USD/IDR: Rupiah Melemah Dekati 18.000, Risiko MSCI dan Dolar AS Menekan
|- Rupiah turun 0,49% dan kembali mendekati level psikologis 18.000.
- MSCI memperpanjang evaluasi Indonesia hingga November 2026.
- Dolar AS melonjak ke level tertinggi dalam setahun usai data AS yang kuat dan menjelang data PCE.
Rupiah Indonesia (IDR) melemah terhadap Dolar AS pada akhir sesi Asia, Rabu. USD/IDR naik 87 poin atau 0,49% ke 17.950 pada saat berita ini ditulis, setelah dibuka di 17.863 dan bergerak dalam rentang 105 poin antara 17.850 dan 17.955. Tekanan tersebut kembali membawa mata uang Garuda mendekati level psikologis 18.000 per Dolar AS.
Mata uang Garuda kini melemah selama dua hari berturut-turut dan menghapus sebagian pemulihan yang terbentuk setelah USD/IDR menyentuh rekor di dekat 18.200. Pasangan mata uang ini berbalik naik dari level terendah awal pekan lalu di 17.690, yang tercapai setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga darurat 9 Juni lalu.
MSCI Hanya Memberi Kelonggaran Sementara
Sentimen terhadap Rupiah ikut terbebani setelah MSCI memperpanjang evaluasi Indonesia hingga November 2026. Ketidakpastian mengenai status pasar Indonesia berpotensi menahan aliran dana asing ke saham domestik dan menjaga permintaan terhadap Dolar AS. Indonesia masih menghadapi risiko konsultasi penurunan status ke frontier market bila reformasi dinilai belum memadai.
Mohit Mirpuri, fund manager di SGMC Capital, mengatakan, "Risiko penurunan peringkat bukan dihilangkan, tapi telah ditunda," katanya. Tan Altundag dari Pictet Asset Management menambahkan kepada Reuters, bertahannya Indonesia dalam kelompok emerging market "belum cukup untuk memulihkan kepercayaan atau membalikkan arus keluar modal".
Dolar Melonjak, Pasar Menunggu PCE
Tekanan eksternal datang dari Indeks Dolar AS (DXY), yang melonjak ke 101,47 dan menyentuh level tertinggi dalam setahun setelah menembus batas atas kisaran jangka panjang 96,00-100,00. Data AS menunjukkan perubahan ketenagakerjaan ADP rata-rata empat pekan naik menjadi 30.750 dari 26.500. PMI gabungan S&P Global menguat ke 52,2 dari 51,5, sementara PMI jasa naik ke 51,3 dan PMI manufaktur melonjak ke 55,7, melampaui prakiraan 54,8.
Penurunan harga minyak memberi sedikit penahan bagi Rupiah. WTI turun ke sekitar US$72,67 dan Brent ke US$76,44 per barel karena pasar semakin yakin arus energi melalui Selat Hormuz akan pulih bertahap. Sejumlah kapal tanker mulai keluar dari Teluk, sedangkan pengecualian sanksi AS selama 60 hari membuka jalan bagi Iran untuk kembali menjual minyak.
Fokus pasar berikutnya tertuju pada data PCE AS, Kamis pukul 19.30 WIB. Inflasi utama diprakirakan naik 0,5% secara bulanan dan 4,0% secara tahunan, sementara PCE inti diprakirakan meningkat masing-masing ke 0,3% dan 3,4%. Hasil yang sesuai atau melampaui prakiraan dapat mempertahankan dorongan Dolar AS dan membawa USD/IDR kembali menguji 18.000.
Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko
Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.