IHSG Turun 1,10% ke 6.109, Investor Menanti Hasil Tinjauan MSCI
|- IHSG berbalik turun 1,10% setelah sempat menyentuh level tertinggi 6.226.
- Sektor barang baku, industri, dan kesehatan memimpin tekanan jual.
- Pasar menanti hasil tinjauan MSCI di tengah kemajuan perundingan AS-Iran.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah pada pertengahan awal sesi pertama perdagangan Senin. Indeks turun 67 poin atau 1,1% ke sekitar 6.109 pada pukul 10.30 WIB.
IHSG sebelumnya membuka perdagangan di 6.217, lebih tinggi dari penutupan Jumat di sekitar 6.177. Indeks sempat melanjutkan kenaikan hingga 6.226, tetapi momentum tersebut cepat menghilang setelah tekanan jual kembali masuk.
Pelemahan membawa indeks turun ke level terendah harian 6.114 sebelum memangkas sebagian pelemahannya. Rentang pergerakan yang cukup lebar pada awal sesi menunjukkan pasar masih kesulitan mempertahankan pemulihan pekan lalu.
Area 6.100 menjadi perhatian terdekat setelah IHSG kembali tergelincir di bawah pembukaan sebelum ke level 6.000. Indeks perlu kembali ke atas 6.200 untuk meredakan tekanan dan membuka ruang bagi penguatan yang lebih stabil.
Barang Baku dan Industri Menjadi Pemberat
Tekanan terbesar datang dari sektor barang baku yang turun sekitar 2,02%, disusul industri 2,01% dan kesehatan 1,90%. Sebaliknya, sektor energi masih naik tipis 0,27%, sementara teknologi menguat terbatas 0,04%.
Pergerakan tersebut menunjukkan kenaikan pada saham energi dan teknologi belum cukup mengimbangi pelemahan di sejumlah sektor utama. Area 6.100 kini menjadi perhatian setelah IHSG sempat menyentuh level terendah 6.105.
MSCI dan AS-Iran Membayangi Pasar
Pasar domestik masih menunggu hasil Annual Market Classification Review MSCI yang dijadwalkan Selasa. Dalam tinjauan aksesibilitas pekan lalu, MSCI menurunkan penilaian arus informasi Indonesia dari positif menjadi negatif karena terbatasnya transparansi struktur kepemilikan saham dan indikasi perdagangan terkoordinasi. Investor akan melihat apakah Indonesia tetap dipertahankan dalam kelompok emerging market.
Dari eksternal, perundingan AS-Iran di Swiss menghasilkan peta jalan menuju kesepakatan akhir dalam 60 hari dan membuka pembicaraan teknis lanjutan. Meski meredakan sebagian kekhawatiran pasar, sentimen masih rapuh karena status pelayaran di Selat Hormuz dan konflik Lebanon belum sepenuhnya terselesaikan.
Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko
Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.