IHSG Turun 1,13% ke 6.461, Saham Bank dan Tekanan Global Membebani
|- IHSG turun 1,13% atau 73 poin ke 6.461 dan ditutup tepat di level terendah harian, melanjutkan pelemahan tipis pada Senin.
- Saham bank menjadi pemberat, dengan BBCA turun 1%, sementara BMRI dan BBRI masing-masing melemah 2%; IDXFINANCE terkoreksi 1,36%.
- Mayoritas bursa Asia melemah setelah Wall Street berakhir negatif, sementara imbal hasil Treasury AS menembus 5% dan Brent naik mendekati US$108 menjelang keputusan The Fed.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahan pada perdagangan Selasa, ditutup turun 1,13% atau 73 poin ke 6.461, setelah terkoreksi tipis 0,10% pada Senin. IHSG dibuka di 6.544 dan sempat mencapai 6.549 sebelum terus melemah hingga ditutup tepat di level terendah harian. Saham perbankan, industri, dan energi menjadi pemberat utama ketika sentimen global memburuk, dengan imbal hasil Treasury AS bertahan di atas 5%, harga minyak tetap tinggi, dan mayoritas bursa Asia bergerak lebih rendah menjelang keputusan The Fed. Dari dalam negeri, pasar masih mencermati arah kebijakan fiskal pemerintah setelah pergantian Menteri Keuangan.
Mayoritas Sektor Memerah, Saham Bank Membebani IHSG
Mayoritas sektor berakhir di zona merah. Sektor industri (IDXINDUST) turun 1,56%, keuangan (IDXFINANCE) melemah 1,36%, energi (IDXENERGY) terkoreksi 1,27%, dan properti (IDXPROPERT) turun 1,03%. Pelemahan kelompok perbankan terlihat lebih dalam pada PRIMBANK10 yang jatuh 2,08% dan INFOBANK15 turun 2,11%. Sebaliknya, hanya kesehatan (IDXHEALTH) yang naik 0,24%, infrastruktur (IDXINFRA) 0,17%, dan konsumen siklikal (IDXCYCLIC) 0,05%.
Di antara saham berkapitalisasi besar, BBCA turun 1% ke Rp6.400, sedangkan BMRI dan BBRI masing-masing melemah 2% ke Rp4.340 dan Rp3.320. Di sisi lain, ANTM masih menguat sekitar 2% ke Rp3.270, sementara TLKM dan BUMI bergerak relatif datar.
Imbal Hasil AS dan Minyak Tinggi Jelang The Fed
Tekanan eksternal meningkat setelah imbal hasil Treasury AS 10-tahun naik hingga sekitar 5,03%, level tertinggi sejak 2007, ketika investor menantikan keputusan kebijakan Federal Reserve (The Fed) pada Rabu. Pasar memperhitungkan sekitar 92% peluang kenaikan suku bunga, sementara kenaikan harga energi kembali memperbesar perhatian terhadap risiko inflasi.
Brent naik lebih dari 2%, kini bergerak di sekitar US$107,79 per barel, dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan minyak Timur Tengah setelah gangguan pada infrastruktur energi Arab Saudi. Kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi AS memperburuk sentimen terhadap aset berisiko menjelang keputusan The Fed pada Rabu waktu Amerika (Kamis, WIB).
Wall Street sebelumnya turut berakhir lebih rendah setelah aksi jual saham teknologi dan semikonduktor. Nasdaq Composite turun 0,56%, S&P 500 melemah 0,48%, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,29%. Indeks semikonduktor Philadelphia jatuh 5,9% setelah sejumlah eksekutif perusahaan AI menyerukan pengembangan kecerdasan buatan yang lebih berhati-hati karena kekhawatiran keamanan.
Bursa Asia Melemah, Data Tiongkok Beragam
Tekanan juga terlihat di pasar regional. STI turun 1,45%, Hang Seng 1,00%, ASX 0,88%, KOSPI 0,85%, dan Shanghai Composite 0,54%, sementara Nikkei 225 relatif datar dengan penurunan 0,01%. Pasar turut mencermati data Tiongkok yang beragam. Produksi industri Agustus tumbuh 5,2% YoY, lebih tinggi dari prakiraan 4,8%, tetapi Penjualan Ritel hanya naik 0,4%, di bawah konsensus 0,8%. Investasi aset tetap sepanjang Januari–Agustus turun 7,2%, lebih dalam dibandingkan kontraksi 6,7% pada periode Januari–Juli.
