Rupiah Semakin Dekat ke 17.000, Dolar AS Bangun Pijakan di Tengah Data AS yang Solid dan Risiko Global
|- USD/IDR melanjutkan pelemahan awal tahun ke kisaran 16.880, dengan area 16.850-16.860 menjadi penyangga jangka pendek dan 16.900 mulai diuji secara psikologis.
- DXY stabil di sekitar 99,1, didukung data AS yang solid dan ekspektasi The Fed yang lebih berhati-hati, tanpa memicu lonjakan agresif.
- Ketidakpastian global, mulai dari isu independensi The Fed hingga geopolitik Iran, Ukraina, dan Greenland, membuat pasar defensif dan membatasi ruang penguatan rupiah.
Rupiah terus melanjutkan pelemahan dari awal Januari pada perdagangan Kamis, dengan pasangan mata uang USD/IDR naik ke kisaran 16.880, menandai uji ulang area atas yang mulai masuk radar pelaku pasar. Arah ini terutama dipengaruhi faktor eksternal, seiring dolar AS kembali memperoleh dorongan di tengah sikap kehati-hatian global terhadap prospek kebijakan moneter The Fed dan dinamika politik Amerika Serikat.
Dari sisi level, rentang 16.850-16.860 kini berfungsi sebagai zona penyangga jangka pendek. Selama rupiah mampu bertahan di bawah area tersebut secara konsisten, tekanan lanjutan cenderung terkelola. Namun, pergerakan yang menetap di atas 16.880 membuka ruang pengujian 16.900, level psikologis yang mulai menguji kenyamanan pasar. Di sisi atas, minat jual dolar berpotensi muncul di area 16.900-16.950, seiring investor menakar ulang valuasi sambil menunggu katalis global berikutnya.
DXY Bangun Pijakan di Area 99 usai Data AS Solid dan Ekspektasi The Fed yang Lebih Hati-hati
Tekanan eksternal tercermin dari indeks dolar AS (DXY) yang stabil mengarah ke penguatan ringan di sekitar 99,1, setelah bertahan di atas area 98,6-98,7. Posisi ini menunjukkan dolar mulai membangun pijakan, seiring pasar menyesuaikan ekspektasi kebijakan The Fed. Selama DXY bertahan di bawah 100, tekanan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah, relatif terkelola, meski kenaikan bertahap menuju 99,5-100 mendorong sikap pasar yang lebih defensif.
Dukungan terhadap dolar selaras dengan data ekonomi AS yang kuat, terutama Penjualan Ritel November yang naik 0,6% (mtm) dan IHP yang bertahan tinggi di 3,0% (yoy), menegaskan ketahanan permintaan domestik sekaligus tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda. Beige Book The Fed turut mencatat perbaikan aktivitas ekonomi, sementara pernyataan pejabat The Fed yang masih beragam menjaga ekspektasi suku bunga tetap hati-hati – kondisi yang menopang DXY tanpa memicu lonjakan agresif.
Trump Redam Spekulasi soal Powell, Risiko Geopolitik Global Tetap Menjaga Pasar Defensif
Dari ranah politik, Presiden AS Donald Trump menegaskan belum berencana memecat Ketua The Fed Jerome Powell meski ada penyelidikan Departemen Kehakiman, seraya menyebut situasi masih terlalu dini untuk menentukan langkah lanjutan. Pernyataan ini menahan spekulasi ekstrem pasar, namun isu independensi The Fed tetap menjadi sumber kehati-hatian global yang membatasi ruang penguatan aset berisiko.
Lapisan ketidakpastian global juga diperkuat oleh dinamika geopolitik. Trump membuka peluang runtuhnya rezim Iran namun menahan dukungan penuh terhadap tokoh oposisi Reza Pahlavi, menyalahkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy sebagai hambatan perdamaian Rusia-Ukraina, serta kembali menegaskan kepentingan strategis AS atas Greenland, yang memicu ketegangan dengan Denmark dan Greenland. Kombinasi risiko geopolitik Timur Tengah, Eropa Timur, dan kawasan Arktik ini menjaga sentimen pasar tetap defensif.
