Minyak WTI Rebound karena Kekhawatiran Pasokan Mengalahkan Kecemasan terhadap Permintaan
| |Terjemahan TerverifikasiLihat Artikel Asli- Harga Minyak WTI naik 0,40% pada hari Jumat setelah dua hari koreksi, didukung oleh kekhawatiran yang terus berlanjut atas gangguan pasokan energi.
- Iran mengatakan pihaknya tidak sedang mengadakan pembicaraan dengan AS mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.
- Kekhawatiran permintaan membatasi kenaikan harga Minyak setelah revisi turun lebih lanjut terhadap prakiraan konsumsi global.
Minyak AS West Texas Intermediate (WTI) rebound pada hari Jumat dan diperdagangkan di sekitar US$80,80 pada saat berita ini ditulis, naik 0,40% pada hari ini. Harga minyak memulihkan sebagian dari pelemahannya setelah dua hari koreksi karena para investor tetap khawatir terhadap gangguan pasokan energi di Timur Tengah.
Ketegangan seputar Selat Hormuz terus mendukung harga. Lalu lintas kapal komoditas sedikit meningkat pada hari Kamis tetapi masih jauh di bawah level yang terlihat sebelum konflik. Menurut data Kpler yang dikutip Reuters, jumlah transit masih berada di bawah rata-rata harian 12 yang tercatat sejauh ini pada bulan Agustus, dibandingkan dengan sekitar 130 hingga 140 kapal per hari sebelum perang.
Risiko pasokan juga tetap tinggi di sekitar Selat Bab el-Mandeb. Bersama dengan Selat Hormuz, kedua jalur perairan ini menyumbang sekitar 27% dari pasokan energi global, mempertahankan premi risiko yang signifikan di pasar Minyak selama navigasi masih sangat terganggu.
Dari sisi diplomatik, Iran mengatakan pihaknya tidak terlibat dalam pembicaraan apa pun dengan Amerika Serikat (AS) mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, Teheran mengatakan pihaknya berada pada tahap akhir pembicaraan dengan Oman mengenai pengelolaan bersama navigasi melalui jalur perairan strategis tersebut.
Namun, kekhawatiran terhadap permintaan global dapat membatasi potensi kenaikan WTI. Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) menurunkan prakiraannya untuk pertumbuhan permintaan minyak global tahun ini menjadi 580.000 barel per hari (bph), dari sebelumnya 780.000, menandai revisi turun keempat berturut-turut. International Energy Agency (IEA) juga memangkas prospek permintaannya, memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan dan harga yang tinggi mulai membebani konsumsi.
Oleh karena itu, Minyak WTI tetap terjebak di antara kekuatan yang berlawanan. Risiko pasokan yang terus-menerus di Timur Tengah mendukung harga dalam jangka pendek, sementara prospek permintaan global yang memburuk dapat membatasi pemulihan yang lebih kuat.
Volatilitas Minyak Berlanjut saat Gangguan Hormuz Mendorong Persediaan Menuju Level Terendah Historis
Para ahli strategi di Rabobank mencatat bahwa sejak berakhirnya memorandum of understanding pada Juni, “minyak mentah Brent telah bergerak dalam kisaran sekitar US$72–US$102 per barel, mengikuti setiap rumor mengenai kesepakatan damai maupun eskalasi baru,” menegaskan sensitivitas harga minyak terhadap berita utama seputar krisis Hormuz. Mereka menyoroti bahwa “transit tanker masih berada di kisaran 3–10 kapal per hari, dibandingkan dengan 130–140 kapal sebelum perang, dan perlu pulih ke sekitar 80 kapal per hari untuk menstabilkan pasar energi,” bahkan dengan sebagian arus saat ini dialihkan melalui East–West Pipeline Arab Saudi menuju terminal ekspor Yanbu serta terminal minyak Fujairah milik UEA. Pada saat yang sama, Rabobank memperingatkan bahwa “penurunan stok yang terus berlangsung telah membawa inventaris global menuju level terendah historis, terutama untuk produk olahan,” memperkuat pandangan bahwa pasar tetap sangat rentan terhadap guncangan pasokan lebih lanjut.
Analisis Teknis WTI US Oil
Pada grafik satu jam, WTI diperdagangkan di US$80,68, mempertahankan bias yang sedikit bearish karena masih tertahan di bawah Simple Moving Average (SMA) 100-jam di US$81,18 dan garis tren resistance menurun yang kini menjadi penghalang di dekat US$81,94. Harga masih bertahan di atas SMA 200-jam di US$78,75 dan support horizontal di US$80,00, mengindikasikan pullback korektif dalam struktur yang lebih luas dan masih konstruktif, sementara Relative Strength Index (RSI) di sekitar 46 sedikit cenderung ke sisi bawah tanpa mengindikasikan kondisi jenuh jual.
Di sisi atas, resistance terdekat berada di SMA 100-jam di US$81,18, diikuti garis tren di dekat US$81,94, dengan penghalang yang lebih kuat di US$83,57 dan kemudian US$84,50. Di sisi bawah, support awal berada di level horizontal US$80,00, sebelum SMA 200-jam di US$78,75, dan penembusan berkelanjutan di bawah level-level tersebut kemungkinan akan membuka jalan bagi pelemahan yang lebih dalam dalam jangka pendek.
(Analisis teknis dari cerita ini ditulis dengan bantuan alat AI. Pelajari lebih lanjut.)
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.