USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp17.750 saat Dolar dan Imbal Hasil AS Naik, Minyak Dekati US$95 jelang ADP AS
|- Kurs Rupiah melemah 40 poin ke Rp17.750 per Dolar AS pada Rabu, dari Rp17.710 pada Selasa, sementara JISDOR BI turun ke Rp17.770.
- Dolar AS mendekati 100 dan imbal hasil Treasury AS 10 tahun mencapai 4,81%, ketika pasar meningkatkan taruhan kenaikan suku bunga The Fed pada September.
- Harga minyak tetap tinggi di dekat US$95 per barel akibat meningkatnya ketegangan AS–Iran, sementara perhatian berikutnya beralih ke data tenaga kerja ADP AS malam ini.
Rupiah Indonesia (IDR) melemah terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Rabu, dengan pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp17.750, naik 40 poin dari Rp17.710 pada Selasa. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) juga bergerak lebih tinggi ke Rp17.770 dari Rp17.727. Tekanan terhadap Rupiah datang dari penguatan Dolar AS dan imbal hasil Treasury, sementara harga minyak tetap tinggi di tengah ketegangan AS–Iran. Dari dalam negeri, pasar masih mencerna kenaikan inflasi Agustus dan surplus perdagangan Juli, sekaligus mencermati transisi kepemimpinan BI di bawah Destry Damayanti. Perhatian selanjutnya beralih ke data tenaga kerja AS, termasuk laporan ADP menjelang Nonfarm Payrolls pada Jumat.
Dolar Mendekati 100, Imbal Hasil Treasury Sentuh 4,81%
Dolar AS tetap bertahan dekat tertinggi pertengahan Agustus, kini di sekitar 99,78 meskipun sejumlah data ekonomi AS yang dirilis Selasa berada lebih lemah dari prakiraan. PMI Manufaktur ISM turun menjadi 54,6 pada Agustus dari 55,6 dan meleset dari konsensus 55,2, sementara lowongan pekerjaan JOLTS mencapai 7,271 juta, sedikit di bawah prakiraan 7,3 juta. Indeks pesanan baru dan ketenagakerjaan manufaktur juga melemah, masing-masing menjadi 53,7 dan 51,2. Namun, tekanan dari kenaikan harga minyak dan ketegangan geopolitik membuat pasar tetap berhati-hati terhadap prospek inflasi dan kebijakan The Fed.
Brent bertahan di dekat US$95 per barel setelah sempat melonjak hingga US$97,04, sementara WTI berada di sekitar US$90. Ketegangan AS–Iran kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah dan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz. Meski aliran minyak melalui selat tersebut menunjukkan tanda pemulihan, perkembangan konflik membuat harga minyak tetap berfluktuasi tajam.
Inflasi Naik, Surplus Perdagangan Kembali Tercatat
Dari dalam negeri, pasar masih mencerna data inflasi Indonesia yang dirilis Selasa. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan naik menjadi 3,19% pada Agustus dari 2,88% pada Juli, sedangkan inflasi bulanan tercatat 0,21%. Inflasi inti mencapai 2,92% secara tahunan. Kenaikan tekanan harga menjadi perhatian ketika lonjakan minyak global berpotensi menambah risiko inflasi melalui biaya energi dan impor.
Pada saat yang sama, Indonesia kembali membukukan surplus perdagangan sebesar US$121,9 juta atau sekitar US$0,12 miliar pada Juli, setelah mengalami defisit US$450,5 juta pada Juni. Ekspor mencapai US$26,22 miliar, naik 6,05% secara tahunan, sementara impor meningkat 27,02% menjadi US$26,09 miliar. Secara kumulatif, surplus perdagangan Januari–Juli mencapai US$3,70 miliar.
Perhatian domestik pada Rabu juga tertuju pada Destry Damayanti, yang resmi dilantik dan mengucapkan sumpah jabatan sebagai Gubernur BI periode 2026–2031 di Mahkamah Agung. Pada kesempatan yang sama, Aida S. Budiman juga dilantik sebagai Deputi Gubernur Senior BI.
Pasar Menunggu Data ADP AS
Selanjutnya, perhatian pasar beralih ke laporan ketenagakerjaan ADP AS untuk Agustus yang akan dirilis Rabu malam. Konsensus memprakirakan sektor swasta menambah sekitar 47.000 pekerjaan, setelah bertambah 44.000 pada Juli. Data tersebut akan menjadi petunjuk awal mengenai kondisi pasar tenaga kerja menjelang laporan Nonfarm Payrolls (NFP) AS pada Jumat, yang berpotensi memengaruhi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan arah Dolar AS berikutnya.
Indikator Ekonomi
Perubahan Ketenagakerjaan ADP
Perubahan Ketenagakerjaan ADP merupakan pengukur ketenagakerjaan di sektor swasta yang dirilis oleh pemroses payrolls terbesar di AS, Automatic Data Processing Inc. Alat ini mengukur perubahan jumlah orang yang bekerja secara swasta di AS. Secara umum, kenaikan indikator ini memiliki implikasi positif bagi belanja konsumen dan merupakan stimulator pertumbuhan ekonomi. Jadi, pembacaan yang tinggi secara tradisional dianggap sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dianggap bearish.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Sep 02, 2026 12.15
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 47Rb
Sebelumnya: 44Rb
Sumber: ADP Research Institute
Pedagang sering mempertimbangkan data ketenagakerjaan dari ADP, penyedia payrolls terbesar di Amerika ini, melaporkan sebagai pertanda dari rilis Biro Statistik Tenaga Kerja tentang Nonfarm Payrolls (biasanya diterbitkan dua hari kemudian), karena korelasi antara keduanya. Terjadinya tumpang tindih kedua seri tersebut cukup tinggi, tetapi pada bulan-bulan tertentu, perbedaannya bisa sangat besar. Alasan lain pedagang Valas mengikuti laporan ini sama dengan NFP – pertumbuhan angka ketenagakerjaan yang kuat dan terus-menerus meningkatkan tekanan inflasi, dan bersamaan dengan itu, kemungkinan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga. Angka aktual yang mengalahkan konsensus cenderung membuat USD bullish.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.