Saham Asia Merosot di Tengah Memanasnya Lagi Perang AS-Iran, KOSPI Korea Selatan Pimpin Penurunan
| |Terjemahan TerverifikasiLihat Artikel Asli- Saham-saham Asia sedikit melemah pada hari Senin.
- Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah mendorong harga minyak lebih tinggi dan meredam selera investor terhadap risiko.
- Indeks acuan KOSPI Korea Selatan turun 7,95%, dengan saham SK Hynix anjlok 11%.
Sebagian besar saham Asia diperdagangkan di wilayah negatif pada hari Senin di tengah ketegangan geopolitik yang kembali meningkat di Timur Tengah setelah laporan serangan udara AS-Iran dan penutupan Selat Hormuz yang vital oleh Teheran.
Amerika Serikat (AS) dan Iran saling melancarkan serangan udara selama akhir pekan, dengan Teheran menargetkan fasilitas AS di beberapa negara Teluk dan menyatakan Selat Hormuz ditutup. Militer AS mengatakan dalam sebuah unggahan media sosial bahwa serangan tersebut dirancang untuk membatasi kemampuan Iran menyerang kapal sipil di Selat Hormuz, seraya menambahkan bahwa Presiden AS Donald Trump "telah mengarahkan serangan tersebut untuk meminta pertanggungjawaban pasukan Iran."
Saham Korea Selatan, indeks acuan KOSPI, turun lebih dari 7,95% ke 6.880 karena produsen chip berkapitalisasi besar kembali berada di bawah tekanan. Saham Samsung Electronics merosot hampir 7%, sementara SK Hynix anjlok 11%.
Sementara itu, Nikkei 225, indeks acuan Jepang, anjlok 2,20% ke 67.040. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan pada hari Jumat bahwa pemerintah sedang mengejar langkah-langkah yang akan mencakup Government Pension Investment Fund (GPIF) untuk melakukan "investasi yang secara substansial lebih besar dalam aset keuangan Jepang.
Pasar saham Tiongkok dan Hong Kong kehilangan momentum pada hari Senin, dengan SHANGHAI, indeks pasar saham utama Tiongkok, turun 1,70% ke 3.930. Bursa Saham Hong Kong naik 0,1% ke 24.200.
Nifty50 India turun 0,27% dan diperdagangkan di 24.141 pada hari Senin. Di Taiwan, Taiex naik 0,39% ke 45.540. Pasar lain di Asia Tenggara diperdagangkan lebih rendah.
Pertanyaan Umum Seputar Saham Asia
Asia menyumbang sekitar 70% pertumbuhan ekonomi global dan menjadi tuan rumah bagi beberapa indeks pasar saham utama. Di antara negara-negara maju di kawasan tersebut, Nikkei Jepang – yang mewakili 225 perusahaan di bursa saham Tokyo – dan Kospi Korea Selatan menonjol. Tiongkok memiliki tiga indeks penting: Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, dan Shenzhen Composite. Sebagai negara berkembang yang besar, ekuitas India juga menarik perhatian investor, yang semakin banyak berinvestasi di perusahaan-perusahaan dalam indeks Sensex dan Nifty.
Ekonomi utama di Asia berbeda-beda, dan masing-masing memiliki sektor khusus yang perlu diperhatikan. Perusahaan teknologi mendominasi indeks di Jepang, Korea Selatan, dan semakin banyak di Tiongkok. Layanan keuangan memimpin pasar saham seperti Hong Kong atau Singapura, yang dianggap sebagai pusat utama sektor ini. Manufaktur juga besar di Tiongkok dan Jepang, dengan fokus kuat pada produksi mobil atau elektronik. Kelas menengah yang berkembang di negara-negara seperti Tiongkok dan India juga semakin menonjolkan perusahaan yang berfokus pada ritel dan e-commerce.
Banyak faktor yang mendorong indeks pasar saham Asia, tetapi faktor utama di balik kinerjanya adalah hasil agregat dari perusahaan-perusahaan komponen yang terungkap dalam laporan pendapatan triwulanan dan tahunan mereka. Fundamental ekonomi masing-masing negara, serta keputusan bank sentral atau kebijakan fiskal pemerintah mereka, juga merupakan faktor penting. Secara lebih luas, stabilitas politik, kemajuan teknologi atau supremasi hukum juga dapat memengaruhi pasar ekuitas. Kinerja indeks ekuitas AS juga merupakan faktor karena, lebih sering daripada tidak, pasar Asia memimpin dari saham-saham Wall Street dalam semalam. Terakhir, sentimen risiko yang lebih luas di pasar juga berperan karena ekuitas dianggap sebagai investasi yang berisiko dibandingkan dengan opsi investasi lain seperti sekuritas pendapatan tetap.
Berinvestasi dalam ekuitas itu sendiri berisiko, tetapi berinvestasi dalam saham Asia disertai dengan risiko khusus kawasan yang perlu diperhitungkan. Negara-negara Asia memiliki berbagai macam sistem politik, dari demokrasi penuh hingga kediktatoran, sehingga stabilitas politik, transparansi, supremasi hukum, atau persyaratan tata kelola perusahaan mereka mungkin sangat berbeda. Peristiwa geopolitik seperti sengketa perdagangan atau konflik teritorial dapat menyebabkan volatilitas di pasar saham, seperti halnya bencana alam. Selain itu, fluktuasi mata uang juga dapat berdampak pada valuasi pasar saham Asia. Hal ini khususnya berlaku di negara-negara yang berorientasi ekspor, yang cenderung menderita karena mata uang yang lebih kuat dan mendapat keuntungan dari mata uang yang lebih lemah karena produk mereka menjadi lebih murah di luar negeri.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.