak di bawah ascending channel jangka pendek, meski mencoba pulih ke sekitar 17.932 (tertinggi 6 Agustus). Resistance terdekat berada di level psikologis 18.000. Jika kembali menguat, pasangan mata uang ini dapat menguji batas atas Bollinger Band di sekitar 18.063, disusul 18.090 (tertinggi 28 dan 30 Juli). Relative Strength Index (RSI) berada di 58,85, belum memasuki wilayah overbought, sehingga pergerakan bullish USD/IDR belum sepenuhnya mereda.
Di sisi bawah, support terdekat terletak di area 17.860 (terendah 30 September), disusul 17.795 (terendah 23 September) dan area MA 100 di sekitar 17.769–17.726. Jika tekanan jual USD berlanjut dan area tersebut ditembus, support berikutnya berada di 17.685 (terendah 28 Agustis), sementara batas bawah Bollinger Band terlihat lebih jauh di sekitar 17.476.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.