fxs_header_sponsor_anchor

Berita

Rupiah Menguat Moderat, Pasar Hati-Hati Jelang Keputusan The Fed

  • Rupiah menguat ke area 16.700 seiring meredanya tekanan dolar setelah gagal bertahan di dekat level 17.000.
  • Arus dana asing menopang rupiah, sementara pasar global masih dibayangi narasi “jual Amerika”.
  • Fokus tertuju pada keputusan The Fed dan konsistensi stabilisasi nilai tukar oleh Bank Indonesia.

Pada perdagangan Rabu di awal sesi Eropa, rupiah bergerak menguat moderat dengan pasangan mata uang USD/IDR turun ke area 16.700, mengindikasikan meredanya tekanan dolar setelah gagal bertahan di dekat level psikologis 17.000. Arah ini terbentuk di tengah sikap pasar yang cenderung menahan langkah menjelang keputusan Federal Reserve, seiring ekspektasi suku bunga AS dipertahankan, serta ditopang konsistensi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan suku bunga dan intervensi pasar. Untuk hari ini, ruang gerak USD/IDR diprakirakan tetap terbatas di kisaran 16.680-16.780.

Dinamika tersebut tidak terlepas dari pola pergerakan pada sesi sebelumnya, ketika arus dana menunjukkan tarikan yang berlawanan. Permintaan valas dari korporasi sempat memberi tekanan di awal perdagangan, namun sentimen berangsur membaik menjelang penutupan menyusul masuknya aliran dana asing ke pasar domestik. Pergeseran ini mendorong USD/IDR melemah hingga area 16.765 sebelum akhirnya ditutup di kisaran 16.770-16.780.

Pemerintah Optimistis Pertumbuhan Terjaga, BI Perkuat Stabilitas Rupiah

Reuters melaporkan pemerintah Indonesia tetap percaya diri perekonomian Indonesia mampu menutup 2025 dengan pertumbuhan sekitar 5,2%, meskipun sempat tertekan dampak banjir besar di akhir tahun lalu. Laju ekonomi bahkan dinilai menguat pada kuartal IV, mendorong pemerintah mempertahankan target pertumbuhan 2026 di level 5,4%.

Selaras dengan itu, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menilai kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan nasional tetap terjaga pada triwulan IV 2025, meski volatilitas global meningkat di awal 2026. Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga stabilitas rupiah dengan mempertahankan suku bunga di 4,75%, memperkuat langkah intervensi valas dan pembelian SBN, sekaligus membuka peluang pelonggaran kebijakan ke depan seiring inflasi yang terkendali dan fundamental ekonomi yang dinilai membaik.

Dolar Tertahan Jelang The Fed, Rupiah Mendapat Ruang Stabilisasi

Di ranah global, perhatian pasar masih tertuju pada arah kebijakan Federal Reserve. Meski Indeks Dolar AS (DXY) sempat mencatat pemulihan dan diperdagangkan di sekitar 96,10 setelah terkoreksi lebih dari 1% pada sesi sebelumnya, ruang penguatan Greenback tetap terbatas. Narasi “jual Amerika” masih membayangi sentimen global, sehingga pasar belum sepenuhnya membangun keyakinan untuk mendorong dolar bergerak lebih agresif.

Menjelang hasil pertemuan Federal Reserve (The Fed), perhatian pasar tertuju pada sinyal kebijakan ke depan yang akan disampaikan melalui konferensi pers, di tengah ekspektasi suku bunga AS tetap bertahan di kisaran 3,50%-3,75%. Dalam konteks tersebut, Dolar AS masih menghadapi tekanan akibat spekulasi potensi intervensi mata uang oleh Departemen Keuangan AS, pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut nilai USD “hebat”, serta pelemahan data ketenagakerjaan ADP rata-rata empat minggu yang turun menjadi 7,75 ribu dari sebelumnya 8 ribu.

Kondisi tersebut turut membatasi ruang penguatan dolar dan memberi ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih stabil. Namun, kehati-hatian pasar tetap terjaga seiring kembali mencuatnya tensi dagang setelah Trump mengancam tarif 100% atas produk Kanada terkait dinamika hubungan Ottawa-Beijing, yang berpotensi menahan apresiasi rupiah lebih lanjut.

Indikator Ekonomi

Keputusan Suku Bunga The Fed

Federal Reserve (The Fed) berunding tentang kebijakan moneter dan membuat keputusan tentang suku bunga pada delapan pertemuan yang dijadwalkan sebelumnya per tahun. The Fed memiliki dua mandat: untuk menjaga inflasi pada 2%, dan untuk mempertahankan lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai hal ini adalah dengan menetapkan suku bunga – baik di mana The Fed meminjamkan ke perbankan dan perbankan saling meminjamkan. Jika The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga, Dolar AS (USD) cenderung menguat karena menarik lebih banyak arus masuk modal asing. Jika The Fed memangkas suku bunga, hal ini cenderung melemahkan USD karena modal mengalir keluar ke negara-negara yang menawarkan pengembalian yang lebih tinggi. Jika suku bunga dibiarkan tidak berubah, perhatian beralih ke nada pernyataan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC), dan apakah FOMC hawkish (mengharapkan suku bunga masa depan yang lebih tinggi), atau dovish (mengharapkan suku bunga masa depan yang lebih rendah).

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Rab Jan 28, 2026 19.00

Frekuensi: Tidak teratur

Konsensus: 3.75%

Sebelumnya: 3.75%

Sumber: Federal Reserve

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.