ISAT Mencatatkan Kenaikan Mingguan +17%, Perseroan akan Adakan RUPS Luar Biasa
|- ISAT menunjukkan kinerja mingguan terbaik sejak pertengahan April 2022.
- Perseroan akan mengadakan RUPS Luar Biasa bulan depan.
- Indikator momentum menunjukkan ISAT berada dalam zona jenuh beli.
ISAT menutup pekan lalu lebih tinggi 2,83% di 2.540. Secara mingguan, saham ini mengalami kenaikan 17,05%, kinerja mingguan terbaik sejak pertengahan 2022. ISAT melanjutkan kinerja positif minggu sebelumnya menyusul kabar bahwa perseroan bekerja sama dengan Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA untuk membangun infrastruktur AI generasi terbaru. Perseroan juga akan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa, yang belum direspon pasar mengingat informasi ini dirilis pada hari Minggu.
Kinerja positif ISAT Jumat lalu turut membantu kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia untuk menutup hari perdagangan terakhir pekan lalu dengan naik 1,59% di 6.401 menuju Hari Kemerdekaan. Peristiwa penting selanjutnya untuk pasar Indonesia adalah keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) pada hari Rabu pekan ini. Pasar memprakirakan BI akan mempertahankan suku bunga di 5,75%.
Perseroan akan Mengadakan RUPS Luar Biasa pada September
Dalam informasi yang dirilis melalui keterbukaan informasi, perseroan berencana untuk melakukan RUPS Luar Biasa pada hari Selasa, 29 September 2026 secara daring. Tanggal Daftar Pemegang Saham (DPS) yang berhak hadir dalam rapat adalah pada 28 Agustus 2026. Tidak ada informasi mengenai agenda dalam rapat ini. Agenda diprakirakan diberitahukan dalam Pemanggilan RUPSLB pada 31 Agustus 2026.
Melihat kinerja keuangan, perseroan mencatatkan laba yang dapat diatribusikan ke entitas induk sebesar Rp4,30 triliun selama semester I 2026 yang lebih tinggi dari Rp2,33 triliun pada semester I 2025. Salah satu penyebab peningkatan laba itu adalah penjualan dan pendapatan usaha yang mencapai Rp30,65 triliun dibandingkan Rp27,10 triliun pada semester I tahun lalu.
Dari sisi posisi keuangan, jumlah aset perseroan bertambah menjadi Rp138,30 triliun pada akhir semester I 2026 dari Rp118,62 triliun pada akhir tahun lalu. Jumlah ekuitas meningkat menjadi Rp40,09 triliun dari Rp39,50 pada periode yang sama.
Namun, pendorong ISAT sejak awal bulan adalah kabar bahwa perseroan atau Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) meluncurkan Zankore by Indosat yang bekerja sama dengan Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA yang merupakan platform infrastruktur Artificial Intelligence/AI. Zankore by Indosat menjadi fondasi pengembangan salah satu platform infrastruktur AI factory terbesar di Asia Tenggara dengan target kapasitas AI Factory NVIDIA DSX 1 gigawatt (GW), seperti dikutip dari siaran pers perseroan.
Momentum di Zona Jenuh Beli
ISAT melanjutkan kenaikan setelah menembus Simple Moving Average (SMA) 200-hari pada 7 Agustus 2026. Keadaan tersebut membuat tren teknis jangka panjang saham ini berubah menjadi cenderung naik karena berada di atas SMA 200-hari. Namun, itu mengakibatkan indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari berada di atas level 60, menandakan bahwa momentumnya jenuh beli.
Di sisi atas, ISAT memiliki resistance terdekat di area 2.600, level-level yang coba ditembus saham ini sejak awal Desember tahun lalu namun belum berhasil. Di atas itu, batas selanjutnya muncul di 2.840 (tertinggi 26 dan 27 September 2025) dan 2.990 (tertinggi 18, 22, 23, dan 24 Juli 2024). Sementara di sisi bawah, ISAT ditopang oleh 2.097 (SMA 200-hari), area 1.850 (ujung bawah kisaran sideways 15 Juli – 6 Agustus), dan 1.660 (terendah 2026 yang diraih pada 9 Juni).
Pertanyaan Umum Seputar Saham Asia
Asia menyumbang sekitar 70% pertumbuhan ekonomi global dan menjadi tuan rumah bagi beberapa indeks pasar saham utama. Di antara negara-negara maju di kawasan tersebut, Nikkei Jepang – yang mewakili 225 perusahaan di bursa saham Tokyo – dan Kospi Korea Selatan menonjol. Tiongkok memiliki tiga indeks penting: Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, dan Shenzhen Composite. Sebagai negara berkembang yang besar, ekuitas India juga menarik perhatian investor, yang semakin banyak berinvestasi di perusahaan-perusahaan dalam indeks Sensex dan Nifty.
Ekonomi utama di Asia berbeda-beda, dan masing-masing memiliki sektor khusus yang perlu diperhatikan. Perusahaan teknologi mendominasi indeks di Jepang, Korea Selatan, dan semakin banyak di Tiongkok. Layanan keuangan memimpin pasar saham seperti Hong Kong atau Singapura, yang dianggap sebagai pusat utama sektor ini. Manufaktur juga besar di Tiongkok dan Jepang, dengan fokus kuat pada produksi mobil atau elektronik. Kelas menengah yang berkembang di negara-negara seperti Tiongkok dan India juga semakin menonjolkan perusahaan yang berfokus pada ritel dan e-commerce.
Banyak faktor yang mendorong indeks pasar saham Asia, tetapi faktor utama di balik kinerjanya adalah hasil agregat dari perusahaan-perusahaan komponen yang terungkap dalam laporan pendapatan triwulanan dan tahunan mereka. Fundamental ekonomi masing-masing negara, serta keputusan bank sentral atau kebijakan fiskal pemerintah mereka, juga merupakan faktor penting. Secara lebih luas, stabilitas politik, kemajuan teknologi atau supremasi hukum juga dapat memengaruhi pasar ekuitas. Kinerja indeks ekuitas AS juga merupakan faktor karena, lebih sering daripada tidak, pasar Asia memimpin dari saham-saham Wall Street dalam semalam. Terakhir, sentimen risiko yang lebih luas di pasar juga berperan karena ekuitas dianggap sebagai investasi yang berisiko dibandingkan dengan opsi investasi lain seperti sekuritas pendapatan tetap.
Berinvestasi dalam ekuitas itu sendiri berisiko, tetapi berinvestasi dalam saham Asia disertai dengan risiko khusus kawasan yang perlu diperhitungkan. Negara-negara Asia memiliki berbagai macam sistem politik, dari demokrasi penuh hingga kediktatoran, sehingga stabilitas politik, transparansi, supremasi hukum, atau persyaratan tata kelola perusahaan mereka mungkin sangat berbeda. Peristiwa geopolitik seperti sengketa perdagangan atau konflik teritorial dapat menyebabkan volatilitas di pasar saham, seperti halnya bencana alam. Selain itu, fluktuasi mata uang juga dapat berdampak pada valuasi pasar saham Asia. Hal ini khususnya berlaku di negara-negara yang berorientasi ekspor, yang cenderung menderita karena mata uang yang lebih kuat dan mendapat keuntungan dari mata uang yang lebih lemah karena produk mereka menjadi lebih murah di luar negeri.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.