Rupiah Menguat ke Rp17.880, USD/IDR Turun Jelang Keputusan BI-Rate
|- Rupiah kembali ke bawah Rp17.900 per Dolar AS setelah terkoreksi pada awal pekan.
- Prakiraan pasar terpecah antara kenaikan BI-Rate 25 basis poin dan jeda di 5,75%.
- Dolar AS masih ditopang risiko Teluk, tetapi minyak turun seiring munculnya jalur diplomatik.
Rupiah kembali menguat ke wilayah di bawah Rp17.900 per Dolar AS pada perdagangan Selasa, pulih dari koreksi pada awal pekan menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) besok. Mata uang Garuda di pekan sebelumnya mencatat penguatan selama empat sesi berturut-turut pada 14-17 Juli, dengan akumulasi 215 poin atau 1,19%.
Pada penutupan pasar domestik, pasangan mata uang USD/IDR diperdagangkan di sekitar Rp17.880, turun 55 poin atau 0,31% dari penutupan Senin di Rp17.935. Penguatan berlangsung ketika Dolar AS masih bergerak dekat level tertinggi satu pekan, sementara penurunan harga minyak sedikit meredakan kekhawatiran terhadap biaya impor energi Indonesia.
Pasar Terbelah Menjelang Keputusan BI
Pasar akan mencermati keputusan BI pada Rabu. Kalender ekonomi mencantumkan konsensus kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 6,00%.
Dalam catatan yang dikutip FocusEconomics setelah RDG Juni, EIU menempatkan kenaikan 25 basis poin pada Juli sebagai skenario dasar. “Prakiraan dasar kami adalah satu lagi kenaikan suku bunga kebijakan sebesar 25 basis poin pada bulan Juli, sehingga suku bunga kebijakan menjadi 6%,” kata analis lembaga tersebut. EIU juga memprakirakan peluang 30%-40% untuk kenaikan tambahan pada Agustus.
Nomura mengambil pandangan lebih hawkish dengan memproyeksikan kenaikan masing-masing 25 basis poin pada Juli dan September, yang akan membawa BI-Rate menjadi 6,25% pada akhir tahun. Proyeksi tersebut didasarkan pada tekanan neraca pembayaran dan potensi pelebaran defisit transaksi berjalan.
Kenaikan suku bunga dapat membantu menjaga kepercayaan pasar dan daya tarik aset Rupiah, tetapi pengetatan tambahan juga berisiko membebani kredit, likuiditas, dan pertumbuhan ekonomi.
Analis Melihat Rupiah Memasuki Fase Stabilitas
Prospek Rupiah mulai membaik setelah pulih sekitar 1,7% dari rekor terendah Rp18.190 yang tercatat pada Juni. Bloomberg mencatat volatilitas tersirat tiga bulan USD/IDR turun 115 basis poin menjadi 6,78% dari 7,93%, mengindikasikan berkurangnya ketidakpastian jangka pendek.
Credit Agricole memproyeksikan Rupiah menguat ke sekitar Rp17.850 pada kuartal III, sedangkan Bank Julius Baer melihat ruang menuju Rp17.800.
“Rupiah diprakirakan akan stabil pada kuartal ketiga menyusul kenaikan suku bunga BI dan aturan yang lebih ketat untuk mengekang aliran spekulatif,” kata Jeffrey Zhang, ahli strategi pasar negara berkembang di Credit Agricole.
Sebagai penyeimbang, David A. Meier dari Julius Baer mengingatkan bahwa pemulihan kepercayaan investor membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan moneter.
Dolar AS Bertahan, Minyak Turun di Tengah Harapan De-eskalasi
Indeks Dolar AS (DXY) bergerak dekat level tertinggi satu pekan sebelum terkoreksi ke sekitar 100,95 pada awal sesi Eropa, setelah menguat selama tiga sesi berturut-turut.
Chris Turner dari ING menilai memburuknya perkembangan di kawasan Teluk dan kenaikan harga energi masih menopang Greenback, meski penguatannya relatif terbatas. “Agak mengejutkan melihat Dolar tidak sedikit lebih kuat. Indeks Dolar DXY masih sekitar 1% di bawah level tertinggi Juni,” ujarnya. Menurut Turner, lemahnya data CPI dan PPI AS Juni meredam sebagian dukungan dari prospek kebijakan Federal Reserve yang hawkish.
Risiko geopolitik tetap tinggi setelah Iran mengeklaim menyerang fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait, menyusul operasi udara AS terhadap sasaran militer Iran untuk malam kesepuluh berturut-turut. Klaim tersebut belum dikonfirmasi secara independen.
