USD/IDR: Rupiah Masih di Dekat Rp18.000, Pasar Tunggu Inflasi AS
|- Rupiah kembali melemah terhadap Dolar AS pada perdagangan Rabu siang, setelah sempat menunjukkan pemulihan pada awal sesi.
- USD/IDR naik 0,37% ke 17.982,4, sementara pasar tetap mencermati batas psikologis Rp18.000 per Dolar AS.
- Data domestik terbaru menunjukkan IKK Mei turun dan penjualan mobil melambat, sementara fokus utama pasar bergeser ke inflasi AS malam ini.
Pada perdagangan Rabu siang, Rupiah kembali melemah terhadap Dolar AS setelah sempat menunjukkan pemulihan pada awal sesi. Berdasarkan data real-time sekitar pukul 10.39 WIB, USD/IDR naik 65,7 poin atau 0,37% ke 17.982,4, setelah dibuka lebih tinggi di 18.050. Pergerakan ini menunjukkan tekanan terhadap Rupiah belum sepenuhnya mereda, meski pasangan mata uang tersebut masih berupaya bertahan di sekitar batas psikologis Rp18.000 per Dolar AS.
Sepanjang sesi berjalan, USD/IDR bergerak dalam rentang 17.874,5-18.007,5. Artinya, Rupiah sempat kembali tertekan hingga pasangan mata uang ini menembus area 18.000, sebelum kemudian sedikit memangkas pelemahan. Kondisi tersebut membuat ruang pemulihan Rupiah masih terlihat rapuh, terutama setelah pasar sebelumnya mencatat rentang 52 minggu yang melebar hingga 18.218,5. Dalam horizon lebih panjang, USD/IDR juga masih naik 3,59% dalam satu bulan dan 10,56% dalam satu tahun, menandakan tekanan terhadap mata uang Garuda ini belum bisa dianggap selesai.
BI Lebih Agresif, tetapi Tekanan Energi Masih Membayangi
Tekanan terhadap Rupiah sempat mereda setelah Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 5,50% di luar jadwal RDG. Langkah ini memperlihatkan sikap BI yang lebih agresif menjaga stabilitas kurs, terutama setelah USD/IDR sempat mendekati area rekor tertinggi di atas 18.200. Pasar sempat merespons cepat dengan USD/IDR ditutup di 17.988 pada Selasa, tetapi pergerakan terbaru menunjukkan sentimen terhadap Rupiah masih mudah berbalik.
Elias Haddad dari Brown Brothers Harriman (BBH) memprakirakan kombinasi kenaikan suku bunga BI dan intervensi valas dapat membatasi pelemahan Rupiah lebih jauh. Namun, tekanan energi membuat ruang pemulihan tetap terbatas. Rupiah dinilai masih sulit mengoreksi undervaluasi sekitar 10% terhadap tren nilai tukar efektif riilnya, yang merupakan level terdalam sejak 2009.
Sementara itu, pasar tetap mencermati situasi Timur Tengah yang belum benar-benar tenang. Jeda serangan Iran-Israel belum cukup untuk menghapus risiko balasan, sementara Gaza, Lebanon, dan Laut Merah masih menjadi titik rawan. Harga minyak pun kembali naik pada Rabu, dengan WTI kontrak Juli 2026 menguat 0,75% ke US$88,86 per barel dan Brent kontrak Agustus 2026 naik 0,78% ke US$92,16 per barel. Minyak yang tetap tinggi membuat pasar kembali menghitung risiko impor energi, inflasi, dan kebutuhan Dolar di dalam negeri, sehingga pemulihan Rupiah lebih mudah tertahan.
IKK Melemah, Fokus Pasar Beralih ke Inflasi AS
Dari dalam negeri, data terbaru belum cukup kuat untuk menjadi penopang besar bagi Rupiah. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Mei turun ke 120,9 dari 123,0 sebelumnya. Meski masih berada jauh di atas level 100 yang menandakan konsumen tetap optimistis, penurunan ini memberi sinyal bahwa kepercayaan rumah tangga mulai sedikit tertahan. Data lain menunjukkan penjualan mobil tahunan Mei tumbuh 14,0%, melambat tajam dari 55,0% sebelumnya, sehingga memperkuat gambaran bahwa momentum konsumsi barang tahan lama belum sepenuhnya kuat.
Di Amerika Serikat, pasar juga mencermati sinyal perlambatan dari pasar tenaga kerja. NER Pulse, pendamping mingguan dari Laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP, menunjukkan perusahaan menambah rata-rata 29 ribu lapangan kerja per minggu dalam empat minggu yang berakhir pada 23 Mei, sedikit lebih rendah dari pembacaan sebelumnya. Meski demikian, data ini belum cukup untuk mengubah fokus utama pasar dari inflasi dan arah kebijakan The Fed.
Selanjutnya, fokus pasar malam ini akan tertuju pada rilis inflasi AS untuk Mei. IHK utama diprakirakan naik 0,5% secara bulanan, sedikit lebih rendah dari 0,6% pada bulan sebelumnya, tetapi secara tahunan diproyeksikan meningkat ke 4,2% dari 3,8%. Sementara itu, IHK inti diprakirakan naik 0,3% secara bulanan dan 2,9% secara tahunan. Jika inflasi kembali menunjukkan tekanan yang kuat, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dapat semakin tertahan dan memberi tekanan baru pada aset emerging market, termasuk Rupiah. Selain inflasi, pasar juga akan mencermati laporan anggaran bulanan AS untuk Mei, dengan konsensus defisit sebesar US$270 miliar setelah sebelumnya mencatat surplus US$215 miliar.
Indikator Ekonomi
Indeks Harga Konsumen non Pangan & Energi (Thn/Thn)
Kecenderungan inflasi atau deflasi diukur dengan menjumlahkan harga sekeranjang barang dan jasa secara berkala dan menyajikan datanya sebagai Indeks Harga Konsumen (IHK). Data IHK dikumpulkan setiap bulan dan dirilis oleh Departemen Statistik Tenaga Kerja AS. Laporan bulanan ini membandingkan harga barang-barang pada bulan referensi dengan bulan sebelumnya. IHK Tidak termasuk Makanan & Energi tidak menyertakan komponen makanan dan energi yang lebih fluktuatif untuk memberikan pengukuran tekanan harga yang lebih akurat. Secara umum, angka yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sedangkan angka yang rendah dianggap sebagai bearish.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Jun 10, 2026 12.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 2.9%
Sebelumnya: 2.8%
Sumber: US Bureau of Labor Statistics
Federal Reserve AS memiliki mandat ganda untuk menjaga stabilitas harga dan memaksimalkan lapangan kerja. Berdasarkan mandat tersebut, inflasi harus berada pada kisaran 2% YoY dan telah menjadi pilar terlemah dari arahan bank sentral sejak dunia mengalami pandemi yang masih berlangsung hingga saat ini. Tekanan harga terus meningkat di tengah permasalahan dan kemacetan rantai pasokan, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada pada level tertinggi dalam beberapa dekade. The Fed telah mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan inflasi dan diprakirakan akan mempertahankan sikap agresif di masa mendatang.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.