fxs_header_sponsor_anchor

Berita

USD/IDR: Rupiah Masih Uji Rp18.000, Penjualan Ritel Indonesia Anjlok, Pasar Tunggu Data PPI AS

  • Rupiah bergerak di sekitar Rp17.957 per Dolar AS pada Kamis, melemah 116 poin atau 0,65%.
  • Kurs transaksi BI menunjukkan titik tengah USD sekitar Rp17.971, dengan kurs jual Rp18.060,85.
  • Data domestik melemah, sementara pasar menunggu rilis IHP (PPI) AS sebagai petunjuk arah kebijakan The Fed.

Rupiah masih berusaha mempertahankan pemulihan pasca kenaikan suku bunga Bank Indonesia, meski USD/IDR kembali menguji level psikologis 18.000 pada Kamis. Mata uang domestik berada di sekitar Rp17.957 per Dolar AS, melemah 116 poin atau 0,65%. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar masih mencermati efektivitas langkah BI dalam menopang stabilitas rupiah di tengah tekanan yang ada.

Kurs transaksi Bank Indonesia memperlihatkan batas tersebut masih rapuh. Kurs jual USD berada di Rp18.060,85, sementara kurs beli berada di Rp17.881,15, dengan titik tengah sekitar Rp17.971 per Dolar AS. Di pasar obligasi, yield SUN 10 tahun di kisaran 7,48% tetap menjaga daya tarik imbal hasil aset Rupiah, tetapi selama kurs belum stabil, level tersebut lebih mencerminkan kompensasi risiko daripada sinyal pemulihan yang solid.

Data Domestik Belum Memberi Bantalan Kuat

Dari dalam negeri, data terbaru belum banyak membantu sentimen Rupiah. Penjualan ritel April turun 3,7% secara tahunan setelah sebelumnya naik 3,4%, menandakan konsumsi mulai kehilangan momentum. Penjualan mobil Mei juga melambat ke 14,0% dari 55,0%, sementara Indeks Keyakinan Konsumen turun ke 120,9 dari 123,0 meski masih berada di zona optimistis.

Kombinasi data tersebut menunjukkan daya beli masih bertahan, tetapi semakin selektif. Karena itu, Rupiah tetap membutuhkan dukungan dari stabilitas kebijakan, arus modal, dan pelemahan Dolar AS untuk memperkuat pemulihannya.

BI Perketat Kebijakan, tetapi Ujian Kredibilitas Belum Selesai

Kenaikan suku bunga darurat Bank Indonesia sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% menegaskan fokus pada stabilitas Rupiah. Charlie Lay dari Commerzbank menilai langkah ini memperkuat strategi BI melalui suku bunga yang lebih tinggi dan intervensi valas.

Meski demikian, pasar masih mencermati arah kebijakan, prospek peringkat, dan cadangan devisa yang turun ke USD145 miliar pada Mei. Jika tekanan terhadap Rupiah berlanjut, peluang kenaikan suku bunga tambahan tetap terbuka.

Barclays bahkan melihat ruang kenaikan suku bunga lagi pada RDG pekan depan. Sementara itu, Elias Haddad dari BBH dan Josua Pardede dari Permata Bank menilai suku bunga yang lebih tinggi dapat membantu menopang Rupiah, meski stabilisasi kurs tetap membutuhkan kredibilitas fiskal, kepastian regulasi, dan komunikasi kebijakan yang kuat.

Pemerintah Jaga Kepercayaan, Pasar Tetap Cermati Risiko Energi

Pemerintah berupaya memperkuat koordinasi antara Kementerian Keuangan, BI, dan OJK untuk menjaga kepercayaan investor. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menolak pandangan bahwa pelemahan Rupiah mencerminkan buruknya kondisi fiskal, dan menyebut tekanan kurs lebih banyak dipengaruhi sentimen serta rumor pasar. Ia menegaskan fokus pemerintah tetap pada penguatan fondasi ekonomi, sementara kebijakan DHE SDA diharapkan menambah pasokan valas secara bertahap.

Meski demikian, optimisme pasar masih terbatas setelah harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Karena kenaikan terjadi pada BBM nonsubsidi, dampaknya tidak sebesar Pertalite atau solar. Namun, pelaku pasar tetap mencermati efek lanjutannya terhadap biaya transportasi, daya beli, dan ekspektasi inflasi. Di tengah harga minyak global yang masih tinggi dan ketidakpastian Timur Tengah, tekanan energi berisiko membatasi ruang penguatan Rupiah meski BI sudah memberi bantalan lewat suku bunga yang lebih ketat.

Dolar AS Melemah Tipis setelah IHK, Fokus Beralih ke IHP

Dari eksternal, DXY melemah tipis ke 99,94 setelah gagal bertahan di atas level 100 pascarilis inflasi AS. Pelemahan ini memberi ruang bagi Rupiah karena inflasi inti bulanan AS turun ke 0,2%, lebih rendah dari ekspektasi 0,3%.

Meski demikian, pasar belum melihat alasan kuat bagi The Fed untuk segera bersikap dovish. Fokus kini beralih ke data Indeks Harga Produsen (IHP atau PPI) dan Klaim Tunjangan Pengangguran awal AS. IHP Mei diprakirakan naik 0,7% bulanan dari 1,4%, sementara secara tahunan meningkat ke 6,4% dari 6,0%. IHP inti diproyeksikan melambat ke 0,5% dari 1,0% secara bulanan, tetapi naik ke 5,4% dari 5,2% secara tahunan.

Sementara itu, Klaim Tunjangan Pengangguran awal diprakirakan turun ke 219 ribu dari 225 ribu. Hasil data-data ini akan menjadi penentu arah ekspektasi suku bunga The Fed, pergerakan Dolar AS, dan peluang USD/IDR bertahan di bawah Rp18.000.

Indikator Ekonomi

Indeks Harga Produsen non Pangan & Energi (Thn/Thn)

Indeks Harga Produsen dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja, Departemen Tenaga Kerja mengukur rata-rata perubahan harga di pasar utama AS oleh produsen komoditas di semua negara bagian untuk pengolahan. Perubahan IHP secara luas diikuti sebagai indikator inflasi komoditas. Secara umum, pembacaan tinggi dipandang sebagai positif (atau bullish) untuk USD, sedangkan bacaan yang rendah dipandang sebagai negatif (atau bearish).

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Kam Jun 11, 2026 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 5.4%

Sebelumnya: 5.2%

Sumber: US Bureau of Labor Statistics

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.