USD/IDR: Rupiah Menguat di Akhir Pekan saat Dolar AS Turun Tiga Hari Beruntun
|- Rupiah menguat pada perdagangan Jumat, tetapi USD/IDR masih bertahan di atas level psikologis 18.000.
- DXY turun selama tiga hari berturut-turut ke sekitar 100,80 ketika pasar menilai prospek kenaikan suku bunga The Fed.
- MUFG menilai volatilitas Rupiah telah mereda, meski mata uang domestik tetap sensitif terhadap imbal hasil AS yang tinggi.
Kita akhirnya sampai di penghujung pekan. Nilai tukar Rupiah menguat pada perdagangan Jumat siang sesi Asia ketika Dolar AS melemah. Meski demikian, USD/IDR masih bertahan di atas level psikologis 18.000 ketika pasar tetap mencermati prospek kenaikan suku bunga The Fed.
Pasangan mata uang USD/IDR dibuka di 18.095,51 pada perdagangan Jumat dan sempat turun ke 18.050,54. Ketika dipantau pada Jumat siang waktu Indonesia, USD/IDR bergerak di sekitar 18.066.
Terendah harian di sekitar 18.050 menjadi support terdekat USD/IDR. Jika ditembus, pasangan mata uang ini dapat bergerak menuju 18.000, sedangkan area tertinggi harian 18.095-18.100 menjadi batas atas terdekat.
Dolar AS Turun Tiga Hari Beruntun, Pasar Menilai Prospek The Fed
Indeks Dolar AS (DXY) melanjutkan penurunan selama tiga hari berturut-turut ke sekitar 100,80. Pelemahan terjadi ketika pasar masih menilai prospek suku bunga Federal Reserve (The Fed), sementara harga minyak justru menguat tipis, dengan WTI di USD72,26 dan Brent di USD76,51 per barel.
Risalah rapat Juni menunjukkan para pejabat The Fed semakin mencemaskan inflasi dan tetap membuka peluang kenaikan suku bunga tahun ini, meski berbeda pendapat mengenai waktunya. Menurut CME FedWatch, pasar memprakirakan peluang kenaikan suku bunga sekitar 63,5% pada September dan 81,1% pada Desember 2026.
Presiden The Fed New York John Williams juga mengatakan inflasi AS masih “jauh terlalu tinggi”, sehingga risiko terhadap stabilitas harga tetap menjadi perhatian utama.
Sementara itu, klaim pengangguran awal AS turun menjadi 215 ribu pada pekan yang berakhir 4 Juli, lebih rendah dari prakiraan 218 ribu dan 217 ribu sebelumnya. Klaim lanjutan justru naik menjadi 1,814 juta.
MUFG: Rupiah Tetap Sensitif terhadap Imbal Hasil AS
Lloyd Chan dari MUFG menilai volatilitas Rupiah telah mereda setelah Bank Indonesia memperkuat langkah dukungan, termasuk melalui kenaikan suku bunga acuan dan imbal hasil SRBI yang lebih tinggi. Namun, ia menegaskan bahwa “Rupiah tetap sensitif terhadap imbal hasil AS yang lebih tinggi,” sementara latar belakang makro domestik dinilai agak kurang mendukung di tengah kontraksi manufaktur, pelemahan ekspor, defisit perdagangan, dan inflasi yang mendekati batas atas sasaran BI.
Bank Indonesia pada Kamis melaporkan penjualan eceran Indonesia masih tertekan pada Mei 2026. Indeks Penjualan Riil (IPR) tercatat sebesar 223,4 atau terkontraksi 3,9% secara tahunan (yoy), sedikit lebih dalam dibandingkan kontraksi 3,7% pada April.
Secara bulanan, penjualan turun 1,5% (mtm), tetapi membaik dari kontraksi 11,6% pada bulan sebelumnya.
Untuk Juni 2026, BI memprakirakan IPR turun ke 221,6 atau terkontraksi lebih dalam sebesar 4,4% yoy. Secara bulanan, penjualan diprakirakan turun 0,8%, lebih kecil dibandingkan penurunan 1,5% pada Mei, seiring dimulainya periode libur sekolah.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.