USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp17.850 saat Minyak dan Imbal Hasil AS Naik Jelang BI
|- Kurs Rupiah melemah 30 poin dan ditutup di Rp17.850 per Dolar AS pada Selasa setelah pasar domestik kembali beraktivitas usai libur Hari Kemerdekaan.
- Harga WTI dan Brent menguat, sementara imbal hasil Treasury AS jangka panjang naik di tengah kekhawatiran inflasi dan fiskal.
- ULN Indonesia tumbuh 4,4% pada kuartal II, sementara pasar menanti keputusan suku bunga Bank Indonesia pada Rabu.
Rupiah Indonesia (IDR) melemah terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Selasa dan ditutup di Rp17.850 setelah pasar domestik kembali beraktivitas usai libur Hari Kemerdekaan pada Senin. Pasangan mata uang USD/IDR menguat 30 poin dari penutupan pasar domestik Jumat di Rp17.820, ketika kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS membebani Rupiah. Tekanan tersebut berlangsung meski Dolar AS hanya menguat terbatas karena pasar mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia ditetapkan di Rp17.856 per Dolar AS pada Selasa, naik 20 poin dari Rp17.836 pada Jumat. Dari dalam negeri, pasar menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia 18–19 Agustus, sementara data yang dirilis Selasa menunjukkan utang luar negeri (ULN) Indonesia tumbuh pada kuartal II 2026.
Minyak dan Imbal Hasil Treasury AS Membebani Rupiah
Harga minyak melanjutkan kenaikan ketika prospek tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah kembali meredup. Iran menyatakan akan beralih ke sikap militer yang lebih ofensif setelah upaya mencapai kesepakatan permanen tersendat, sementara AS menolak memperpanjang gencatan senjata sementara. Kondisi tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi, terutama ketika aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih terbatas. Pada sekitar pukul 15.15 WIB, WTI naik 0,97% ke US$85,32 per barel, sedangkan Brent menguat 0,52% ke US$91,34 per barel.
Tekanan eksternal juga datang dari pasar obligasi AS. Imbal hasil Treasury AS 10-tahun naik ke sekitar 4,74%, sedangkan tenor 30-tahun mencapai 5,32%, dekat level tertinggi sejak 2007. Kenaikan imbal hasil berlangsung di tengah kekhawatiran bahwa harga minyak yang tinggi dapat menambah tekanan inflasi, disertai perhatian terhadap belanja fiskal dan meningkatnya penerbitan utang AS. Di sisi lain, Indeks Dolar AS (DXY) bergerak terbatas di sekitar 99,6. Pasar juga memangkas peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September berdasarkan CME FeWatch Tool menjadi sekitar 36,6% dari sekitar 48,4% sepekan sebelumnya, sehingga membatasi penguatan Dolar AS.
ULN Indonesia Tumbuh 4,4% pada Kuartal II
Di dalam negeri, Bank Indonesia melaporkan posisi ULN Indonesia mencapai US$453,4 miliar pada kuartal II 2026, tumbuh 4,4% secara tahunan. Kenaikan terutama berasal dari ULN sektor publik, sementara ULN swasta masih terkontraksi. ULN pemerintah tercatat sebesar US$216,3 miliar, tumbuh 2,9%, sedangkan ULN swasta sebesar US$194,6 miliar atau terkontraksi 0,6%.
BI menyebut peningkatan ULN bank sentral terutama didorong oleh kenaikan kepemilikan nonresiden pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Secara keseluruhan, rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat 30,6%, sementara utang jangka panjang mencapai 82,1% dari total ULN.
Pasar Tunggu Keputusan Suku Bunga BI
Perhatian pasar berikutnya tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia pada Rabu. Elias Haddad dari Brown Brothers Harriman (BBH) memprakirakan BI akan mempertahankan BI-Rate di 5,75% untuk pertemuan kedua berturut-turut setelah menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 basis poin sejak Mei. Meredanya tekanan terhadap Rupiah dan inflasi yang masih berada dalam kisaran sasaran BI dinilai memberi ruang bagi bank sentral untuk kembali menahan kebijakan.
“BI dapat menahan diri setelah memberikan pengetatan sebesar 100 basis poin sejak Mei,” ujar Haddad. Ia menambahkan bahwa pelemahan Rupiah telah mereda dan inflasi tetap berada dalam kisaran target BI 1,5%–3,5%. Pertemuan pekan ini juga menjadi RDG pertama di bawah kepemimpinan sementara Destry Damayanti, yang saat ini menjabat Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia. Dengan harga minyak dan imbal hasil Treasury AS yang masih tinggi, perhatian pasar akan tertuju pada sinyal BI terkait stabilitas nilai tukar setelah keputusan suku bunga diumumkan.
Indikator Ekonomi
Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia
Keputusan Tingkat Suku Bunga diumumkan oleh Bank Indonesia. Kebijakan Moneter mengacu pada tindakan yang dilakukan oleh otoritas moneter suatu negara, bank sentral atau pemerintah untuk mencapai tujuan tertentu dalam ekonomi nasional. Hal ini didasarkan pada hubungan antara suku bunga di mana uang dapat dipinjam dan pasokan total uang.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Agu 19, 2026 07.30
Frekuensi: Tidak teratur
Konsensus: 5.75%
Sebelumnya: 5.75%
Sumber: Bank Indonesia
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.