fxs_header_sponsor_anchor

IHSG Turun 0,33% ke 6.441, Akhiri Pekan dengan Pelemahan 1,53%

  • IHSG ditutup turun 0,33% ke 6.441 pada Jumat dan mengakhiri perdagangan sepekan dengan pelemahan 1,53%.
  • Tekanan terutama terlihat pada saham-saham unggulan; LQ45 jatuh 1,26%, sementara sektor industri dan properti mencatat penurunan terdalam.
  • Wall Street dan mayoritas bursa Asia menguat setelah tekanan harga minyak mereda, tetapi sikap hawkish The Fed tetap membatasi optimisme pasar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pekan ini dengan pelemahan pada Jumat, ditutup turun 0,33% atau 21 poin ke 6.441 dari 6.462 pada Kamis. Indeks sempat menguat hingga 6.521 pada awal perdagangan, tetapi berbalik turun ke 6.419 sebelum memangkas sebagian pelemahannya menjelang penutupan. Tekanan pada saham-saham unggulan, terutama sektor industri, properti, dan keuangan, membuat IHSG mengakhiri pekan dengan pelemahan 1,53%, meski mayoritas bursa global dan Asia menguat. Dari dalam negeri, pasar juga mencermati arus modal asing dan perkembangan APBN setelah pemerintah melaporkan saham Indonesia masih mencatat outflow Rp70,7 triliun sepanjang 2026, meski kuartal III mulai berbalik inflow.

Memasuki pekan berikutnya, area psikologis 6.400 menjadi level terdekat yang perlu diperhatikan setelah IHSG sempat menyentuh terendah harian 6.419 pada perdagangan Jumat, sementara arah pasar global masih akan dipengaruhi perkembangan harga energi dan ekspektasi kebijakan The Fed.

Saham Unggulan Menekan IHSG

Tekanan pasar terlihat lebih dalam pada kelompok saham unggulan. LQ45 turun 1,26% ke 640, IDX80 melemah 1,27%, dan IDX30 kehilangan 1,11%. Dari 11 sektor utama, teknologi menjadi satu-satunya yang bertahan di zona hijau dengan kenaikan 0,27%. Sebaliknya, sektor industri turun 1,64%, properti 1,44%, kesehatan 1,12%, keuangan 0,93%, transportasi 0,91%, dan konsumer primer 0,85%.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menekan indeks. AMMN turun sekitar 4% ke Rp4.680, sementara saham perbankan juga bergerak lebih rendah. BBCA turun ke Rp6.300, BBRI ke Rp3.310, dan BMRI melemah sekitar 2% ke Rp4.260. Pelemahan saham-saham tersebut turut membuat LQ45 terkoreksi jauh lebih dalam dibandingkan IHSG.

Dari sisi aliran modal, pemerintah mencatat pasar saham Indonesia masih membukukan outflow asing Rp70,7 triliun sepanjang 2026. Namun, pada kuartal III arus tersebut mulai berbalik dengan inflow Rp8,9 triliun. Secara keseluruhan, arus modal masuk ke Indonesia mencapai Rp141,6 triliun hingga 11 September, termasuk melalui SBN dan SRBI.

APBN Tetap Terkendali, tetapi Pasar Mencermati Risiko Global

Sentimen domestik juga mendapat konteks dari laporan APBN terbaru. Defisit APBN hingga akhir Agustus tercatat Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap PDB, dengan keseimbangan primer masih surplus Rp154 triliun. Pemerintah tetap mempertahankan proyeksi defisit 2026 di sekitar 2,85% PDB.

Bursa Global Rebound, The Fed Masih Membayangi

Tekanan domestik tersebut berlawanan dengan sentimen dari pasar global. Wall Street menguat pada Kamis setelah harga minyak dan imbal hasil Treasury AS mereda, dengan Dow Jones naik 0,61%, S&P 500 1,14%, dan Nasdaq Composite melesat 1,69%. Saham teknologi dan semikonduktor menjadi motor utama rebound setelah tiga sesi pelemahan S&P 500.