Dari dalam negeri, investor masih mencermati pergantian Menteri Keuangan setelah Presiden Prabowo Subianto menunjuk Suahasil Nazara menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa pada Senin. Suahasil menegaskan komitmennya menjaga disiplin fiskal, termasuk mempertahankan defisit anggaran dalam batas 3% terhadap PDB, ketika pasar menunggu kejelasan arah kebijakan fiskal pemerintah setelah reshuffle kabinet.
Perhatian juga tertuju pada pernyataan Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dalam rapat bersama Komite IV DPD RI pada Senin. Destry menilai kondisi global masih berada dalam situasi “higher for longer”, dengan suku bunga dan imbal hasil obligasi AS tetap tinggi sehingga berisiko mendorong flight to quality dari emerging market. BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,2%–6% pada 2027, dengan Rupiah bergerak di kisaran Rp17.300–Rp17.800 per Dolar AS dan inflasi tetap dalam sasaran 2,5% ±1%.
Pertanyaan Umum Seputar Saham Asia
Asia menyumbang sekitar 70% pertumbuhan ekonomi global dan menjadi tuan rumah bagi beberapa indeks pasar saham utama. Di antara negara-negara maju di kawasan tersebut, Nikkei Jepang – yang mewakili 225 perusahaan di bursa saham Tokyo – dan Kospi Korea Selatan menonjol. Tiongkok memiliki tiga indeks penting: Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, dan Shenzhen Composite. Sebagai negara berkembang yang besar, ekuitas India juga menarik perhatian investor, yang semakin banyak berinvestasi di perusahaan-perusahaan dalam indeks Sensex dan Nifty.
Ekonomi utama di Asia berbeda-beda, dan masing-masing memiliki sektor khusus yang perlu diperhatikan. Perusahaan teknologi mendominasi indeks di Jepang, Korea Selatan, dan semakin banyak di Tiongkok. Layanan keuangan memimpin pasar saham seperti Hong Kong atau Singapura, yang dianggap sebagai pusat utama sektor ini. Manufaktur juga besar di Tiongkok dan Jepang, dengan fokus kuat pada produksi mobil atau elektronik. Kelas menengah yang berkembang di negara-negara seperti Tiongkok dan India juga semakin menonjolkan perusahaan yang berfokus pada ritel dan e-commerce.
Banyak faktor yang mendorong indeks pasar saham Asia, tetapi faktor utama di balik kinerjanya adalah hasil agregat dari perusahaan-perusahaan komponen yang terungkap dalam laporan pendapatan triwulanan dan tahunan mereka. Fundamental ekonomi masing-masing negara, serta keputusan bank sentral atau kebijakan fiskal pemerintah mereka, juga merupakan faktor penting. Secara lebih luas, stabilitas politik, kemajuan teknologi atau supremasi hukum juga dapat memengaruhi pasar ekuitas. Kinerja indeks ekuitas AS juga merupakan faktor karena, lebih sering daripada tidak, pasar Asia memimpin dari saham-saham Wall Street dalam semalam. Terakhir, sentimen risiko yang lebih luas di pasar juga berperan karena ekuitas dianggap sebagai investasi yang berisiko dibandingkan dengan opsi investasi lain seperti sekuritas pendapatan tetap.
Berinvestasi dalam ekuitas itu sendiri berisiko, tetapi berinvestasi dalam saham Asia disertai dengan risiko khusus kawasan yang perlu diperhitungkan. Negara-negara Asia memiliki berbagai macam sistem politik, dari demokrasi penuh hingga kediktatoran, sehingga stabilitas politik, transparansi, supremasi hukum, atau persyaratan tata kelola perusahaan mereka mungkin sangat berbeda. Peristiwa geopolitik seperti sengketa perdagangan atau konflik teritorial dapat menyebabkan volatilitas di pasar saham, seperti halnya bencana alam. Selain itu, fluktuasi mata uang juga dapat berdampak pada valuasi pasar saham Asia. Hal ini khususnya berlaku di negara-negara yang berorientasi ekspor, yang cenderung menderita karena mata uang yang lebih kuat dan mendapat keuntungan dari mata uang yang lebih lemah karena produk mereka menjadi lebih murah di luar negeri.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.