IHSG Tutup Oktober di 5.057, Anjlok 16,7% dalam Sebulan di Tengah Tekanan MSCI
|- IHSG melemah 0,80% ke 5.057 pada Jumat, setelah sempat terperosok di bawah level psikologis 5.000.
- Sepanjang Oktober, IHSG kehilangan 16,70% atau sekitar 1.014 poin dibandingkan penutupan September.
- Ketidakpastian MSCI, arus keluar modal asing, dan aksi jual saham teknologi global memperburuk sentimen pasar menjelang November.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat kehilangan pijakan di bawah level psikologis 5.000 pada perdagangan terakhir Oktober, sebelum berjuang memangkas pelemahannya. Setelah terperosok hingga 4.979, indeks akhirnya ditutup di 5.057 pada Jumat (30/10), turun 0,80% atau 41 poin dari hari sebelumnya. Pemulihan dari level terendah tersebut belum mampu mengubah gambaran suram sepanjang bulan. Dibandingkan penutupan September di 6.071, IHSG telah kehilangan sekitar 1.014 poin atau 16,70%, menunjukkan koreksi bulanan yang tajam di tengah memburuknya kepercayaan investor terhadap pasar saham Indonesia.
Kegelisahan pasar belum juga mereda menjelang November di tengah ketidakpastian klasifikasi Indonesia oleh MSCI yang masih membayangi keputusan investasi. Sementara itu, perubahan komposisi IHSG yang mulai berlaku Senin mendatang menambah kebutuhan pelaku pasar untuk meninjau kembali portofolionya. Pada saat bersamaan, gelombang aksi jual saham teknologi di Wall Street mengguncang sebagian besar bursa Asia. Kombinasi persoalan domestik dan memburuknya selera risiko global membuat upaya pemulihan IHSG kembali kehilangan tenaga.
Transportasi Terpukul, Saham Perbankan Masih Diburu
Warna merah mendominasi papan sektoral, dengan sembilan dari sebelas sektor mengakhiri perdagangan dalam posisi negatif. Transportasi menjadi korban terbesar setelah terperosok 3,13%, menyeret saham Samudera Indonesia (SMDR) turun 6,84% ke Rp354, Temas (TMAS) merosot 6,30% ke Rp119, dan Garuda Indonesia (GIAA) melemah 2,50% ke Rp39. Barang baku menyusul jatuh 2,84%, sementara infrastruktur kehilangan 1,96% dan industri terkoreksi 1,49%. Di tengah aksi jual yang meluas, kesehatan justru naik 0,76% dan keuangan menguat tipis 0,16%.
Di sisi lain, pasar masih selektif memilih saham di tengah meningkatnya ketidakpastian. BBCA menjadi saham paling aktif berdasarkan nilai perdagangan, sekaligus berhasil menguat 0,81% ke Rp4.980. BBRI turun 0,36% ke Rp2.800, sedangkan BMRI bertahan di Rp3.720 dan TLKM stagnan pada Rp1.980. GOTO bahkan melesat 4,35% ke Rp24.
Reformasi Bursa Menjadi Ujian Baru bagi Pemulihan IHSG
Upaya otoritas memulihkan kepercayaan investor belum sepenuhnya meredakan tekanan pasar. Reuters melaporkan Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti memandang persoalan MSCI sebagai guncangan jangka pendek yang dapat diatasi melalui reformasi pasar modal. Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi juga menegaskan komitmen memperketat pengawasan, meningkatkan ketentuan free float, serta menindak pelanggaran perdagangan saham. Bahkan, denda sebesar Rp2,1 triliun terkait pelanggaran perdagangan dilaporkan telah dibayarkan kepada otoritas. Namun, kegelisahan investor masih tercermin dari penjualan bersih asing sebesar Rp138,71 miliar pada Jumat, sehingga akumulasi arus keluar sepanjang tahun mencapai Rp97,92 triliun.
Tekanan juga terjadi di pasar obligasi, dengan imbal hasil dilaporkan meningkat hingga 7,64%. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai risiko terhadap Rupiah tidak hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi juga menyangkut kepercayaan terhadap reformasi pasar keuangan domestik. Perhatian investor kini tertuju pada kebijakan BEI yang akan mengeluarkan saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November. Menjelang perubahan tersebut, penyesuaian portofolio akhir bulan dan pengurangan eksposur risiko berpotensi menambah tekanan jual.
Kekecewaan terhadap AI Mengguncang Wall Street dan Asia
Gelombang aksi jual saham teknologi di Wall Street turut mengguncang sebagian besar bursa Asia pada Jumat (30/10). KOSPI Korea Selatan terperosok 3,48%, Nikkei 225 Jepang anjlok 2,12%, dan Shanghai Composite Tiongkok melemah 1,44%. Namun, Hang Seng Hong Kong berhasil melawan arus dengan kenaikan 1,46%. Tekanan tersebut menyusul penutupan negatif Wall Street pada Kamis, ketika Nasdaq Composite merosot 1,38%, sementara S&P 500 dan Dow Jones masing-masing turun 0,31% dan 0,25%. Saham Alphabet, induk Google, merosot 12,6% akibat pendapatan iklan yang mengecewakan di tengah kekhawatiran AI mulai menggerus bisnis intinya. Arus kas bebas negatif sebesar US$9,1 miliar turut memperbesar keraguan investor terhadap besarnya biaya investasi AI.
Amazon dan Intel turut merosot tajam dalam perdagangan setelah jam bursa, memperburuk kegelisahan terhadap prospek perusahaan teknologi. “Skeptisisme terhadap belanja modal AI kemungkinan akan kembali ke pasar hari ini,” ungkap Tim Riset Danske. Sementara itu, di sisi lain, ekonomi AS tetap menunjukkan ketahanan setelah PDB kuartal III tumbuh 3,4%, melampaui ekspektasi 3,2%. Pertumbuhan yang solid tersebut mempertahankan kekhawatiran bahwa Federal Reserve (The Fed) masih memiliki alasan untuk menjaga kebijakan moneter ketat.
IHSG Kembali ke Atas 5.000, tetapi Tren Bearish Belum Berakhir
Dari sisi teknis, keberhasilan IHSG kembali ke atas 5.000 memberikan sedikit harapan setelah indeks sempat menyentuh 4.979. Namun, tren bearish masih dominan selama indeks bertahan di bawah resistance 5.185 (terendah 21–22 Oktober), diikuti 5.400–5.500. Jika level psikologis 5.000 kembali ditembus, penurunan berisiko berlanjut menuju support 4.900 dan batas bawah Bollinger Bands di 4.778. Sementara itu, Relative Strength Index (RSI) turun dari 28,37 ke 27,55, semakin dalam di wilayah jenuh jual. Kondisi tersebut membuka peluang rebound teknis jangka pendek, tetapi pemulihan yang berkelanjutan masih membutuhkan perubahan sentimen dan kembalinya kepercayaan investor.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.