Penguatan kemudian menjalar ke sebagian besar pasar Asia pada Jumat. KOSPI memimpin dengan kenaikan 2,66%, Nikkei 225 naik 1,38%, Shanghai Composite menguat 0,94%, dan Hang Seng bertambah 0,60%. STI turun 0,29%, sedangkan ASX 200 nyaris tidak berubah. Deutsche Bank menilai rebound aset berisiko ditopang meredanya tekanan harga energi dan ketahanan data ekonomi AS, dengan saham semikonduktor menjadi salah satu pendorong utama penguatan lintas kawasan.

Namun, pasar belum sepenuhnya lepas dari risiko suku bunga. Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh kembali menekankan risiko inflasi setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga 25 basis poin pekan ini. Pasar kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga berikutnya pada Oktober sebesar 55,4%, membuat prospek pengetatan moneter lanjutan tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor.

Pertanyaan Umum Seputar Saham Asia

Asia menyumbang sekitar 70% pertumbuhan ekonomi global dan menjadi tuan rumah bagi beberapa indeks pasar saham utama. Di antara negara-negara maju di kawasan tersebut, Nikkei Jepang – yang mewakili 225 perusahaan di bursa saham Tokyo – dan Kospi Korea Selatan menonjol. Tiongkok memiliki tiga indeks penting: Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, dan Shenzhen Composite. Sebagai negara berkembang yang besar, ekuitas India juga menarik perhatian investor, yang semakin banyak berinvestasi di perusahaan-perusahaan dalam indeks Sensex dan Nifty.

Ekonomi utama di Asia berbeda-beda, dan masing-masing memiliki sektor khusus yang perlu diperhatikan. Perusahaan teknologi mendominasi indeks di Jepang, Korea Selatan, dan semakin banyak di Tiongkok. Layanan keuangan memimpin pasar saham seperti Hong Kong atau Singapura, yang dianggap sebagai pusat utama sektor ini. Manufaktur juga besar di Tiongkok dan Jepang, dengan fokus kuat pada produksi mobil atau elektronik. Kelas menengah yang berkembang di negara-negara seperti Tiongkok dan India juga semakin menonjolkan perusahaan yang berfokus pada ritel dan e-commerce.

Banyak faktor yang mendorong indeks pasar saham Asia, tetapi faktor utama di balik kinerjanya adalah hasil agregat dari perusahaan-perusahaan komponen yang terungkap dalam laporan pendapatan triwulanan dan tahunan mereka. Fundamental ekonomi masing-masing negara, serta keputusan bank sentral atau kebijakan fiskal pemerintah mereka, juga merupakan faktor penting. Secara lebih luas, stabilitas politik, kemajuan teknologi atau supremasi hukum juga dapat memengaruhi pasar ekuitas. Kinerja indeks ekuitas AS juga merupakan faktor karena, lebih sering daripada tidak, pasar Asia memimpin dari saham-saham Wall Street dalam semalam. Terakhir, sentimen risiko yang lebih luas di pasar juga berperan karena ekuitas dianggap sebagai investasi yang berisiko dibandingkan dengan opsi investasi lain seperti sekuritas pendapatan tetap.

Berinvestasi dalam ekuitas itu sendiri berisiko, tetapi berinvestasi dalam saham Asia disertai dengan risiko khusus kawasan yang perlu diperhitungkan. Negara-negara Asia memiliki berbagai macam sistem politik, dari demokrasi penuh hingga kediktatoran, sehingga stabilitas politik, transparansi, supremasi hukum, atau persyaratan tata kelola perusahaan mereka mungkin sangat berbeda. Peristiwa geopolitik seperti sengketa perdagangan atau konflik teritorial dapat menyebabkan volatilitas di pasar saham, seperti halnya bencana alam. Selain itu, fluktuasi mata uang juga dapat berdampak pada valuasi pasar saham Asia. Hal ini khususnya berlaku di negara-negara yang berorientasi ekspor, yang cenderung menderita karena mata uang yang lebih kuat dan mendapat keuntungan dari mata uang yang lebih lemah karena produk mereka menjadi lebih murah di luar negeri.

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2026 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.