Rupiah Selasa Bertahan Defensif, Pasar Menakar Ulang Keseimbangan Global-Domestik
|- USD/IDR naik terbatas ke area 16.760-16.770, mencerminkan kehati-hatian pasar di tengah sinyal The Fed yang belum dovish.
- Data domestik menunjukkan surplus dagang menyempit dan inflasi Desember kembali menghangat.
- Tekanan eksternal diperkuat kontraksi manufaktur AS dan eskalasi risiko geopolitik global.
Rupiah (IDR) pada perdagangan Selasa siang bergerak melemah terbatas, dengan pasangan mata uang USD/IDR naik ke kisaran 16.760-16.770 atau menguat sekitar 0,3% di pasar spot. Arah ini mencerminkan sikap pasar yang lebih selektif, di tengah kombinasi sentimen global yang belum kondusif dan penyesuaian ekspektasi terhadap fundamental domestik. Investor cenderung menahan langkah, menjaga posisi defensif sambil mencari kejelasan arah kebijakan moneter global.
Surplus Dagang Indonesia Bulan November Menyempit, Inflasi Menghangat
Dari dalam negeri, data ekonomi Indonesia yang dirilis kemarin memberi sinyal beragam. Neraca dagang November tetap mencatat surplus US$2,66 miliar, meski lebih sempit dari konsensus, seiring ekspor yang terkontraksi 6,6% (YoY) dan mencerminkan pelemahan permintaan global, sementara impor mulai tumbuh tipis 0,46%.
Di sisi harga, inflasi Desember naik ke 2,92% (YoY) dengan inflasi bulanan 0,64%, sementara inflasi inti relatif terjaga di 2,38%. Kombinasi ini mendorong pasar menakar ulang ruang kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), tanpa mengubah pandangan bahwa stabilitas masih terjaga.
Manufaktur AS Tertekan, The Fed Pertahankan Sikap Hati-hati
Tekanan eksternal datang dari Amerika Serikat, di mana aktivitas manufaktur terus berkontraksi. PMI Manufaktur Institute for Supply Management turun ke 47,9 pada Desember dari 48,2 di bulan sebelumnya, lebih lemah dari ekspektasi. Ketua Komite Survei Bisnis Manufaktur ISM, Susan Spence, menilai kontraksi kian cepat akibat penurunan produksi dan persediaan, meski terdapat perbaikan awal pada sejumlah indikator permintaan.
Sejalan dengan itu, Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis, Neel Kashkari, menegaskan inflasi AS masih terlalu tinggi meski perlahan menurun, sementara suku bunga dinilai sudah sangat dekat dengan level netral. Pernyataan ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed belum tergesa melonggarkan kebijakan, menjaga dolar tetap relevan sebagai jangkar sentimen global.
Lapisan Ketidakpastian Tambahan dari Geopolitik
Sentimen juga dibayangi risiko geopolitik setelah Reuters melaporkan kecaman keras Tiongkok terhadap Amerika Serikat atas penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, menilai langkah tersebut melanggar kedaulatan dan hukum internasional. Isu ini memanas di Dewan Keamanan PBB, dengan Tiongkok dan Rusia mendukung pembahasan atas keputusan Presiden AS Donald Trump, menambah ketidakpastian global yang ikut diperhitungkan pasar valuta asing.
Agenda Data AS Jadi Penentu Arah Rupiah Selanjutnya
Ke depan, pasar menanti rilis PMI Gabungan dan Jasa S&P Global pada Selasa, disusul PMI Jasa ISM dan laporan lowongan pekerjaan JOLTS pada Rabu, Klaim Tunjangan Pengangguran Awal pada Kamis, serta laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat. Kekuatan tren rupiah berikutnya akan sangat ditentukan oleh seberapa jauh data-data ini mengonfirmasi arah perlambatan ekonomi AS dan membuka ruang perubahan ekspektasi kebijakan moneter global.
Indikator Ekonomi
PMI Gabungan S&P Global
Indeks Manajer Pembelian (PMI) Gabungan S&P Global, yang dirilis setiap bulan, adalah indikator utama yang mengukur aktivitas bisnis swasta AS di sektor manufaktur dan jasa. Data ini berasal dari survei kepada eksekutif senior. Setiap respons diberi bobot sesuai dengan ukuran perusahaan dan kontribusinya terhadap total output manufaktur atau jasa yang dihitung oleh sub-sektor tempat perusahaan tersebut berada. Respons survei mencerminkan perubahan, jika ada, di bulan ini dibandingkan dengan bulan sebelumnya dan dapat memprediksi perubahan tren dalam seri data resmi seperti Produk Domestik Bruto (PDB), produksi industri, ketenagakerjaan, dan inflasi. Indeks ini bervariasi antara 0 dan 100, dengan level 50,0 menandakan tidak ada perubahan dibandingkan bulan sebelumnya. Pembacaan di atas 50 menunjukkan bahwa ekonomi swasta umumnya sedang berkembang, yang merupakan tanda bullish untuk Dolar AS (USD). Sementara itu, pembacaan di bawah 50 menandakan bahwa aktivitas umumnya menurun, yang dianggap sebagai bearish untuk USD.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Sel Jan 06, 2026 14.45
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: -
Sebelumnya: 53
Sumber: S&P Global
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.