fxs_header_sponsor_anchor

Berita

Rupiah Kembali di Atas 17.000 Jelang Data PCE dan Inflasi AS, Tertekan Geopolitik dan Kebijakan The Fed

  • Rupiah kembali melemah ke 17.065 di tengah penguatan dolar AS.
  • Ketidakpastian Hormuz dan ekspektasi suku bunga tinggi The Fed menopang dolar.
  • Cadangan devisa kuat dan penerbitan SRBI ditingkatkan, namun tekanan eksternal dan arus modal menahan penguatan.

Rupiah kembali tertekan dan diperdagangkan di atas level psikologis 17.000, dengan pasangan mata uang USD/IDR naik ke kisaran 17.065 menjelanga awal sesi Eropa. Pergerakan ini terjadi di tengah penguatan dolar AS yang didorong oleh kombinasi ketidakpastian geopolitik dan bertahannya ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat.

Pasar mulai menata ulang posisi seiring meningkatnya risiko di Timur Tengah. Ketidakpastian gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, ditambah eskalasi di Lebanon, membuat Iran tetap mempertahankan kontrol ketat atas jalur pelayaran di Selat Hormuz dengan akses yang terbatas dan bersyarat. Risiko gangguan distribusi energi global ini menjaga premi risiko tetap tinggi dan menopang permintaan dolar sebagai aset lindung nilai.

Di sisi lain, risalah rapat Federal Reserve (The Fed) mengindikasikan kebijakan suku bunga yang berpotensi bertahan tinggi lebih lama. Pejabat The Fed menilai lonjakan harga energi dapat mendorong inflasi, sehingga ruang pelonggaran kebijakan masih terbatas. Meski peluang pemangkasan suku bunga masih terbuka, ekspektasi pelonggaran yang tidak agresif membuat dolar tetap kuat dan menahan penguatan rupiah.

Cadangan Devisa Menopang, BI Mulai Tarik Inflow

Dari sisi domestik, cadangan devisa Indonesia yang berada di kisaran US$151,9 miliar tetap menjadi bantalan penting bagi stabilitas rupiah. Posisi ini mencerminkan kemampuan Bank Indonesia (BI) dalam menjaga ketahanan eksternal di tengah volatilitas pasar.

BI juga mulai memperkuat kembali instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai bagian dari upaya menarik aliran dana asing. Setelah menurunkan outstanding SRBI sebesar Rp192,64 triliun sepanjang 2025 – dari Rp923,53 triliun menjadi Rp730,89 triliun – arah kebijakan mulai berbalik pada 2026.

Outstanding SRBI tercatat meningkat menjadi Rp755 triliun pada Januari, naik ke Rp837 triliun pada Februari, dan berada di kisaran Rp831 triliun per akhir Maret. Pergeseran ini mengindikasikan BI mulai menata ulang fokus kebijakan dari pelonggaran likuiditas menuju penguatan stabilitas nilai tukar.

Tekanan Eksternal Masih Membatasi Ruang Gerak

Tekanan terhadap rupiah tercermin pada meningkatnya kebutuhan dolar untuk impor energi di tengah kenaikan harga minyak global. Di saat yang sama, potensi arus keluar dana asing dari pasar keuangan domestik turut menjaga pergerakan rupiah tetap terbatas.

Data domestik juga menunjukkan pelemahan konsumsi. Penjualan sepeda motor tercatat sekitar 449 ribu unit pada Maret, turun 17,1% secara tahunan, yang menandakan permintaan masyarakat mulai melambat di tengah tekanan global.

Pasar Menunggu Arah Baru dari Inflasi AS

Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar kini cenderung berhati-hati sambil menunggu konfirmasi tambahan dari data inflasi Amerika Serikat, termasuk PCE dan IHK, yang akan menjadi acuan utama arah kebijakan The Fed.

Selama kombinasi risiko geopolitik dan suku bunga tinggi masih bertahan, rupiah diprakirakan tetap berada dalam tekanan. Namun, jika tekanan global mulai mereda, peluang stabilisasi dapat terbuka secara bertahap, memberi ruang bagi pasar untuk menyeimbangkan kembali ekspektasi.

Indikator Ekonomi

Belanja Konsumsi Perorangan Inti - Indeks Harga (Thn/Thn)

Belanja Konsumsi Perorangan (Personal Consumption Expenditures/PCE) Inti, yang dirilis oleh Biro Analisis Ekonomi, mengukur perubahan nilai semua barang dan jasa yang dibeli oleh penduduk AS pada periode tertentu, tidak termasuk komponen makanan dan energi yang lebih fluktuatif. Data triwulanan dirilis dalam laporan Produk Domestik Bruto (PDB) yang lebih luas. Data tersebut merupakan proksi untuk belanja konsumen, pendorong utama ekonomi AS. Secara umum, pembacaan yang tinggi dianggap sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dianggap sebagai bearish.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Kam Apr 09, 2026 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 3%

Sebelumnya: 3.1%

Sumber: US Bureau of Economic Analysis

Setelah menerbitkan laporan PDB, Biro Analisis Ekonomi AS merilis data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) bersama dengan perubahan bulanan dalam Pengeluaran Pribadi dan Pendapatan Pribadi. Pembuat kebijakan FOMC menggunakan Indeks Harga PCE Inti tahunan, yang tidak termasuk harga makanan dan energi yang bergejolak, sebagai pengukur utama inflasi mereka. Pembacaan yang lebih kuat dari perkiraan dapat membantu USD mengungguli para pesaingnya karena akan mengisyaratkan kemungkinan pergeseran hawkish dalam panduan ke depan The Fed dan sebaliknya.

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.