Rupiah Tertekan ke 16.860-an, Inflasi Melonjak dan Surplus Dagang Menyusut, Fokus ke PMI Manufaktur AS
|- USD/IDR naik 0,64% ke 16.862,9, mendekati batas atas rentang harian.
- Inflasi domestik melonjak, surplus dagang menyusut.
- Fokus beralih ke data ISM AS yang berpotensi memperkuat dolar.
Rupiah bergerak melemah pada perdagangan Senin siang setelah rangkaian data domestik memberi sinyal tekanan harga yang kembali meningkat di tengah bantalan eksternal yang menipis. Hingga sekitar di awal sesi Eropa, pasangan mata uang USD/IDR diperdagangkan di kisaran 16.862,9, naik sekitar 0,64% dibanding penutupan sebelumnya di 16.755. Laju ini membawa kurs mendekati batas atas rentang dalam perdagangan harian 16.866,3, mencerminkan respons pasar yang cenderung berhati-hati terhadap kombinasi indikator terbaru.
Inflasi tahunan Februari melonjak ke 4,76% dari 3,55%, sementara inflasi inti naik tipis ke 2,63% dari 2,45%. Secara bulanan, harga meningkat 0,68% setelah sebelumnya mengalami deflasi 0,15%. Lonjakan ini mengindikasikan tekanan harga mulai kembali menguat, meski komponen inti masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia. Di sisi lain, surplus neraca dagang Januari menyempit menjadi USD0,95 miliar dari USD2,52 miliar, seiring perlambatan pertumbuhan ekspor ke 3,39% dan percepatan impor ke 18,21%. Kombinasi ini memperlihatkan permintaan domestik yang tetap aktif, namun dengan penyangga eksternal yang lebih terbatas.
Sektor riil masih menunjukkan ketahanan. PMI manufaktur Februari naik ke 53,8 dari 52,6, menandakan ekspansi berlanjut. Namun bagi pelaku pasar, campuran inflasi yang lebih tinggi dan surplus yang mengecil mendorong penyesuaian ekspektasi kebijakan, khususnya terkait ruang pelonggaran moneter ke depan.
Dari eksternal, data Amerika Serikat turut membentuk sentimen. Indeks Harga Produsen (IHP) tahunan Januari tercatat 2,9%, sedikit turun dari 3% namun melampaui ekspektasi 2,6%. Secara bulanan, IHP naik 0,5%, sementara komponen inti meningkat 3,6% secara tahunan, lebih tinggi dari prakiraan 3%. Tekanan harga di tingkat produsen AS yang belum sepenuhnya surut berpotensi menjaga dolar tetap kuat dan mempersempit ruang pemulihan rupiah.
Fokus pasar beralih ke rilis ISM AS malam ini, termasuk PMI manufaktur Februari (konsensus 52,3; sebelumnya 52,6), Pesanan Baru (57,1), Keternagakerjaan (48,1), dan Harga Dibayar (59,5). Komponen harga yang masih tinggi dapat menegaskan tekanan inflasi sektor manufaktur belum sepenuhnya reda.
Jika hasilnya melampaui ekspektasi – terutama PMI utama dan Prices Paid â dolar berpotensi tetap solid dan menekan rupiah. Sebaliknya, angka yang lebih lemah dapat memberi ruang stabilisasi jangka pendek bagi mata uang domestik.
Secara teknis, area 16.850-16.900 menjadi zona uji jangka pendek. Apabila permintaan dolar berlanjut, peluang menuju level psikologis 17.000 kembali terbuka. Sebaliknya, stabilisasi dapat terbentuk jika pasar menilai lonjakan inflasi domestik bersifat sementara dan arus masuk kembali menguat dalam beberapa sesi mendatang.
Indikator Ekonomi
PMI Manufaktur ISM
Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Institute for Supply Management (ISM), yang dirilis setiap bulan, merupakan indikator utama yang mengukur aktivitas bisnis di sektor manufaktur AS. Indikator tersebut diperoleh dari survei terhadap eksekutif pemasok manufaktur berdasarkan informasi yang mereka kumpulkan di organisasi masing-masing. Respons survei mencerminkan perubahan, jika ada, pada bulan ini dibandingkan bulan sebelumnya. Angka di atas 50 menunjukkan bahwa ekonomi manufaktur secara umum berkembang, yang merupakan tanda bullish bagi Dolar AS (USD). Angka di bawah 50 menandakan aktivitas pabrik secara umum menurun, yang dipandang sebagai bearish bagi USD.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Sen Mar 02, 2026 15.00
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 52.3
Sebelumnya: 52.6
Sumber: Institute for Supply Management
Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Institute for Supply Management (ISM) memberikan pandangan yang andal terhadap keadaan sektor manufaktur AS. Data di atas 50 menunjukkan bahwa aktivitas bisnis berkembang selama periode survei dan sebaliknya. IMP dianggap sebagai indikator utama dan dapat menandakan pergeseran siklus ekonomi. Hasil cetak yang lebih kuat dari perkiraan biasanya berdampak positif pada USD. Selain IMP utama, data Indeks Ketenagakerjaan dan Indeks Harga yang Dibayar diawasi dengan cermat karena keduanya menyoroti pasar tenaga kerja dan inflasi.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.