USD/IDR: Rupiah Melemah Dekati 18.000, Arus Asing Belum Cukup Kuat
|- Rupiah melemah ke 17.935 per Dolar AS, masih bertahan di bawah level 18.000.
- Arus asing mulai kembali ke SRBI dan SBN, namun pemulihannya belum merata.
- Pasar menanti lelang SBSN, inflasi Indonesia, serta data tenaga kerja AS.
Rupiah Indonesia (IDR) kembali melemah terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Selasa, ketika pasar masih menilai seberapa kuat arus asing mampu menopang aset domestik setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga dalam beberapa pekan terakhir.
Pasangan mata uang USD/IDR naik sekitar 113 poin ke 17.935 pada saat berita ini ditulis, setelah dibuka di 17.833 dan bergerak dalam rentang 17.833-17.956 pada awal sesi Asia. JISDOR BI terakhir berada di 17.856.
Arus Asing Mulai Kembali, tetapi Belum Merata
BI mencatat aliran masuk sekitar US$9 miliar ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) sepanjang tahun ini. Namun, BNY menilai pemulihan tersebut belum sepenuhnya menjalar ke pasar obligasi pemerintah.
"Sejak akhir Mei, beberapa divergensi mulai muncul. Arus valas telah stabil meskipun arus obligasi IDR terus memburuk," kata Kepala Strategi Makro EMEA BNY, Geoff Yu.
Menurut Yu, tekanan jual terhadap Rupiah mulai mereda seiring berkurangnya aksi pelepasan posisi di pasar valas. Namun, kehati-hatian investor masih terlihat di pasar saham. Reuters mencatat IHSG berada di jalur mencatat kinerja Juni terburuk sejak 2015.
Lelang delapan seri Surat Berharga Syariah Negara menjadi agenda terdekat yang dicermati pasar. Pemerintah menetapkan target indikatif Rp10 triliun, sementara besarnya penawaran dan imbal hasil yang diminta investor akan memberi gambaran terbaru mengenai minat terhadap surat utang domestik.
Pasar Tunggu Inflasi Indonesia dan JOLTS AS
Perhatian pasar selanjutnya akan beralih ke data ekonomi Indonesia yang akan dirilis Rabu. Inflasi Juni diprakirakan naik menjadi 3,20% dari 3,08% pada Mei, sementara surplus neraca perdagangan diproyeksikan membaik menjadi US$1,1 miliar.
Dari eksternal, investor menantikan data lowongan kerja JOLTS dan kepercayaan konsumen AS malam ini, menjelang laporan tenaga kerja Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat. JOLTS diprakirakan turun menjadi 7,3 juta dari 7,618 juta pada bulan sebelumnya. Angka yang melampaui prakiraan berpotensi menjaga Dolar AS tetap kuat dan membuat Rupiah sulit menjauh dari 18.000.
Indikator Ekonomi
Lowongan Pekerjaan JOLTS
Lowongan Pekerjaan JOLTS adalah survei yang dilakukan oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS untuk membantu mengukur lowongan pekerjaan. Mengumpulkan data dari sejumlah pengusaha termasuk pengecer, produsen dan kantor-kantor yang berbeda setiap bulan.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Sel Jun 30, 2026 14.00
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 7.3Jt
Sebelumnya: 7.618Jt
Sumber: US Bureau of Labor Statistics
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.