Namun, harapan de-eskalasi muncul setelah proposal mediator untuk gencatan senjata selama 10 hari disampaikan kepada Teheran. Belum ada persetujuan dari kedua belah pihak, tetapi kabar itu membantu menekan WTI 0,40% ke USD82,90 dan Brent 0,66% ke USD88,63 per barel.
Risiko energi tetap relevan bagi Indonesia. ICP Juni ditetapkan sebesar USD83,45 per barel, turun dari USD106,56 pada Mei tetapi masih melampaui asumsi APBN 2026 sebesar USD70 per barel.
Pasar juga menantikan estimasi mingguan ketenagakerjaan swasta ADP AS pada Selasa malam, sebelum perhatian beralih ke PMI pendahuluan S&P Global pada Jumat.
Pertanyaan Umum Seputar Bank-Bank Sentral
Bank Sentral memiliki mandat utama yaitu memastikan adanya stabilitas harga di suatu negara atau kawasan. Perekonomian terus-menerus menghadapi inflasi atau deflasi ketika harga barang dan jasa tertentu berfluktuasi. Kenaikan harga yang terus-menerus untuk barang yang sama berarti inflasi, penurunan harga yang terus-menerus untuk barang yang sama berarti deflasi. Tugas bank sentral adalah menjaga permintaan tetap sesuai dengan mengubah suku bunga kebijakannya. Bagi bank sentral terbesar seperti Federal Reserve AS (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB) atau Bank of England (BoE), mandatnya adalah menjaga inflasi mendekati 2%.
Bank sentral memiliki satu alat penting yang dapat digunakan untuk menaikkan atau menurunkan inflasi, yaitu dengan mengubah suku bunga acuannya, yang umumnya dikenal sebagai suku bunga. Pada saat-saat yang telah dikomunikasikan sebelumnya, bank sentral akan mengeluarkan pernyataan dengan suku bunga acuannya dan memberikan alasan tambahan terkait mengapa bank ini mempertahankan atau mengubahnya (memotong atau menaikkan). Bank-bank lokal akan menyesuaikan suku bunga tabungan dan pinjaman mereka, yang pada gilirannya akan mempersulit atau mempermudah orang untuk mendapatkan penghasilan dari tabungan mereka atau bagi perusahaan-perusahaan untuk mengambil pinjaman dan melakukan investasi dalam bisnis mereka. Ketika bank sentral menaikkan suku bunga secara substansial, hal ini disebut pengetatan moneter. Ketika memotong suku bunga acuannya, maka disebut pelonggaran moneter.
Bank sentral sering kali independen secara politik. Anggota dewan kebijakan bank sentral melewati serangkaian panel dan sidang sebelum diangkat ke kursi dewan kebijakan. Setiap anggota di dewan tersebut sering kali memiliki keyakinan tertentu tentang bagaimana bank sentral harus mengendalikan inflasi dan kebijakan moneter berikutnya. Anggota yang menginginkan kebijakan moneter yang sangat longgar, dengan suku bunga rendah dan pinjaman murah, untuk meningkatkan ekonomi secara substansial semantara merasa puas melihat inflasi sedikit di atas 2%, disebut 'dove'. Anggota yang lebih suka melihat suku bunga yang lebih tinggi untuk menghargai tabungan dan ingin menjaga inflasi tetap rendah setiap saat disebut 'hawk' dan tidak akan beristirahat sampai inflasi mencapai atau sedikit di bawah 2%.
Biasanya, ada ketua atau presiden yang memimpin setiap rapat, perlu menciptakan konsensus antara pihak yang mendukung atau menentang kebijakan moneter dan memiliki keputusan akhir ketika keputusan harus diambil berdasarkan suara yang terbagi untuk menghindari hasil seri 50-50 mengenai apakah kebijakan saat ini harus disesuaikan. Ketua akan menyampaikan pidato yang sering kali dapat diikuti secara langsung, di mana sikap dan prospek moneter saat ini dikomunikasikan. Bank sentral akan mencoba untuk mendorong kebijakan moneternya tanpa memicu perubahan tajam pada suku bunga, ekuitas, atau mata uangnya. Semua anggota bank sentral akan mengarahkan sikap mereka ke pasar sebelum acara rapat kebijakan. Beberapa hari sebelum rapat kebijakan berlangsung hingga kebijakan baru dikomunikasikan, anggota dilarang berbicara di depan umum. Hal ini disebut periode blackout.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.