USD/IDR: Rupiah Menguat ke 17.600, Kerangka Damai AS-Iran Picu Risk-On
|- Rupiah menguat 0,49% ke 17.666,8 per Dolar AS pada perdagangan Senin siang.
- Dolar AS menyentuh level terendah sepuluh hari, sementara Brent anjlok lebih dari 4% setelah AS dan Iran mencapai kerangka perdamaian.
- Kenaikan suku bunga BI masih menopang Rupiah, tetapi pasar mulai mengalihkan perhatian ke keputusan The Fed dan RDG BI pekan ini.
Rupiah melanjutkan pemulihannya pada perdagangan Senin, 15 Juni 2026. Berdasarkan data hingga pukul 13.05 WIB, pasangan mata uang USD/IDR turun 87,2 poin atau 0,49% ke 17.666,8, dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.754.
Sepanjang sesi Asia, pasangan mata uang tersebut bergerak di rentang 17.652,4-17.870. Pergerakan menuju area 17.600 menunjukkan tekanan terhadap Rupiah mulai mereda setelah pekan lalu USD/IDR sempat menembus level tertinggi sepanjang masa mendekati 18.200.
Kesepakatan AS-Iran Tekan Dolar dan Minyak
Rupiah mendapat dorongan dari membaiknya sentimen pasar global setelah Amerika Serikat dan Iran mengumumkan kerangka perdamaian serta rencana membuka kembali Selat Hormuz. Kabar tersebut mengurangi minat terhadap aset aman dan mendorong investor kembali melirik mata uang berisiko, termasuk mata uang Asia.
Indeks Dolar AS (DXY) berada di sekitar 99,47 setelah menyentuh level terendah sejak 5 Juni. Harga minyak juga turun tajam, dengan WTI merosot 4,80% ke US$80,81 per barel dan Brent melemah 4,16% menjadi US$83,70. Meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan turut menguntungkan Rupiah karena dapat mengurangi tekanan pada biaya impor energi, inflasi, dan subsidi dalam negeri.
Pasar Menunggu The Fed dan RDG BI
Dari dalam negeri, Rupiah masih ditopang langkah Bank Indonesia yang menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% pada 9 Juni. Keputusan tersebut menyusul kenaikan 50 basis poin pada Mei dan menjadi bagian dari upaya BI menjaga stabilitas nilai tukar serta mengembalikan minat investor terhadap aset domestik.
JISDOR pada Jumat tercatat di 17.921 per Dolar AS, membaik dari 18.171 pada awal pekan lalu. Meski pergerakan Rupiah mulai lebih stabil, pasar masih menunggu RDG BI 17-18 Juni dan keputusan suku bunga The Fed pada Rabu untuk melihat apakah penguatan ini dapat bertahan.
Sebelum itu, perhatian akan tertuju pada Indeks Manufaktur Empire State AS untuk Juni yang dirilis pukul 19.30 WIB, disusul data produksi industri Mei pada pukul 20.15 WIB. Produksi industri diprakirakan tumbuh 0,2% secara bulanan, melambat dari 0,7% sebelumnya. Hasil yang lebih lemah dari prakiraan dapat menekan Dolar AS dan memberi ruang tambahan bagi Rupiah.
Dalam jangka pendek, pergerakan USD/IDR di bawah 17.700 membuka peluang menuju area 17.600-17.500. Namun, kerangka perdamaian AS-Iran masih bersifat awal dan baru dijadwalkan ditandatangani pada Jumat. Jika pelaksanaannya kembali diragukan, USD/IDR dapat berbalik naik ke kisaran 17.800-17.900.
Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko
Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.