USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp17.890, IKK Turun di Tengah Lonjakan Harga Minyak
|- Kurs Rupiah melemah tipis 15 poin atau 0,08% ke Rp17.890 per USD pada Kamis, setelah menguat dalam dua sesi perdagangan sebelumnya.
- Keyakinan konsumen Indonesia turun menjadi 118,1 dan pertumbuhan penjualan mobil melambat, sementara penjualan sepeda motor melonjak 15,37% secara tahunan.
- Minyak Brent melonjak lebih dari 4% ke US$104,28 per barel, sementara Dolar AS tetap kuat setelah risalah The Fed membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan tahun ini.
Rupiah Indonesia (IDR) ditutup melemah tipis terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026, ke Rp17.890 per USD, turun 15 poin atau sekitar 0,08% dari penutupan Rabu di Rp17.875. Pelemahan ini mengakhiri penguatan Rupiah selama dua sesi berturut-turut, di tengah lonjakan harga minyak dunia dan Dolar AS yang tetap kuat. Di dalam negeri, sejumlah data ekonomi terbaru menunjukkan kondisi konsumsi yang beragam, dengan keyakinan konsumen menurun meski penjualan kendaraan masih tumbuh secara tahunan.
Keyakinan Konsumen Turun Tipis, Penjualan Motor Justru Melonjak
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia turun menjadi 118,1 pada September dari 118,5 pada Agustus, tetapi masih berada di zona optimistis. Di sektor otomotif, pertumbuhan penjualan mobil melambat menjadi 28,1% secara tahunan (YoY) dari 32,4%, sementara penjualan sepeda motor justru melonjak menjadi 15,37% dari 3,18% pada bulan sebelumnya. Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penjualan motor mencapai 654.343 unit pada September, mencatat pertumbuhan tahunan tertinggi dalam empat bulan. Perbedaan kinerja tersebut menunjukkan bahwa permintaan domestik masih tumbuh, meski belum merata.
Cadangan devisa Indonesia yang relatif tinggi masih menjadi salah satu penopang ketahanan eksternal. Bank Indonesia (BI) pada Rabu melaporkan cadangan devisa September sebesar US$146,3 miliar, turun tipis dari US$146,5 miliar pada Agustus. Penurunan tersebut antara lain dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah dan langkah stabilisasi Rupiah, meskipun terdapat penerimaan pemerintah serta penarikan pinjaman luar negeri. Posisi cadangan devisa masih setara 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, melampaui standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Pemerintah juga mengumumkan program hilirisasi senilai US$10,2 miliar di kawasan industri Weda Bay, Maluku Utara. Program tersebut berpotensi mendorong investasi dan meningkatkan penerimaan ekspor Indonesia dalam jangka panjang, meski belum memberikan dampak langsung yang terukur terhadap pergerakan Rupiah.
Minyak Melonjak, Dolar AS Bertahan Kuat setelah Risalah The Fed
Lonjakan harga minyak dunia kembali membayangi Rupiah setelah Brent naik 4,07% menjadi US$104,28 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak 4,18% ke US$91,97. Kenaikan tajam tersebut dipicu kekhawatiran gangguan pasokan menyusul serangan terhadap kapal-kapal di kawasan Teluk dan Selat Hormuz. Risiko gangguan pasokan kian membesar setelah muncul ancaman badai terhadap fasilitas produksi minyak di Teluk Meksiko. Bagi Indonesia yang berstatus sebagai importir neto minyak, melambungnya harga energi global berpotensi memperbesar kebutuhan devisa impor sekaligus meningkatkan tekanan inflasi domestik.
Indeks Dolar AS (DXY) bertahan kokoh di kisaran 102,35, mendekati level tertinggi dalam 18 bulan. Penguatan ini turut ditopang oleh risalah rapat Federal Reserve (The Fed) pada 15–16 September yang dirilis Rabu, di mana mayoritas pejabat menilai kenaikan suku bunga lanjutan masih diperlukan sebelum akhir tahun demi meredam inflasi.
Meski demikian, Anggota Dewan Gubernur The Fed, Christopher Waller, pada Kamis memberi sinyal bahwa pengetatan berikutnya tidak perlu dilakukan secara terburu-buru. Waller menegaskan bahwa pengetatan tetap dibutuhkan jika perkembangan ekonomi sesuai proyeksi, namun "kenaikan suku bunga tidak harus dilakukan pada pertemuan berturut-turut." Pernyataan ini memperbesar peluang The Fed untuk menahan suku bunga pada pertemuan terdekat, sekaligus menjaga opsi kenaikan pada Desember tetap terbuka.
Selanjutnya, pasar menunggu data Penjualan Ritel Indonesia periode Agustus pada Jumat, setelah tumbuh 1,1% secara tahunan pada Juli. Data ini akan memberikan gambaran tambahan mengenai kondisi konsumsi rumah tangga. Dari AS, investor akan mencermati klaim tunjangan pengangguran awal pada Kamis malam, yang diprakirakan meningkat menjadi 200 ribu dari 197 ribu, serta pidato Pejabat The Fed, Neel Kashkari dan Alberto Musalem. Kombinasi data ketenagakerjaan serta sinyal dari The Fed tersebut berpotensi menjadi penggerak utama Dolar AS sekaligus menentukan arah pergerakan USD/IDR menjelang akhir pekan.
USD/IDR Masih Bergerak Terbatas di Rentang 17.860–17.932
Dari perspektif teknis, grafik harian menunjukkan pasangan mata uang USD/IDR masih bergerak sideways di kisaran 17.860–17.932 setelah kenaikan pada akhir September tertahan di dekat level psikologis 18.000. Pasangan mata uang ini berada di sekitar 17.895, masih di atas garis tengah Bollinger Band di 17.832. Relative Strength Index (RSI) berada di 55,20, turun di bawah garis sinyalnya di 58,70, menunjukkan momentum kenaikan USD/IDR mulai melemah meski belum berbalik bearish. Resistance terdekat berada di 17.932 (tertinggi 2 Oktober), disusul level psikologis 18.000 yang berimpit dengan garis tren menurun. Penembusan area tersebut dapat membuka peluang kenaikan menuju batas atas Bollinger Band di sekitar 18.050 dan resistance 18.090 (tertinggi 28 Juli).
Di sisi bawah, support terdekat berada di 17.860 (terendah 30 September). Jika level tersebut ditembus, USD/IDR berpotensi turun menuju garis tengah Bollinger Band di sekitar 17.832, kemudian 17.795 (terendah 23 September). Penurunan lebih lanjut dapat membawa pasangan mata uang ini mendekati Moving Average (MA) 100-hari di sekitar 17.739, sebelum support berikutnya di 17.685 (terendah 28 Agustus). Selama USD/IDR belum menembus batas 17.860–17.932 secara meyakinkan, pergerakan dalam rentang tersebut masih menjadi skenario utama.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.