USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp17.895 saat DXY Menguat jelang PMI Jasa ISM AS
|- Kurs Rupiah ditutup melemah 27 poin atau sekitar 0,15% ke Rp17.895 per Dolar AS pada Senin, sementara JISDOR berada di Rp17.917.
- DXY menguat ke sekitar 102,33 ketika Euro tertekan kekhawatiran fiskal Prancis, meski data tenaga kerja AS yang lemah memangkas peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.
- Penurunan harga minyak membantu menahan tekanan terhadap Rupiah menjelang PMI Jasa ISM AS.
Rupiah Indonesia (IDR) ditutup melemah terhadap Dolar AS pada perdagangan Senin, 5 Oktober 2026, ke Rp17.895 per USD, turun 27 poin atau sekitar 0,15% dari penutupan Jumat di Rp17.868. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) tercatat di Rp17.917, dibandingkan Rp17.898 pada akhir pekan lalu. Penguatan Dolar AS kembali membayangi Rupiah, meski meredanya harga minyak dan berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober membantu membatasi pelemahan.
DXY Menguat meski NFP AS Mengecewakan
Indeks Dolar AS (DXY) bergerak di sekitar 102,33 dan sempat mencapai 102,53 pada Senin. Kenaikan Dolar terutama terjadi ketika Euro merosot ke level terendah 17 bulan akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan politik Prancis. Pelebaran selisih imbal hasil obligasi Prancis dan Jerman turut meningkatkan kehati-hatian terhadap aset Eropa dan menopang permintaan terhadap Dolar AS.
Namun, data tenaga kerja AS yang dirilis Jumat membatasi penguatan Dolar. Nonfarm Payrolls (NFP) September hanya bertambah 29.000, jauh di bawah prakiraan 90.000, sementara tingkat pengangguran naik menjadi 4,2%. Data tersebut memangkas ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober. Meski demikian, ekonom Deutsche Bank menilai gambaran pasar tenaga kerja secara keseluruhan masih relatif tangguh, terutama setelah mempertimbangkan data ADP dan Klaim Tunjangan Pengangguran terbaru. Tim ekonom AS bank tersebut tetap memprakirakan dua kenaikan suku bunga masing-masing 25 basis poin dalam beberapa kuartal mendatang, sehingga prospek kebijakan The Fed belum sepenuhnya beralih dovish.
Perbedaan antara ekspektasi pasar dan pandangan tersebut membuat arah kebijakan The Fed tetap menjadi sumber ketidakpastian bagi Rupiah. Imbal hasil Treasury AS yang masih tinggi turut mempertahankan daya tarik aset Dolar, meskipun data NFP terbaru menunjukkan pelemahan dalam penciptaan lapangan kerja.
Minyak Turun, BI Tetap Jaga Stabilitas Rupiah
Di sisi lain, harga minyak bergerak turun pada sesi Eropa, memberi sedikit ruang bagi Rupiah. WTI melemah 1,67% ke US$89,59 per barel, sedangkan Brent turun 1,14% ke US$101,08. Meskipun Brent masih bertahan di atas US$100, penurunan harga energi mengurangi sebagian kekhawatiran terhadap kebutuhan valas Indonesia untuk impor minyak.
Dari dalam negeri, BI sebelumnya menegaskan tetap konsisten melakukan stabilisasi nilai tukar dan intervensi spot sesuai dinamika pasar, disertai penggunaan DNDF dan NDF. Bank sentral juga memprakirakan kebutuhan valas domestik berpeluang berkurang pada kuartal IV setelah permintaan untuk impor dan repatriasi dividen biasanya mencapai puncak pada kuartal III. Sementara itu, data domestik pekan lalu masih menunjukkan PMI manufaktur berada di zona ekspansi, surplus perdagangan tetap terjaga, dan inflasi berada dalam sasaran BI.
Selanjutnya, pasar akan mencermati PMI Jasa ISM AS September pada Senin malam, 21:00 WIB, yang diprakirakan berada di sekitar 55 dari 55,4 sebelumnya. Data yang tetap kuat dapat kembali menopang Dolar dan imbal hasil Treasury, sementara angka yang lebih lemah berpotensi memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan Oktober.
USD/IDR Masih Tertahan di Bawah 17.932
Pada grafik harian ICE, USD/IDR berada di sekitar 17.898 dan masih tertahan di bawah resistance 17.932 (tertinggi 2 Oktober), setelah gagal mempertahankan pergerakan mendekati level psikologis 18.000. Jika kembali menguat, pasangan mata uang ini dapat menguji 18.000, kemudian batas atas Bollinger Band di sekitar 18.069 dan resistance 18.090 (tertinggi 30 Juli). Relative Strength Index (RSI) berada di 56,06, sedikit di bawah garis sinyal 57,84 dan masih jauh dari wilayah overbought, menunjukkan momentum kenaikan USD/IDR mulai melandai tetapi belum sepenuhnya hilang.
Di sisi bawah, support terdekat berada di 17.860 (terendah 30 September), disusul 17.795 (terendah 23 September) dan area garis tengah Bollinger Band di sekitar 17.781. Penembusan area tersebut dapat membawa USD/IDR menuju MA 100 di sekitar 17.729, sebelum support berikutnya di 17.685 (terendah 28 Agustus). Selama pasangan mata uang ini masih bertahan di atas area 17.781–17.729, tekanan turun USD/IDR belum memperoleh konfirmasi yang lebih kuat.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.