fxs_header_sponsor_anchor

Berita

Rupiah Stabil Jauhi 17.000 setelah Rekor Terlemah, Pasar Cermati Tekanan Global

  • Rupiah bergerak stabil setelah menyentuh level terlemah sepanjang sejarah, dengan pasar memantau zona psikologis Rp16.900-Rp17.000 per dolar AS.
  • Data domestik menunjukkan sinyal campuran: penjualan ritel menguat, sementara keyakinan konsumen dan penjualan motor melambat.
  • Lonjakan harga minyak akibat ketegangan Timur Tengah serta data tenaga kerja AS yang lemah menjaga dolar tetap kuat dan menekan mata uang rupiah.

Rupiah bergerak relatif stabil pada perdagangan Selasa setelah sebelumnya menyentuh level terlemah sepanjang sejarah, dengan pelaku pasar memantau area psikologis Rp16.900-Rp17.000 per dolar AS. Zona ini dipandang penting karena berpotensi memicu respons kebijakan jika tekanan meningkat. Dalam jangka pendek, arah rupiah diprakirakan dipengaruhi oleh pergerakan dolar global dan sentimen risiko terhadap aset emerging markets. Jika tekanan eksternal mereda, rupiah berpeluang berkonsolidasi di bawah Rp17.000, namun penguatan dolar dapat kembali mendorong pengujian level tersebut.

Dari sisi domestik, sejumlah data ekonomi yang dirilis dalam dua hari terakhir memberikan gambaran yang beragam mengenai kondisi konsumsi rumah tangga. Pada Senin, penjualan sepeda motor secara tahunan pada Februari tumbuh 1,0%, melambat dari 3,1% pada bulan sebelumnya. Pada saat yang sama, Indeks Keyakinan Konsumen turun menjadi 125,2 dari 127,0, meskipun masih berada di zona optimistis di atas level 100.

Penurunan ini menunjukkan bahwa rumah tangga masih percaya terhadap prospek ekonomi, tetapi mulai bersikap lebih berhati-hati dalam menghadapi ketidakpastian. Di sisi lain, data yang dirilis Selasa menunjukkan penjualan ritel Januari meningkat 5,7% secara tahunan, lebih tinggi dari 3,5% sebelumnya, menandakan aktivitas konsumsi domestik masih cukup kuat pada awal tahun.

Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global. Ketegangan di Timur Tengah mendorong arus ke aset safe-haven dan memicu lonjakan harga energi setelah gangguan aliran minyak melalui Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran pasokan. Kondisi ini berpotensi menambah tekanan bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia karena kenaikan harga minyak dapat memperlebar defisit transaksi berjalan dan meningkatkan risiko inflasi domestik.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat melonjak ke sekitar $119 per barel, tertinggi sejak Juni 2022, sebelum memangkas kenaikan setelah laporan bahwa negara-negara G7 mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak melalui IEA. Pemerintah Indonesia mengatakan akan memantau perkembangan harga energi dan membuka kemungkinan penyesuaian postur APBN 2026 jika lonjakan minyak berlanjut, dengan batas aman diprakirakan sekitar $92 per barel.

Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada data inflasi AS yang akan dirilis minggu ini. Para ekonom memprakirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) Februari akan bertahan di 2,4% secara tahunan, tidak berubah dari bulan sebelumnya. Sementara itu, indeks harga belanja konsumsi pribadi inti (PCE Inti) diprakirakan tetap berada di sekitar 3,0% secara tahunan. Data tersebut dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed dan berpotensi memengaruhi pergerakan mata uang global, termasuk rupiah.

Pertanyaan Umum Seputar Minyak WTI

Minyak WTI adalah jenis minyak mentah yang dijual di pasar internasional. WTI adalah singkatan dari West Texas Intermediate, salah satu dari tiga jenis utama termasuk Brent dan Dubai Crude. WTI juga disebut sebagai "ringan" dan "manis" karena gravitasi dan kandungan sulfurnya yang relatif rendah. Minyak ini dianggap sebagai minyak berkualitas tinggi yang mudah dimurnikan. Minyak ini bersumber dari Amerika Serikat dan didistribusikan melalui hub Cushing, yang dianggap sebagai "Persimpangan Pipa Dunia". Minyak ini menjadi patokan untuk pasar minyak dan harga WTI sering dikutip di media.

Seperti semua aset, penawaran dan permintaan merupakan pendorong utama harga minyak WTI. Dengan demikian, pertumbuhan global dapat menjadi pendorong peningkatan permintaan dan sebaliknya untuk pertumbuhan global yang lemah. Ketidakstabilan politik, perang, dan sanksi dapat mengganggu pasokan dan memengaruhi harga. Keputusan OPEC, sekelompok negara penghasil minyak utama, merupakan pendorong utama harga lainnya. Nilai Dolar AS memengaruhi harga minyak mentah WTI, karena minyak sebagian besar diperdagangkan dalam Dolar AS, sehingga Dolar AS yang lebih lemah dapat membuat minyak lebih terjangkau dan sebaliknya.

Laporan inventaris minyak mingguan yang diterbitkan oleh American Petroleum Institute (API) dan Energy Information Agency (EIA) memengaruhi harga minyak WTI. Perubahan inventaris mencerminkan fluktuasi pasokan dan permintaan. Jika data menunjukkan penurunan inventaris, ini dapat mengindikasikan peningkatan permintaan, yang mendorong harga minyak naik. Inventaris yang lebih tinggi dapat mencerminkan peningkatan pasokan, yang mendorong harga turun. Laporan API diterbitkan setiap hari Selasa dan EIA pada hari berikutnya. Hasilnya biasanya serupa, dengan selisih 1% satu sama lain selama 75% waktu. Data EIA dianggap lebih dapat diandalkan, karena merupakan lembaga pemerintah. Hasilnya biasanya serupa, dengan selisih 1% dari satu sama lain selama 75% waktu. Data EIA dianggap lebih dapat diandalkan, karena merupakan lembaga pemerintah.

OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak) adalah kelompok yang terdiri dari 12 negara penghasil minyak yang secara kolektif memutuskan kuota produksi untuk negara-negara anggota pada pertemuan dua kali setahun. Keputusan mereka sering kali memengaruhi harga minyak WTI. Ketika OPEC memutuskan untuk menurunkan kuota, pasokan dapat diperketat, sehingga harga minyak naik. Ketika OPEC meningkatkan produksi, efeknya justru sebaliknya. OPEC+ mengacu pada kelompok yang diperluas yang mencakup sepuluh anggota non-OPEC tambahan, yang paling menonjol adalah Rusia.

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.