Rupiah Masih di Sekitar 16.900 per Dolar AS, Pasar Menunggu Data Tenaga Kerja AS
|- Rupiah melemah sekitar 0,25% ke 16.917 per dolar AS, mendekati batas atas rentang harian 16.880-16.945.
- Cadangan devisa Indonesia turun ke USD151,9 miliar, namun masih jauh di atas standar kecukupan internasional.
- Pasar global mencermati data tenaga kerja AS dan eskalasi konflik Iran-Israel yang berpotensi memengaruhi arah dolar AS.
Nilai tukar rupiah bergerak melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat, dengan pasangan mata uang USD/IDR diperdagangkan di sekitar 16.917, naik sekitar 0,25% dari penutupan sebelumnya di kisaran 16.875. Pergerakan ini menempatkan rupiah mendekati batas atas rentang harian 16.880-16.945, mencerminkan tekanan eksternal yang masih terasa di pasar valuta asing domestik.
Dari sisi domestik, cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 tercatat USD151,9 miliar, turun dari USD154,6 miliar pada Januari. Bank Indonesia menyebut penurunan tersebut dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global. Meski menurun, level cadangan devisa masih tergolong kuat, setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor, sehingga dinilai tetap mampu menopang ketahanan sektor eksternal dan stabilitas makroekonomi.
Sementara itu, sejumlah data ekonomi AS yang dirilis Kamis malam menunjukkan sinyal beragam. PHK Challenger tercatat 48.307 pada Februari, berbalik dari 108.435 sebelumnya, sementara klaim tunjangan pengangguran awal sebesar 213 ribu, sedikit di bawah ekspektasi 215 ribu, menandakan pasar tenaga kerja masih relatif kuat.
Di sisi lain, produktivitas non-pertanian kuartal IV tercatat 2,8%, lebih rendah dari estimasi 4,8% dan melambat dari 5,2% sebelumnya, sementara biaya unit buruh meningkat 2,8% dari kontraksi -1,8%. Data yang beragam ini membuat pasar tetap mencermati prospek inflasi dan arah kebijakan suku bunga The Fed, yang turut memengaruhi pergerakan dolar AS dan yang pada gilirannya akan memengaruhi USD/IDR.
Di tengah dinamika ekonomi tersebut, ketegangan geopolitik juga masih membayangi pasar global. Konflik Iran-Israel memasuki hari ketujuh, dengan Iran dilaporkan meluncurkan rudal dan drone di kawasan Teluk, termasuk menyerang kilang minyak di Bahrain, sementara Israel melanjutkan serangan udara di Teheran. Amerika Serikat juga dilaporkan menangguhkan operasi di kedutaannya di Kuwait sebagai langkah kehati-hatian.
Dari sisi kebijakan moneter, Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee mengatakan institusi tersebut menghadapi tantangan kepercayaan publik, namun menegaskan bahwa struktur sistem Federal Reserve yang terdesentralisasi telah bekerja dengan baik. Ia juga menekankan bahwa independensi bank sentral tetap penting dalam menjaga inflasi tetap terkendali.
Ke depan, pelaku pasar menantikan data tenaga kerja Amerika Serikat, terutama laporan Nonfarm Payrolls (NFP). Konsensus memprakirakan penambahan sekitar 59 ribu pekerjaan pada Februari, setelah kenaikan 130 ribu pada Januari. Selain itu, penjualan ritel AS diprakirakan turun 0,3% secara bulanan pada Januari setelah mencatatkan angka datar pada bulan sebelumnya. Data-data tersebut berpotensi memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah ekonomi AS dan pergerakan dolar AS terhadap mata uang global, termasuk rupiah.
Indikator Ekonomi
Nonfarm Payroll (NFP)
Rilis Nonfarm Payrolls menyajikan jumlah pekerjaan baru yang diciptakan di AS selama bulan sebelumnya di semua bisnis non pertanian; dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS). Perubahan bulanan dalam payrolls bisa sangat fluktuatif. Angka tersebut juga tunduk pada tinjauan yang kuat, yang juga dapat memicu volatilitas di bursa Forex. Secara umum, pembacaan yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dipandang sebagai bearish, meskipun tinjauan bulan sebelumnya dan Tingkat Pengangguran sama relevannya dengan angka utama. Oleh karena itu, reaksi pasar bergantung pada bagaimana pasar menilai semua data yang terkandung dalam laporan BLS secara keseluruhan.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Jum Mar 06, 2026 13.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 59Rb
Sebelumnya: 130Rb
Sumber: US Bureau of Labor Statistics
Laporan lapangan pekerjaan bulanan Amerika dianggap sebagai indikator ekonomi paling penting bagi pedagang valas. Dirilis pada hari Jumat pertama setelah bulan yang dilaporkan, perubahan jumlah posisi berkorelasi erat dengan kinerja ekonomi secara keseluruhan dan dipantau oleh pembuat kebijakan. Pekerjaan penuh adalah salah satu mandat Federal Reserve dan mempertimbangkan perkembangan di pasar tenaga kerja saat menetapkan kebijakannya, sehingga berdampak pada mata uang. Meskipun beberapa indikator utama membentuk perkiraan, Nonfarm Payrolls cenderung mengejutkan pasar dan memicu volatilitas yang substansial. Angka aktual yang mengalahkan konsensus cenderung membuat USD bullish.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.