Rupiah Melemah ke Rp16.845 per Dolar AS, Pasar Tunggu Data Inflasi AS
|- Rupiah turun sekitar 0,35% ke Rp16.845 per dolar AS, tertekan ekspektasi suku bunga global yang masih tinggi.
- Dolar sempat pullback ke area 96,80-an, namun investor tetap berhati-hati menjelang rilis inflasi AS.
- Sentimen fiskal domestik dan arus modal asing turut membentuk arah rupiah dalam jangka pendek.
Rupiah melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat, dengan pasangan mata uang USD/IDR diperdagangkan di sekitar Rp16.845, naik sekitar 0,35% dibanding sesi sebelumnya. Tekanan eksternal masih membayangi mata uang domestik, seiring dolar tetap mendapat dukungan dari ekspektasi suku bunga global yang relatif tinggi.
Pada perdagangan Kamis, rupiah sempat bergerak di kisaran Rp16.822-16.828 per dolar AS setelah data ketenagakerjaan AS yang kuat mendorong pasar menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat. Namun penguatan dolar belum sepenuhnya berlanjut, dengan Indeks Dolar AS (DXY) sempat mengalami pullback ke area 96,80-an pada sesi AS semalam. Di sesi Asia Jumat, indeks dolar stabil di sekitar 97, sementara investor menanti rilis data inflasi AS.
Secara teknis, USD/IDR bergerak dalam rentang dalam perdagangan harian sekitar Rp16.803-16.854, mencerminkan fase konsolidasi dengan bias pelemahan rupiah. Area Rp16.800-16.820 dipandang sebagai penopang terdekat, sementara kisaran Rp16.850-16.900 menjadi resistance psikologis yang mulai diuji pasar.
Dalam perspektif lebih luas, posisi rupiah masih relatif dekat sisi atas rentang 52 minggu sekitar Rp16.085 hingga Rp16.987, menandakan investor tetap berhati-hati terhadap aset emerging markets. Arah rupiah ke depan diprakirakan tetap dipengaruhi perkembangan dolar AS, ekspektasi kebijakan Federal Reserve, serta sentimen domestik seperti inflasi dan arus modal asing.
Dari sisi domestik, Presiden Prabowo menegaskan program makan gratis tetap dilanjutkan dengan pembiayaan dari efisiensi anggaran. Namun besarnya rencana belanja fiskal, ditambah peringatan transparansi pasar dari MSCI serta prospek peringkat negatif dari Moody’s, dinilai berpotensi menekan sentimen terhadap aset domestik termasuk rupiah.
Sementara itu, Ekonom Senior RBC Economics Claire Fan menilai prospek ekonomi AS relatif stabil, dengan tingkat pengangguran diprakirakan bertahan di sekitar 4,5% pada 2026. Federal Reserve diprakirakan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%-3,75% hingga tahun depan, meski peluang pelonggaran tetap terbuka bergantung pada dinamika inflasi dan kebijakan perdagangan.
Data AS terbaru menunjukkan klaim tunjangan pengangguran awal naik menjadi sekitar 227 ribu, sedikit di atas konsensus dan angka sebelumnya, mengindikasikan moderasi pasar tenaga kerja meski dampaknya terhadap dolar masih terbatas. Fokus pasar kini beralih ke data inflasi AS, dengan IHK Januari diprakirakan stabil sekitar 0,3% bulanan dan 2,5% tahunan. Hasil data tersebut serta pidato pejabat The Fed diprakirakan akan memengaruhi pergerakan dolar, imbal hasil obligasi global, dan pada akhirnya arah rupiah dalam jangka pendek.
Indikator Ekonomi
Indeks Harga Konsumen (Thn/Thn)
Kecenderungan inflasi atau deflasi diukur dengan menjumlahkan harga sekeranjang barang dan jasa secara berkala dan menyajikan datanya sebagai Indeks Harga Konsumen (IHK). Data IHK dikumpulkan setiap bulan dan dirilis oleh Departemen Statistik Tenaga Kerja AS. Laporan bulanan ini membandingkan harga barang-barang pada bulan referensi dengan bulan sebelumnya. IHK Tidak termasuk Makanan & Energi tidak menyertakan komponen makanan dan energi yang lebih fluktuatif untuk memberikan pengukuran tekanan harga yang lebih akurat. Secara umum, angka yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sedangkan angka yang rendah dianggap sebagai bearish.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Jum Feb 13, 2026 13.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 2.5%
Sebelumnya: 2.7%
Sumber: US Bureau of Labor Statistics
Federal Reserve AS (The Fed) memiliki mandat ganda untuk menjaga stabilitas harga dan lapangan kerja maksimum. Menurut mandat tersebut, inflasi seharusnya berada di sekitar 2% YoY dan telah menjadi pilar terlemah dari arahan bank sentral sejak dunia mengalami pandemi, yang berlanjut hingga saat ini. Tekanan harga terus meningkat di tengah masalah rantai pasokan dan kemacetan, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) bertahan di level tertinggi multi-dekade. The Fed telah mengambil langkah-langkah untuk mengekang inflasi dan diprakirakan akan mempertahankan sikap agresif di masa mendatang.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.