fxs_header_sponsor_anchor

Berita

Rupiah Indonesia Bertahan saat Bank Indonesia Meningkatkan Upaya untuk Menstabilkan Pasar

  • Bank Indonesia berjanji melakukan intervensi pasar yang agresif dan langkah-langkah likuiditas menyusul keluarnya Perry Warjiyo secara mendadak.
  • Jeda The Fed yang hawkish dan perbedaan pendapat internal untuk kenaikan suku bunga dapat segera mendorong Dolar AS.
  • Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan mandeknya pembicaraan diplomatik terus membebani sentimen pasar global yang lebih luas.

USD/IDR naik tipis setelah dibuka dengan gap bearish, tetap berada di wilayah negatif dan diperdagangkan di sekitar 18.110 selama sesi perdagangan Asia pada hari Kamis. Pasangan mata uang ini terus menghadapi tekanan ke bawah karena Rupiah Indonesia (IDR) mendapat dukungan dari janji Bank Indonesia (BI) untuk memperkuat stabilisasi pasar menyusul kepergian Gubernur Perry Warjiyo yang tak terduga.

Untuk meyakinkan investor, Bank Indonesia menekankan ketergantungannya pada bauran kebijakan yang luas di luar suku bunga acuan. Perangkat ini mencakup intervensi valas spot langsung, non-deliverable forwards (NDF) onshore dan offshore, serta penerbitan surat berharga berdenominasi rupiah (SRBI) untuk mengelola likuiditas pasar dan menarik modal asing, melanjutkan total kenaikan suku bunga sebesar 100 basis poin yang telah diterapkan sejak bulan Mei.

Namun, Dolar AS (USD) dapat kembali memperoleh momentum dan mendorong pasangan mata uang ini lebih tinggi setelah Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga dengan nada hawkish. Meski The Fed membiarkan suku bunga tetap pada kisaran target 3,50%–3,75% dalam pertemuan Juli, sesuai prakiraan luas pasar, keputusan tersebut mengungkap perbedaan pandangan yang cenderung hawkish di dalam bank sentral. Presiden The Fed Dallas Lorie Logan, Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, dan Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari menyatakan perbedaan pendapat dengan keputusan mayoritas dan mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Memperkuat sikap ini dalam konferensi pers pascapertemuan, Ketua The Fed Kevin Warsh memberi sinyal bahwa meskipun The Fed akan menahan diri untuk tidak memberikan panduan ke depan yang eksplisit mengenai jalur suku bunga di masa mendatang, bank sentral tetap sepenuhnya berkomitmen untuk mengambil tindakan apa pun yang diperlukan guna mencapai target inflasi 2%.

Menambah volatilitas pasar, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus memengaruhi sentimen keuangan global. Selera risiko tetap lemah setelah janji Presiden Donald Trump untuk memberikan respons tegas terhadap serangan terbaru terhadap pasukan AS di Yordania. Sementara itu, negosiasi diplomatik masih mandek, sebagian besar karena sikap tegas Teheran untuk mempertahankan kendali atas Selat Hormuz yang sangat vital secara strategis.

Ketua The Fed Warsh Menegaskan Kembali Target 2%, Membuat Pembeli Dolar Tetap Tertarik

Nada konferensi pers Warsh terdengar lebih tegas dari biasanya. FXS Speechtracker memberi skor 7/10, dibandingkan baseline 6/10, yang menegaskan penguatan sikap hawkish. Pernyataannya bahwa “hanya ada satu target, yaitu 2%”, disertai penegasan bahwa inflasi “tidak dapat disembuhkan dalam sembilan minggu” dan Komite “tidak akan ragu untuk bertindak”, menunjukkan komitmen kuat terhadap stabilitas harga. Sikap tersebut tetap terlihat meski Warsh mengakui ketahanan ekonomi yang mengesankan serta tingkat imbal hasil nominal dan riil yang jauh lebih tinggi. Dengan menekankan bahwa Komite mulai mengurangi ketergantungan pada prakiraan dan lebih berfokus pada tren serta dinamika inflasi yang mendasari di tengah berbagai guncangan, Warsh memperkuat pendekatan berbasis data tanpa terpaku pada satu rilis tertentu, sekaligus menjaga ekspektasi inflasi tetap berlabuh pada target 2%.

FXS Fed Sentiment Index melonjak 18,94 poin menjadi 147,58, menempatkannya jauh di wilayah hawkish dan sejalan dengan nada lebih tegas yang ditangkap FXS Speechtracker. Kenaikan tajam tersebut mencerminkan persepsi pasar bahwa The Fed tetap berkomitmen membawa inflasi kembali ke target 2%, sebuah latar belakang yang seharusnya terus menopang Dolar AS terhadap mata uang utama lainnya.

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.