USD/IDR: Rupiah Berakhir di Rp17.710 saat Fed Hawkish dan Minyak Kembali di Atas US$90
|- Kurs Rupiah ditutup di Rp17.710 per Dolar AS pada Senin, melemah 25 poin dari Rp17.685 pada Jumat.
- Taruhan kenaikan suku bunga The Fed pada September meningkat sekitar 60% setelah pernyataan hawkish Kevin Warsh.
- Brent kembali di atas US$90, sementara pasar menanti penetapan Destry Damayanti serta data inflasi dan perdagangan Indonesia.
Rupiah Indonesia (IDR) berakhir sedikit lebih rendah terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Senin, dengan pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp17.710, naik 25 poin dari Rp17.685 pada Jumat. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) juga melemah menjadi Rp17.746 dari Rp17.703. Tekanan terhadap mata uang domestik muncul setelah komentar hawkish Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh meningkatkan taruhan kenaikan suku bunga AS pada September, sementara lonjakan harga minyak kembali menjadi risiko bagi Rupiah. Dari dalam negeri, pasar mencermati proses penetapan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI dan perluasan transaksi mata uang lokal Indonesia–Singapura, dengan perhatian berikutnya tertuju pada PMI manufaktur, inflasi, dan neraca perdagangan Indonesia yang dirilis Selasa.
Warsh Mendorong Taruhan Kenaikan Suku Bunga The Fed
Warsh dalam Simposium Kebijakan Ekonomi Kansas City The Fed di Jackson Hole menegaskan bahwa bank sentral harus yakin inflasi inti bergerak menuju target. Ia mengatakan The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila keyakinan tersebut belum tercapai. Warsh juga menilai kondisi keuangan sulit digambarkan sebagai restriktif dan bahwa perbaikan inflasi terbaru belum cukup untuk menunjukkan perubahan berarti pada tren inflasi inti.
Nada tersebut mendorong pasar kembali meningkatkan ekspektasi pengetatan moneter. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 16 September kini nyaris mencapai 60%, dari 57,0% sehari sebelumnya dan 41,4% sepekan lalu. Dolar AS terkoreksi tipis pada Senin, tetapi masih bertahan dekat level tertinggi dua minggu setelah menguat tajam pada Jumat.
Risiko eksternal bagi Rupiah juga datang dari pasar energi. WTI naik 2,55% menjadi US$85,53 per barel, sedangkan Brent menguat 2,63% ke US$90,42, ketika eskalasi terbaru AS–Iran kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan dan jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Harga energi yang lebih tinggi menjadi perhatian bagi Indonesia karena berpotensi meningkatkan biaya impor minyak dan kebutuhan valuta asing.
Destry dan LCT Indonesia–Singapura Menjadi Perhatian Domestik
Dari dalam negeri, pasar masih mencermati proses pergantian kepemimpinan Bank Indonesia setelah Komisi XI DPR menetapkan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI periode 2026–2031. Destry sebelumnya menekankan penggunaan kombinasi instrumen moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran, serta koordinasi dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung perekonomian. Perhatian berikutnya tertuju pada penetapan dalam Rapat Paripurna DPR pada 1 September.
Hari ini, BI dan Monetary Authority of Singapore (MAS) mulai mengoperasionalkan kerangka penggunaan Rupiah dan Dolar Singapura dalam transaksi bilateral. Perluasan Local Currency Transaction (LCT) tersebut memungkinkan transaksi lintas negara diselesaikan langsung menggunakan kedua mata uang, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap mata uang pihak ketiga dan eksposur terhadap risiko nilai tukar. BI menyebut langkah ini sebagai bagian dari upaya memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dan investasi lintas negara.
Inflasi dan Neraca Perdagangan Indonesia Menjadi Fokus Selasa
Perhatian pasar pada Selasa juga akan tertuju pada rangkaian data ekonomi Indonesia. PMI Manufaktur S&P Global Agustus diprakirakan naik menjadi 50,5 dari 50,2, yang akan menunjukkan aktivitas manufaktur tetap berada di wilayah ekspansi. Inflasi tahunan diprakirakan meningkat menjadi sekitar 3,13% dari 2,88%, sementara inflasi inti diproyeksikan sekitar 2,8% dari 2,76%.
Pasar juga menanti Neraca Perdagangan Juli, yang diprakirakan kembali mencatat defisit sekitar US$0,3 miliar setelah defisit US$0,45 miliar pada bulan sebelumnya. Ekspor diprakirakan tumbuh 3,4% YoY dan impor 24,1%. Kombinasi data inflasi, perdagangan dan PMI akan menjadi masukan berikutnya bagi prospek Rupiah dan ekspektasi kebijakan BI, sementara dari AS perhatian tetap tertuju pada data tenaga kerja menjelang keputusan The Fed pada 16 September.
Indikator Ekonomi
Neraca Perdagangan
Neraca Perdagangan yang dirilis oleh Statistik Indonesia adalah keseimbangan antara ekspor dan impor barang dan jasa secara keseluruhan. Nilai yang positif menunjukkan surplus perdagangan, sedangkan nilai negatif menunjukkan defisit perdagangan. Jika permintaan dalam pertukaran untuk ekspor Indonesia yang stabil terlihat, Rupiah akan menerima efek positif (atau bullish), sebaliknya akan memiliki efek negatif (atau bearish).
Baca lebih lanjutInformasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.