fxs_header_sponsor_anchor

ISAT Sempat Naik ke 1.975, Perseroan Catatkan Laba Rp4,3 Triliun

  • ISAT memulihkan penurunan hari kemarin yang mencapai 1.885.
  • Laba perseroan selama semester I 2026 sebesar Rp4,30 triliun.
  • Perseroan melakukan kerja sama dengan Nokia untuk memodernisasi jaringan seluler.

ISAT bergerak lebih tinggi 1,83% di 1.950 dari penutupan Senin lalu di awal sesi II hari ini. Saham PT Indosat Tbk dibuka dengan gap naik di 1.920 dan mencatatkan tertinggi harian di 1.975 menyusul rilis laporan keuangan perseroan untuk semester I 2026. Namun, belum ada tindak lanjut aksi beli untuk melepaskan saham ini dari kisaran sideways jangka pendek.

Laba Perseroan Lebih Tinggi 84,5% dari Periode Sebelumnya

Dalam laporan keuangan yang dirilis menuju penutupan sesi I hari ini, perseroan mencatatkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan ke entitas induk sebesar Rp4,30 triliun selama semester I 2026 yang lebih besar 84,5% dibandingkan dengan semester yang sama pada tahun lalu di Rp2,33 triliun. Jumlah pendapatan pada periode yang sama sebesar Rp30,65 triliun dibandingkan semester I 2025 sebesar Rp27,10 triliun. Jumlah aset perseroan pada Juni 2026 bertambah menjadi Rp138,30 triliun dari Rp99,62 triliun pada akhir 2025.

Lampiran yang disertakan dengan laporan di atas menyebutkan bahwa ARPU (Average Revenue Per User/Rata-Rata Pendapatan per Pelanggan) Seluler Gabungan tumbuh 17,3% menjadi Rp46 ribu dengan basis pelanggan seluler di 93 juta.Jumlat BTS 4G meningkat menjadi 214 ribu. Perseroan juga bekerja sama dengan Nokia untuk melakukan modernisasi jaringan seluluer Indosat melalui penerapan 5G Radio Access Network (RAN).

Meskipun naik lebih dari 2% ke 1.975, tren jangka lebih panjang ISAT adalah turun karena berada di bawah Simple Moving Average (SMA) 200-hari, meskipun jarak antara keduanya menyempit setelah saham ini rebound dari terendah 2026 di 1.660 yang diraih pada 9 Juni. Dalam jangka sangat pendek saham ini berada dalam konsolidasi sideways sejak minggu lalu. Laporan keuangan perseroan belum mampu menarik saham ini untuk keluar dari kisaran. Namun, aksi beli di sesi II mempertahankan indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 56,16, yang secara teori menunjukkan bahwa momentumnya bullish karena berada di atas level netral 50.

Grafik harian ISAT

Pertanyaan Umum Seputar Saham Asia

Asia menyumbang sekitar 70% pertumbuhan ekonomi global dan menjadi tuan rumah bagi beberapa indeks pasar saham utama. Di antara negara-negara maju di kawasan tersebut, Nikkei Jepang – yang mewakili 225 perusahaan di bursa saham Tokyo – dan Kospi Korea Selatan menonjol. Tiongkok memiliki tiga indeks penting: Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, dan Shenzhen Composite. Sebagai negara berkembang yang besar, ekuitas India juga menarik perhatian investor, yang semakin banyak berinvestasi di perusahaan-perusahaan dalam indeks Sensex dan Nifty.

Ekonomi utama di Asia berbeda-beda, dan masing-masing memiliki sektor khusus yang perlu diperhatikan. Perusahaan teknologi mendominasi indeks di Jepang, Korea Selatan, dan semakin banyak di Tiongkok. Layanan keuangan memimpin pasar saham seperti Hong Kong atau Singapura, yang dianggap sebagai pusat utama sektor ini. Manufaktur juga besar di Tiongkok dan Jepang, dengan fokus kuat pada produksi mobil atau elektronik. Kelas menengah yang berkembang di negara-negara seperti Tiongkok dan India juga semakin menonjolkan perusahaan yang berfokus pada ritel dan e-commerce.

Banyak faktor yang mendorong indeks pasar saham Asia, tetapi faktor utama di balik kinerjanya adalah hasil agregat dari perusahaan-perusahaan komponen yang terungkap dalam laporan pendapatan triwulanan dan tahunan mereka. Fundamental ekonomi masing-masing negara, serta keputusan bank sentral atau kebijakan fiskal pemerintah mereka, juga merupakan faktor penting. Secara lebih luas, stabilitas politik, kemajuan teknologi atau supremasi hukum juga dapat memengaruhi pasar ekuitas. Kinerja indeks ekuitas AS juga merupakan faktor karena, lebih sering daripada tidak, pasar Asia memimpin dari saham-saham Wall Street dalam semalam. Terakhir, sentimen risiko yang lebih luas di pasar juga berperan karena ekuitas dianggap sebagai investasi yang berisiko dibandingkan dengan opsi investasi lain seperti sekuritas pendapatan tetap.

Berinvestasi dalam ekuitas itu sendiri berisiko, tetapi berinvestasi dalam saham Asia disertai dengan risiko khusus kawasan yang perlu diperhitungkan. Negara-negara Asia memiliki berbagai macam sistem politik, dari demokrasi penuh hingga kediktatoran, sehingga stabilitas politik, transparansi, supremasi hukum, atau persyaratan tata kelola perusahaan mereka mungkin sangat berbeda. Peristiwa geopolitik seperti sengketa perdagangan atau konflik teritorial dapat menyebabkan volatilitas di pasar saham, seperti halnya bencana alam. Selain itu, fluktuasi mata uang juga dapat berdampak pada valuasi pasar saham Asia. Hal ini khususnya berlaku di negara-negara yang berorientasi ekspor, yang cenderung menderita karena mata uang yang lebih kuat dan mendapat keuntungan dari mata uang yang lebih lemah karena produk mereka menjadi lebih murah di luar negeri.

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.