IHSG Rebound 0,92%, Lonjakan Energi Tutupi Pelemahan Saham Bank
|- IHSG naik 0,92% ke 5.695 setelah sempat merosot ke 5.607.
- Saham energi dan bahan baku mengangkat indeks, sementara bank besar mayoritas melemah.
- Kontraksi manufaktur, defisit perdagangan, dan kenaikan inflasi menahan optimisme pasar.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat pada perdagangan Rabu setelah sempat tertekan ke area 5.600. Kenaikan ditopang saham energi dan bahan baku, tetapi pelemahan bank besar serta rangkaian data ekonomi domestik yang mengecewakan menunjukkan rebound masih selektif dan belum cukup kuat untuk mengubah tren pasar.
IHSG mengakhiri hari ini dengan naik 0,92% atau 51 poin ke 5.695 dari penutupan Selasa di 5.643. Indeks dibuka sedikit lebih rendah di 5.640 dan sempat menyentuh 5.607, sebelum berbalik naik hingga 5.737. Sebagian kenaikan terpangkas menjelang penutupan.
Energi dan Bahan Baku Jadi Mesin Penggerak
Sektor energi memimpin kenaikan dengan menguat 2,61%, disusul bahan baku sebesar 2,60% dan infrastruktur 1,39%. Di kelompok energi, BBRM melonjak 28,7% ke 130, RATU naik 20,1% ke 5.550, dan CUAN melesat 17% ke 620.
Pada sektor bahan baku, MBMA menguat 10,4% ke 510, IFSH naik 9,9% ke 1.110, dan ALKA bertambah 8,3% ke 520. Kenaikan saham-saham tersebut membantu IHSG bertahan di zona positif meski tekanan masih terlihat pada kelompok keuangan.
INFOBANK15 turun 1,32%, sedangkan PRIMBANK10 melemah 0,85%. BJBR anjlok 8,5% ke 750, ARTO merosot 4,1% ke 925, dan BTPS turun 2,6% ke 955. Saham bank besar juga tertekan, dengan BBRI turun 2,2% ke 2.670, BBNI melemah 1,9% ke 3.100, dan BMRI terkoreksi 1% ke 3.810. BBCA menjadi pengecualian dengan kenaikan 0,9% ke 5.600.
Data Ekonomi Domestik Membebani Sentimen
Penguatan IHSG berlangsung ketika pasar mencerna rangkaian data ekonomi domestik yang lebih lemah dari prakiraan. PMI Manufaktur S&P Global Indonesia turun ke 46,9 pada Juni dari 50,0, menandakan aktivitas pabrik kembali berkontraksi. Ekspor Mei merosot 5,73% secara tahunan, sementara impor meningkat 22,16%, sehingga neraca perdagangan berbalik defisit US$1,61 miliar.
Tekanan harga turut meningkat. Inflasi bulanan mencapai 0,44%, sedangkan inflasi tahunan naik menjadi 3,34%, melampaui prakiraan 3,20%. Inflasi inti juga menguat ke 2,76%, tertinggi sejak April 2023.
Warsh dan Data AS Jadi Fokus Berikutnya
Pasar kini menunggu laporan ketenagakerjaan swasta ADP AS pada pukul 19.15 WIB, penampilan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam forum ECB di Sintra pukul 20.00 WIB, serta PMI Manufaktur ISM satu jam kemudian. Komentar hawkish dari Warsh atau data yang lebih kuat dapat mendorong Dolar AS dan imbal hasil Treasury lebih tinggi, sekaligus menguji keberlanjutan rebound IHSG pada Kamis.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.