Rupiah Bertahan Defensif di Awal Pekan, Tekanan Saham dan Sinyal Global Uji Ruang Gerak
|- Rupiah defensif cenderung melemah terbatas di kisaran 16.800-16.820, mencerminkan kehati-hatian pasar di tengah tekanan domestik.
- Koreksi tajam IHSG hingga 5% pasca pembekuan rebalancing oleh MSCI membebani sentimen Rupiah.
- Data domestik bercampur, sementara narasi The Fed dan inflasi AS menjaga dolar tetap mendapat dukungan struktural.
Memasuki perdagangan Senin, arah Rupiah cenderung dibentuk oleh kombinasi tekanan domestik dan penyesuaian narasi global. Rupiah bergerak melemah menjelang sesi Eropa dengan pasangan mata uang USD/IDR naik ±49-50 poin, bertahan di kisaran 16.800-16.820, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar yang masih menahan eksposur terhadap aset Indonesia. Pelemahan berlangsung terukur dan belum menunjukkan karakter panik, menandakan pasar lebih banyak melakukan penataan ulang posisi ketimbang keluar secara agresif. Fokus utama tertuju pada dinamika domestik, terutama sentimen pasar saham dan persepsi risiko kebijakan, yang menjaga Rupiah berada di sisi defensif.
Tekanan terhadap Rupiah turut dipengaruhi dinamika dolar AS, meski pengaruhnya masih terbatas. Indeks dolar AS (DXY) menahan penurunan dan bergerak stabil di kisaran 97,2-97,3, menandakan fase konsolidasi tanpa terbentuknya momentum penguatan baru. Dengan konfigurasi tersebut, pelemahan Rupiah pada awal pekan ini lebih mencerminkan respons terhadap faktor domestik – terutama tekanan dari pasar saham – ketimbang dorongan kuat dari sisi dolar global.
Data Domestik Bercampur: Manufaktur Ekspansif, Inflasi Menguat, Surplus Dagang Menyempit
Data ekonomi Indonesia yang dirilis hari ini menghadirkan sinyal domestik yang bercampur dan cenderung menjaga kehati-hatian pasar. Aktivitas manufaktur tetap ekspansif, tercermin dari PMI Manufaktur S&P Global Januari yang naik ke 52,6 dari 51,2, mengindikasikan permintaan sektor riil yang masih terjaga. Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Desember mencatat surplus USD 2,52 miliar, sedikit menyempit dibanding periode sebelumnya, seiring lonjakan ekspor 11,64% YoY dan impor yang berbalik tumbuh 10,81% YoY – mencerminkan pemulihan permintaan domestik namun sekaligus menekan ruang surplus.
Di sisi harga, inflasi tahunan Januari naik ke 3,55% dari 2,92%, sementara inflasi inti meningkat tipis ke 2,45%, mengisyaratkan tekanan harga yang mulai menguat meski inflasi bulanan kembali deflasi -0,15%. Tambahan dukungan datang dari sektor pariwisata, dengan kunjungan wisatawan mancanegara tumbuh 14,43% YoY pada Desember, memperkuat kontribusi devisa di tengah volatilitas pasar keuangan.
IHSG Anjlok 5% pada Senin, Tekanan Saham Membayangi Rupiah di Tengah Pergeseran Narasi Global
Sementara itu di pasar saham domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah hingga 5% pada perdagangan hari ini, menyusul pengunduran diri sejumlah petinggi di BEI dan OJK pasca tindakan pembekuan sementara proses rebalancing saham Indonesia dalam seluruh indeksnya oleh MSCI, yang memperlihatkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap risiko domestik dan mendorong arus keluar dari aset berisiko Indonesia.
Menurut laporan Reuters, tekanan jual di pasar saham Indonesia dipicu kombinasi faktor internal, termasuk kekhawatiran terhadap tata kelola pasar dan stabilitas kebijakan, yang mendorong aksi pengurangan eksposur secara agresif. Pelemahan IHSG ini turut membebani persepsi terhadap Rupiah, mengingat korelasi kuat antara arus dana portofolio saham dan pergerakan nilai tukar.
Di tengah kondisi tersebut, pasar valuta asing cenderung menahan posisi pada mata uang emerging, termasuk Rupiah, sambil menunggu kejelasan apakah koreksi saham bersifat sementara atau berkembang menjadi tekanan struktural yang lebih dalam. Tekanan dari sisi saham mempersempit ruang penguatan Rupiah, meski belum memicu pelemahan yang tidak terkendali.
Pencalonan Warsh dan Inflasi Produsen Jaga Ekspektasi Suku Bunga The Fed
Selain faktor domestik, Rupiah turut dipengaruhi pergeseran narasi global yang kembali memusat pada Amerika Serikat. Presiden AS, Donald Trump, mencalonkan Kevin Warsh untuk menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve mulai Mei 2026, memicu spekulasi pasar mengenai kesinambungan arah kebijakan moneter.
Tekanan tersebut diperkuat oleh data inflasi produsen AS, di mana Bureau of Labor Statistics melaporkan IHP Desember naik 3,0% YoY dan 0,5% MoM, melampaui ekspektasi pasar. Kombinasi ini membentuk ulang ekspektasi suku bunga The Fed, dengan peluang bertahan di kisaran 3,50%-3,75% mendekati 87% dan pemangkasan pertama baru diproyeksikan pada Juni – sebuah konfigurasi yang menjaga dukungan struktural dolar AS dan mempersempit ruang gerak mata uang emerging, termasuk Rupiah.
Malam ini, pasar menanti rilis PMI Manufaktur ISM AS Januari beserta komponennya – harga dibayar, ketenagakerjaan, dan pesanan baru – yang akan menjadi petunjuk arah inflasi dan aktivitas sektor riil. Selain itu, pidato Raphael Bostic (The Fed) serta Survei Pinjaman Pegawai Kuartal IV turut dipantau. Bagi Rupiah, agenda ini berpotensi memicu volatilitas jangka pendek melalui pergerakan dolar AS, meski pengaruhnya bersifat pelengkap dibanding sentimen domestik.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.