Data AS dan Pidato The Fed Menjadi Penentu Arah Rupiah Jangka Pendek
Fokus pasar global tertuju pada rilis Klaim Tunjangan Pengangguran Awal AS, serta survei manufaktur regional Empire State dan The Fed Philadelphia bulan Januari yang berpotensi memberi petunjuk awal kondisi aktivitas industri AS di awal tahun. Selain itu, rangkaian pidato pejabat Federal Reserve – termasuk Raphael Bostic, Michael Barr, Thomas Barkin, dan Jeff Schmid – akan dicermati untuk menakar konsistensi sikap kebijakan di tengah data inflasi yang masih lengket.
Dengan lanskap global yang disebutkan, pergerakan rupiah diprakirakan berfluktuasi sempit dalam jangka pendek, dengan arah lebih banyak ditentukan oleh dinamika dolar global dan sentimen eksternal ketimbang perubahan fundamental domestik. Agenda ekonomi AS hari ini berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS dan menjaga volatilitas mata uang emerging market, termasuk rupiah, pada sesi lanjutan.
Pertanyaan Umum Seputar Dolar AS
Dolar AS (USD) adalah mata uang resmi Amerika Serikat, dan mata uang 'de facto' di sejumlah besar negara lain tempat mata uang ini beredar bersama mata uang lokal. Dolar AS adalah mata uang yang paling banyak diperdagangkan di dunia, mencakup lebih dari 88% dari seluruh perputaran valuta asing global, atau rata-rata $6,6 triliun dalam transaksi per hari, menurut data dari tahun 2022. Setelah perang dunia kedua, USD mengambil alih posisi Pound Sterling Inggris sebagai mata uang cadangan dunia. Selama sebagian besar sejarahnya, Dolar AS didukung oleh Emas, hingga Perjanjian Bretton Woods pada tahun 1971 ketika Standar Emas menghilang.
Faktor tunggal terpenting yang memengaruhi nilai Dolar AS adalah kebijakan moneter, yang dibentuk oleh Federal Reserve (The Fed). The Fed memiliki dua mandat: mencapai stabilitas harga (mengendalikan inflasi) dan mendorong lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai kedua tujuan ini adalah dengan menyesuaikan suku bunga. Ketika harga naik terlalu cepat dan inflasi berada di atas target The Fed sebesar 2%, The Fed akan menaikkan suku bunga, yang membantu nilai USD. Ketika inflasi turun di bawah 2% atau Tingkat Pengangguran terlalu tinggi, The Fed akan menurunkan suku bunga, yang membebani Greenback.
Dalam situasi ekstrem, Federal Reserve juga dapat mencetak lebih banyak Dolar dan memberlakukan pelonggaran kuantitatif (QE). QE adalah proses di mana Fed secara substansial meningkatkan aliran kredit dalam sistem keuangan yang macet. Ini adalah langkah kebijakan nonstandar yang digunakan ketika kredit telah mengering karena bank tidak akan saling meminjamkan (karena takut gagal bayar oleh rekanan). Ini adalah pilihan terakhir ketika hanya menurunkan suku bunga tidak mungkin mencapai hasil yang diinginkan. Itu adalah senjata pilihan The Fed untuk memerangi krisis kredit yang terjadi selama Krisis Keuangan Besar pada tahun 2008. Hal ini melibatkan The Fed yang mencetak lebih banyak Dolar dan menggunakannya untuk membeli obligasi pemerintah AS terutama dari lembaga keuangan. QE biasanya menyebabkan Dolar AS melemah.
Pengetatan kuantitatif (QT) adalah proses sebaliknya di mana Federal Reserve berhenti membeli obligasi dari lembaga keuangan dan tidak menginvestasikan kembali pokok dari obligasi yang dimilikinya yang jatuh tempo dalam pembelian baru. Hal ini biasanya positif bagi Dolar AS.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.