fxs_header_sponsor_anchor

Berita

USD/IDR: Rupiah Bertahan di Rp17.710, Surplus Dagang Imbangi Minyak jelang ISM dan JOLTS AS

  • Kurs Rupiah ditutup tidak berubah di Rp17.710 per Dolar AS pada Selasa, sementara JISDOR menguat ke Rp17.727 dari Rp17.746.
  • Neraca perdagangan Indonesia kembali surplus pada Juli, sedangkan inflasi Agustus naik ke 3,19% YoY dan inflasi inti mencapai 2,92%.
  • Brent di atas US$91, kenaikan imbal hasil Treasury AS, dan menguatnya peluang kenaikan suku bunga The Fed membayangi Rupiah jelang ISM Manufaktur dan Lowongan Kerja JOLTS AS hari ini.

Rupiah Indonesia (IDR) mengakhiri perdagangan Selasa tanpa perubahan terhadap Dolar AS (USD), dengan pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp17.710, sama dengan posisi Senin. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI), di sisi lain, menguat 19 poin menjadi Rp17.727 dari Rp17.746. Rupiah bertahan setelah neraca perdagangan Indonesia kembali surplus dan inflasi meningkat pada Agustus, meski PMI manufaktur kembali ke zona kontraksi. Dari eksternal, kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi Pemerintah AS serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tetap membayangi Rupiah, dengan perhatian pasar berikutnya tertuju pada data tenaga kerja dan aktivitas manufaktur AS pekan ini.

Neraca Perdagangan Kembali Surplus, Inflasi Naik

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus sekitar US$0,12 miliar pada Juli, setelah defisit US$0,45 miliar pada Juni. Ekspor tumbuh 6,05% YoY menjadi US$26,22 miliar, sedangkan impor melonjak 27,02% menjadi US$26,09 miliar. Surplus nonmigas mencapai US$3,10 miliar, tetapi sebagian besar diimbangi defisit migas sebesar US$2,98 miliar, ketika impor migas meningkat hampir 50% secara tahunan.

Dari sisi harga, inflasi Agustus meningkat menjadi 3,19% YoY dari 2,88% pada Juli, sedikit di atas prakiraan 3,13%, sementara inflasi bulanan tercatat 0,21%. Inflasi inti juga naik menjadi 2,92% dari 2,76%, menunjukkan tekanan harga yang lebih luas meski inflasi keseluruhan masih berada dalam kisaran sasaran BI 2,5%±1%. Di sisi lain, aktivitas manufaktur melemah, dengan PMI Manufaktur S&P Global turun ke 49,8 dari 50,2, kembali ke wilayah kontraksi.

BI juga melanjutkan operasi stabilisasi di pasar valas pada Selasa. Bank sentral melakukan rollover DNDF jual tenor satu bulan senilai US$262 juta, dengan kurs DNDF ditetapkan pada JISDOR ditambah premi Rp45. BI pada hari yang sama juga menjadwalkan lelang Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dengan target indikatif US$500 juta untuk tenor satu hingga 12 bulan.

Minyak dan Imbal Hasil AS Menahan Rupiah

Dari eksternal, Indeks Dolar AS (DXY) bergerak di atas 99,50 pada awal perdagangan Eropa ketika imbal hasil Treasury AS meningkat. Imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun mencapai sekitar 4,78%, level tertinggi sejak awal 2025, di tengah kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi akan menjaga tekanan inflasi dan mendorong bank-bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat.

Harga minyak turut menjadi perhatian bagi Rupiah. Brent naik sekitar 0,7% ke US$91,15 per barel setelah melonjak hampir 3% pada perdagangan sebelumnya, ketika meningkatnya konflik AS–Iran kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan dari Timur Tengah. Harga minyak yang bertahan tinggi menjadi risiko bagi Indonesia sebagai pengimpor minyak, terutama ketika data perdagangan Juli menunjukkan impor migas mencapai US$3,77 miliar dan naik 49,91% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pasar Tunggu JOLTS, ISM dan NFP AS

Ekspektasi suku bunga AS juga semakin hawkish setelah pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh. Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memprakirakan peluang 66,4% kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan 16 September, meningkat dari 57% sehari sebelumnya dan 39,6% sepekan lalu. Jika terealisasi, kisaran target Fed Funds Rate akan naik dari 3,50%–3,75% menjadi 3,75%–4,00%.

Pekan data AS yang cukup sibuk dimulai dengan rilis PMI Manufaktur ISM dan Lowongan Kerja JOLTS yang dijadwalkan hari ini. Namun, perhatian utama pasar tetap tertuju pada laporan ketenagakerjaan bulanan AS, terutama Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat, yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah suku bunga The Fed setelah peningkatan tajam probabilitas kenaikan pada September.

Indikator Ekonomi

Lowongan Pekerjaan JOLTS

Lowongan Pekerjaan JOLTS adalah survei yang dilakukan oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS untuk membantu mengukur lowongan pekerjaan. Mengumpulkan data dari sejumlah pengusaha termasuk pengecer, produsen dan kantor-kantor yang berbeda setiap bulan.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Sel Sep 01, 2026 14.00

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 7.3Jt

Sebelumnya: 7.359Jt

Sumber: US Bureau of Labor Statistics

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.