fxs_header_sponsor_anchor

Berita

USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp17.865, Minyak Naik Jelang IHK AS

  • Rupiah ditutup melemah 35 poin ke Rp17.865 per Dolar AS pada perdagangan Rabu.
  • Kenaikan harga minyak kembali menekan Rupiah dan mata uang Asia dari negara pengimpor minyak.
  • DXY masih bergerak sideways di bawah 100 ketika pasar menunggu IHK AS malam ini.

Rupiah Indonesia (IDR) berbalik melemah pada perdagangan Rabu dan ditutup di Rp17.865 per Dolar AS (USD), membawa pasangan mata uang USD/IDR naik 35 poin dari penutupan Selasa di Rp17.830. Tekanan datang dari kenaikan harga minyak yang kembali membebani mata uang Asia dari negara pengimpor minyak, sementara pelaku pasar bersikap hati-hati menjelang data Indeks Harga Konsumen (IHK atau CPI) AS malam ini.

Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia turut naik ke Rp17.876 per Dolar AS dari Rp17.824 sehari sebelumnya. Di sisi lain, Dolar AS belum menunjukkan penguatan yang berarti, dengan Indeks Dolar AS (DXY) masih bergerak sideways di bawah level 100. Kondisi tersebut membuat kenaikan minyak menjadi salah satu faktor yang lebih menonjol dalam tekanan terhadap Rupiah hari ini.

Kenaikan Minyak Kembali Menekan Rupiah dan Valas Asia

Sim Moh Siong dan Christopher Wong dari OCBC mencatat bahwa valas Asia bergerak lebih lemah, dengan Peso Filipina memimpin penurunan sementara Rupee India, Rupiah Indonesia, dan Baht Thailand turut tertekan akibat rebound harga minyak. Mereka menilai pelemahan terbaru menunjukkan bahwa dukungan yang sebelumnya datang dari harga minyak yang lebih rendah masih rapuh.

Menurut OCBC, “bagi pengimpor minyak bersih seperti India, Indonesia, Filipina dan Thailand, penguatan minyak dapat memperburuk terms of trade, menambah inflasi impor dan membebani neraca eksternal.” Kondisi tersebut membuat mata uang negara-negara itu lebih rentan ketika harga minyak kembali naik. Minyak mentah telah pulih tajam dalam dua sesi terakhir setelah optimisme mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz dengan cepat mulai memudar, sementara ketidakpastian mengenai kesepakatan dengan Iran masih berlanjut.

IHK AS Menjadi Risiko Berikutnya bagi Rupiah

Dolar AS sejauh ini belum mendapat dorongan berarti dari data ekonomi terbaru dan masih bertahan di bawah level psikologis 100. Perhatian pasar kini beralih ke IHK AS Juli yang akan dirilis Rabu malam karena dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga Federal Reserve (The Fed), imbal hasil Treasury AS, dan arah Dolar.

IHK utama diprakirakan naik 0,1% secara bulanan setelah turun 0,4% pada Juni, sementara inflasi tahunan diprakirakan melambat menjadi 3,4% dari 3,5%. IHK inti diprakirakan meningkat 0,2% secara bulanan dan melambat menjadi 2,5% secara tahunan dari 2,6%. Inflasi yang lebih tinggi dari prakiraan dapat memperkuat kembali ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan menopang Dolar, sedangkan angka yang lebih rendah berpotensi kembali menekan USD.

OCBC Masih Melihat Bias Turun USD/IDR

Dalam jangka pendek, OCBC menilai IHK AS dan pergerakan harga minyak tetap menjadi risiko penting bagi Rupiah. Meski tekanan dari minyak kembali muncul, Sim dan Wong masih melihat bias USD/IDR cenderung ke bawah. “Momentum bearish pada grafik harian masih utuh,” tulis mereka, dengan bearish crossover terbentuk setelah MA 21-hari turun melewati MA 50-hari.

Support USD/IDR berada di 17.680, kemudian 17.620 (Fibonacci retracement 38,2% dari rentang terendah–tertinggi 2026) dan 17.580 (MA 100-hari). Sementara itu, resistance berada di 17.840 (Fibonacci 23,6%) dan 17.950–17.970 (MA 21-hari dan MA 50-hari).

Indikator Ekonomi

Indeks Harga Konsumen (Thn/Thn)

Kecenderungan inflasi atau deflasi diukur dengan menjumlahkan harga sekeranjang barang dan jasa secara berkala dan menyajikan datanya sebagai Indeks Harga Konsumen (IHK). Data IHK dikumpulkan setiap bulan dan dirilis oleh Departemen Statistik Tenaga Kerja AS. Laporan bulanan ini membandingkan harga barang-barang pada bulan referensi dengan bulan sebelumnya. IHK Tidak termasuk Makanan & Energi tidak menyertakan komponen makanan dan energi yang lebih fluktuatif untuk memberikan pengukuran tekanan harga yang lebih akurat. Secara umum, angka yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sedangkan angka yang rendah dianggap sebagai bearish.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Rab Agu 12, 2026 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 3.4%

Sebelumnya: 3.5%

Sumber: US Bureau of Labor Statistics

Federal Reserve AS (The Fed) memiliki mandat ganda untuk menjaga stabilitas harga dan lapangan kerja maksimum. Menurut mandat tersebut, inflasi seharusnya berada di sekitar 2% YoY dan telah menjadi pilar terlemah dari arahan bank sentral sejak dunia mengalami pandemi, yang berlanjut hingga saat ini. Tekanan harga terus meningkat di tengah masalah rantai pasokan dan kemacetan, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) bertahan di level tertinggi multi-dekade. The Fed telah mengambil langkah-langkah untuk mengekang inflasi dan diprakirakan akan mempertahankan sikap agresif di masa mendatang.

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.