USD/IDR: Rupiah Menguat ke Rp17.695 saat Minyak Turun, Cermati PCE AS
|- Kurs Rupiah menguat ke Rp17.695 per Dolar AS setelah libur Selasa, dibandingkan Rp17.705 pada Senin.
- Penurunan harga minyak dan imbal hasil obligasi Pemerintah AS membantu meredakan tekanan eksternal terhadap Rupiah.
- Pasar menunggu PCE inti AS malam ini, sementara dari domestik perhatian tertuju pada proses pencalonan Destry Damayanti dan aksi demonstrasi di Jakarta pada Kamis.
Rupiah Indonesia (IDR) menguat terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Rabu setelah pasar domestik libur pada Selasa, dengan pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp17.695, turun 10 poin dari Rp17.705 pada Senin. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI), di sisi lain, melemah menjadi Rp17.717 dari Rp17.703. Penguatan Rupiah terjadi ketika penurunan harga minyak dan imbal hasil obligasi Pemerintah AS meredakan sebagian tekanan eksternal, sementara investor menunggu data inflasi PCE AS malam ini.
Harga Minyak Turun, Imbal Hasil AS Mereda
Harga minyak melemah lebih dari 2% pada Rabu, dengan Brent bergerak di sekitar US$86,4 per barel. Penurunan terjadi setelah Iran dan Oman kembali membahas pengelolaan lalu lintas di Selat Hormuz, termasuk kemungkinan pembentukan koridor pelayaran sementara dan pembersihan ranjau. Perkembangan tersebut meningkatkan harapan terhadap perbaikan arus energi melalui jalur strategis itu, meski belum ada kesepakatan konkret. Harga minyak yang lebih rendah menjadi faktor yang relatif positif bagi Rupiah mengingat Indonesia sensitif terhadap kenaikan biaya impor energi.
Penurunan harga energi juga diikuti meredanya imbal hasil obligasi, dengan yield Treasury AS 10-tahun bergerak di sekitar 4,67% pada sesi Eropa. Ahli strategi OCBC Bank Sim Moh Siong dan Christopher Wong menilai kondisi tersebut membantu membentuk latar belakang makro yang lebih jinak. “Harga energi yang lebih rendah membantu menekan imbal hasil obligasi AS dan Eropa,” kata mereka. Meski demikian, OCBC menilai arah USD masih akan sangat dipengaruhi oleh prospek inflasi AS dan respons kebijakan Federal Reserve (The Fed).
BI Lanjutkan Rollover DNDF, Destry Jalani Uji Kelayakan
Dari dalam negeri, BI pada Rabu kembali melakukan perpanjangan transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) jual tenor satu bulan sebesar US$48 juta, dengan kurs DNDF ditetapkan pada JISDOR ditambah premi Rp47. Langkah tersebut melanjutkan operasi rollover sebesar US$52 juta pada Senin dan menjadi bagian dari operasi moneter BI di pasar valuta asing, tanpa serta-merta menunjukkan arah pergerakan Rupiah di pasar spot.
Perhatian pasar juga tertuju pada Destry Damayanti, calon tunggal Gubernur BI yang menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR pada Rabu. Destry mengatakan kebijakan BI akan tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja dengan tetap menjaga stabilitas keuangan. Ia juga menegaskan akan memperkuat upaya stabilisasi nilai tukar dan memastikan kecukupan likuiditas apabila ditetapkan sebagai Gubernur BI. Pernyataan tersebut menjadi perhatian pasar di tengah proses pergantian kepemimpinan bank sentral dan fokus investor terhadap kontinuitas kebijakan moneter.
Sentimen domestik berikutnya akan mencermati rencana aksi demonstrasi di kawasan DPR RI, Jakarta, pada Kamis. Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menyatakan aksinya akan berfokus pada dua tuntutan, yakni percepatan pengesahan RUU Perampasan Aset dan penerapan hukuman mati bagi koruptor. Aksi tersebut dapat menjadi perhatian terhadap sentimen aset Indonesia apabila memicu kekhawatiran terhadap stabilitas atau aktivitas ekonomi, meski kepolisian sejauh ini menyatakan kondisi Jakarta tetap aman dan kondusif.
PCE AS Menjadi Fokus Malam Ini
Perhatian pasar global selanjutnya beralih ke sejumlah data AS yang dirilis Rabu malam. PCE inti Juli diprakirakan naik 0,2% secara bulanan dari 0,1% sebelumnya dan bertahan di 3,3% secara tahunan, sementara pertumbuhan PDB AS kuartal kedua diprakirakan tetap sebesar 1,5% secara tahunan. Belanja pribadi diproyeksikan melambat menjadi 0,2% dari 0,3%, sedangkan pendapatan pribadi diprakirakan meningkat menjadi 0,3% dari 0,2%.
OCBC menilai inflasi PCE inti menjadi risiko peristiwa utama bagi pasar karena tekanan harga yang tetap membandel dapat menjaga risiko sikap hawkish The Fed, meskipun suku bunga diprakirakan tetap dipertahankan pada September. Setelah data tersebut, perhatian akan beralih ke pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole. Menurut OCBC, USD dapat kembali memperoleh dukungan apabila Warsh dan pejabat The Fed lainnya menegaskan komitmen untuk membawa inflasi kembali menuju target 2%.
Indikator Ekonomi
Belanja Konsumsi Perorangan Inti - Indeks Harga (Thn/Thn)
Belanja Konsumsi Perorangan (Personal Consumption Expenditures/PCE) Inti, yang dirilis oleh Biro Analisis Ekonomi, mengukur perubahan nilai semua barang dan jasa yang dibeli oleh penduduk AS pada periode tertentu, tidak termasuk komponen makanan dan energi yang lebih fluktuatif. Data triwulanan dirilis dalam laporan Produk Domestik Bruto (PDB) yang lebih luas. Data tersebut merupakan proksi untuk belanja konsumen, pendorong utama ekonomi AS. Secara umum, pembacaan yang tinggi dianggap sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dianggap sebagai bearish.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Agu 26, 2026 12.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 3.3%
Sebelumnya: 3.3%
Sumber: US Bureau of Economic Analysis
Setelah menerbitkan laporan PDB, Biro Analisis Ekonomi AS merilis data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) bersama dengan perubahan bulanan dalam Pengeluaran Pribadi dan Pendapatan Pribadi. Pembuat kebijakan FOMC menggunakan Indeks Harga PCE Inti tahunan, yang tidak termasuk harga makanan dan energi yang bergejolak, sebagai pengukur utama inflasi mereka. Pembacaan yang lebih kuat dari perkiraan dapat membantu USD mengungguli para pesaingnya karena akan mengisyaratkan kemungkinan pergeseran hawkish dalam panduan ke depan The Fed dan sebaliknya.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.