fxs_header_sponsor_anchor

Berita

USD/IDR: Rupiah Menguat ke Rp17.740 saat Dolar AS Tertekan, Imbal Hasil Treasury Turun

  • Kurs Rupiah menguat 85 poin dan USD/IDR ditutup di Rp17.740 pada Kamis.
  • Dolar AS tertekan dan imbal hasil Treasury turun setelah Departemen Keuangan AS memperbesar buyback obligasi tenor panjang.
  • BI mempertahankan suku bunga di 5,75%, sementara kenaikan harga minyak menjadi faktor pembatas bagi Rupiah.

Rupiah Indonesia (IDR) melanjutkan penguatan terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Kamis, menyeret pasangan mata uang USD/IDR turun 85 poin ke di Rp17.740 dari Rp17.825 sehari sebelumnya. Penguatan Rupiah mendapat dukungan dari pelemahan Dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi Pemerintah AS setelah Departemen Keuangan AS memperbesar program buyback utang jangka panjang. Dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga turut menjaga sentimen, sementara kenaikan harga minyak menjadi faktor pembatas.

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan penguatan Rupiah, turun menjadi Rp17.779 pada Kamis dari Rp17.844 sehari sebelumnya.

Dolar AS Tertekan setelah Treasury Perbesar Buyback Obligasi

Tekanan terhadap Dolar AS meningkat setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan akan menggandakan ukuran buyback obligasi tenor panjang dari US$2 miliar menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi. Langkah tersebut ditujukan untuk mendukung likuiditas pasar setelah lonjakan tajam imbal hasil obligasi Pemerintah AS. Respons pasar terlihat pada penurunan imbal hasil Treasury AS 10-tahun ke sekitar 4,64%, sementara imbal hasil 30-tahun berada di sekitar 5,19% pada perdagangan Asia. Indeks Dolar AS (DXY) pada saat berita ini ditulis, terus bergerak lebih rendah di sekitar 98,70, mencatatkan level terendah baru sejak akhir Mei.

Penurunan Dolar tetap berlangsung meskipun Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Juli menunjukkan sikap yang cenderung hawkish. Sebagian besar pejabat mendukung mempertahankan suku bunga, tetapi banyak peserta menilai kenaikan lebih lanjut mungkin diperlukan apabila inflasi gagal mereda, sementara beberapa lainnya mendukung kenaikan segera. Namun, sinyal tersebut belum cukup untuk mengimbangi tekanan terhadap Dolar setelah langkah Departemen Keuangan AS mendorong turun imbal hasil obligasi jangka panjang

BI Pertahankan Suku Bunga, Stabilitas Rupiah Tetap Menjadi Fokus

Dari dalam negeri, BI pada Rabu mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility 4,75%, dan Lending Facility 6,50%. Keputusan pertama di bawah Pejabat Gubernur Sementara BI Destry Damayanti tersebut tetap diarahkan untuk memperkuat stabilitas Rupiah di tengah gejolak global akibat konflik di Timur Tengah, sekaligus menjaga inflasi dalam sasaran dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Geoff Yu menilai keputusan tersebut menunjukkan kesinambungan arah kebijakan BI setelah kepergian Perry Warjiyo. Ia mencatat bank sentral masih memprakirakan Rupiah akan menguat dan siap menggunakan instrumen moneter, intervensi pasar, serta insentif arus masuk valuta asing untuk mendukung mata uang domestik. Menurut Yu, keputusan tersebut “menandakan kelanjutan kebijakan [...] tanpa pergeseran mendadak menuju pelonggaran.”

Kenaikan Harga Minyak Membatasi Penguatan Rupiah

Meski tekanan terhadap Dolar memberikan dukungan bagi Rupiah, kenaikan harga minyak tetap menjadi risiko. Pada sesi Eropa, West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di US$86,75 per barel, naik 1,07%, sedangkan Brent berada di US$92,73, menguat 1,21%. Harga minyak masih ditopang ketidakpastian pasokan akibat konflik di Timur Tengah dan gangguan terhadap arus pengiriman melalui Selat Hormuz. Bagi Indonesia sebagai pengimpor minyak, kenaikan harga energi dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing dan membatasi penguatan Rupiah.

Perhatian pasar selanjutnya beralih ke data ekonomi AS pada Kamis malam, termasuk Klaim Pengangguran Awal dan Indeks Manufaktur The Fed Philadelphia. Data tersebut dapat memengaruhi kembali ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve dan arah Dolar AS, sementara pergerakan imbal hasil Treasury serta harga minyak tetap menjadi faktor eksternal utama bagi Rupiah.

Indikator Ekonomi

Survei Manufaktur The Fed Philadelphia

Survei Manufaktur Fed Philadelphia adalah indeks penyebaran kondisi manufaktur (gerakan manufaktur) dalam Federal Reserve Bank of Philadelphia. Survei ini, disajikan sebagai indikator manufaktur tren sektor, yang terkait dengan manufaktur ISM Index (Institute for Supply Management) dan indeks produksi industri. Hal ini juga digunakan sebagai perkiraan Indeks ISM. Umumnya, pembacaan di atas harapan dipandang sebagai positif bagi USD.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Kam Agu 20, 2026 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 25

Sebelumnya: 41.4

Sumber: Federal Reserve Bank of Philadelphia

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.