fxs_header_sponsor_anchor

Berita

Rupiah Masih Tertekan secara Eksternal di Atas 16.850, Pasar Hati-Hati jelang Inflasi AS

  • Rupiah tertekan di atas 16.850, mendekati batas atas rentang pergerakan seiring meningkatnya sikap hati-hati pasar menjelang rilis IHK AS.
  • Risiko eksternal menguat, menyusul isu independensi The Fed akibat penyelidikan terhadap Jerome Powell, eskalasi geopolitik AS-Iran, serta ancaman tarif tambahan 25% yang menopang permintaan dolar AS.
  • Data domestik tetap solid, dengan Penjualan Ritel November tumbuh 6,3% YoY, namun dampaknya tertahan oleh dominasi sentimen global dan ekspektasi kebijakan moneter AS.

Nilai tukar rupiah melanjutkan pergerakan defensif pada perdagangan Selasa siang, dengan pasangan mata uang USD/IDR naik ke area 16.880-16.885, menguat sekitar 0,4% secara harian. Pergerakan ini menempatkan rupiah mendekati batas atas rentang harian, mencerminkan kehati-hatian pasar yang masih dominan di tengah meningkatnya ketidakpastian kebijakan global.

Dari eksternal, sentimen pasar dibayangi eskalasi risiko kebijakan di Amerika Serikat setelah munculnya penyelidikan kriminal pemerintahan Presiden AS Donald Trump terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell. Langkah ini memunculkan kembali pertanyaan terkait independensi bank sentral AS, sekaligus menahan ruang penguatan aset berisiko. Ketegangan geopolitik juga meningkat, menyusul pernyataan Trump terkait opsi respons keras terhadap Iran serta rencana penerapan tarif tambahan 25% bagi negara yang tetap menjalin hubungan dagang dengan Teheran. Kombinasi faktor ini mendorong pasar global memperkuat sikap defensif dan menopang permintaan dolar AS.

Di sisi moneter, rilis Nonfarm Payrolls (NFP) AS pekan lalu memperkuat pandangan bahwa The Fed cenderung mempertahankan sikap kebijakan yang berhati-hati pada awal tahun. Meski pasar masih membangun ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan di paruh akhir tahun, fokus jangka pendek kini tertuju pada rilis inflasi AS (IHK). Perbedaan signifikan dari konsensus berpotensi memicu penyesuaian ekspektasi suku bunga, sehingga berpotensi meningkatkan volatilitas USD dan menekan mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, sentimen domestik justru menunjukkan ketahanan. Penjualan ritel Indonesia (Retail Sales YoY) November yang dirilis kemarin tercatat tumbuh 6,3%, meningkat tajam dari 4,3% pada bulan sebelumnya. Data ini mengindikasikan konsumsi rumah tangga yang tetap kuat menjelang akhir tahun, sekaligus memperkuat fondasi permintaan domestik. Namun, kekuatan data tersebut belum sepenuhnya tercermin pada pergerakan rupiah, seiring dominasi faktor eksternal dalam pembentukan arah pasar.

Secara teknis, struktur USD/IDR masih memperlihatkan kecenderungan higher low dengan bias menanjak yang terjaga. Area 16.750-16.780 berfungsi sebagai support jangka pendek, sementara zona 16.900-16.970 menjadi area uji berikutnya apabila tekanan eksternal berlanjut. Selama ketidakpastian global belum mereda, rupiah berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi defensif, dengan pasar menunggu katalis yang lebih tegas untuk menentukan arah berikutnya.

Sebagai penutup, tekanan terhadap rupiah juga dibentuk oleh risiko fundamental domestik jangka menengah yang masih menjadi perhatian investor. Head of Banking Research and Analytics Economy BCA, Victor George Petrus Matindas, kepada CNBC Indonesia, menilai ruang penguatan rupiah tahun ini cenderung terbatas dan berpotensi bertahan di kisaran atas Rp16.800 per dolar AS, seiring kombinasi risiko pelebaran defisit fiskal, potensi akselerasi inflasi, serta kecenderungan menyempitnya surplus perdagangan. Dinamika tersebut mulai tercermin pada pergerakan arus modal, dengan Bank Indonesia (BI) mencatat outflow Rp1,38 triliun dari pasar SBN pada awal Januari, yang menegaskan bahwa pasar masih menahan langkah sebelum melihat perbaikan yang lebih meyakinkan pada keseimbangan fiskal dan inflasi.

Indikator Ekonomi

Indeks Harga Konsumen (Thn/Thn)

Kecenderungan inflasi atau deflasi diukur dengan menjumlahkan harga sekeranjang barang dan jasa secara berkala dan menyajikan datanya sebagai Indeks Harga Konsumen (IHK). Data IHK dikumpulkan setiap bulan dan dirilis oleh Departemen Statistik Tenaga Kerja AS. Laporan bulanan ini membandingkan harga barang-barang pada bulan referensi dengan bulan sebelumnya. IHK Tidak termasuk Makanan & Energi tidak menyertakan komponen makanan dan energi yang lebih fluktuatif untuk memberikan pengukuran tekanan harga yang lebih akurat. Secara umum, angka yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sedangkan angka yang rendah dianggap sebagai bearish.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Sel Jan 13, 2026 13.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 2.7%

Sebelumnya: 2.7%

Sumber: US Bureau of Labor Statistics

Federal Reserve AS (The Fed) memiliki mandat ganda untuk menjaga stabilitas harga dan lapangan kerja maksimum. Menurut mandat tersebut, inflasi seharusnya berada di sekitar 2% YoY dan telah menjadi pilar terlemah dari arahan bank sentral sejak dunia mengalami pandemi, yang berlanjut hingga saat ini. Tekanan harga terus meningkat di tengah masalah rantai pasokan dan kemacetan, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) bertahan di level tertinggi multi-dekade. The Fed telah mengambil langkah-langkah untuk mengekang inflasi dan diprakirakan akan mempertahankan sikap agresif di masa mendatang.

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2025 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.