fxs_header_sponsor_anchor

IHSG Pulihkan Penurunan Kemarin dan Meraih Rekor Tertinggi 8.968 Pagi ini, Data Cadangan Devisa di Depan Mata

  • IHSG membalikkan penutupan negatif hari kemarin, melanjutkan kebiasannya untuk meraih tertinggi baru sepanjang masa.
  • Presiden RI, Prabowo Subianto, memberikan penghargaan kepada pihak-pihak yang berjasa dalam mewujudkan swasembada pangan di 2025.
  • Perhatian tertuju pada data Cadangan Devisa yang akan dirilis hari ini.

IHSG bergerak di area 8.968,94 yang lebih tinggi 0,27% dibandingkan penutupan hari kemarin pada saat berita ini ditulis. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia dibuka di 8.946,700 dan merayap naik untuk mencatatkan tertinggi baru sepanjang masa 8.987,93 dalam 30 menit pertama perdagangan. Kinerja ini sekaligus memulihkan kinerja merah indeks kemarin menjelang data Cadangan Devisa yang akan dirilis Bank Indonesia (BI) pada hari ini.

Sebagian besar indeks-indeks Indonesia hijau pada pagi ini, meskipun naiknya kurang dari 1%. IDXHIDIV20 yang naik 0,48% menjadi salah satu indeks dengan kinerja terbaik. Kenaikan tersebut ditopang oleh UNVR (+5%), ADRO (+3,48%), PGAS(+2,57%), dan BMRI (+1,04%).

Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto, mengucapkan rasa terima kasih kepada para petani dan memberikan penghargaan kepada beberapa pihak yang berkontribusi dalam pencapaian swasembada pangan di 2025 dalam acara Panen Raya Nasional di Karawang, Jawa Barat pada hari kemarin. Dalam media sosial resminya, Presiden Prabowo berharap pencapaian ini menjadi langkah awal untuk memperkuat ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan.

Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso, bertemu Chief Agricultural Negotiator USTR, Dr. Julie Callahan, di Jakarta. Pertemuan ini dilakukan untuk membahas peluang kerja sama terutama produk-produk pangan dan pertanian.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Bahlil Lahadalia, bersama Kepala BPS, Dirut Pertamina, dan Dirut PLN, melakukan rapat koordinasi untuk kebijakan subsidi energi. Mereka membahas penguatan kebijakan dan efektivitas penyaluran subsidi yang tepat sasaran.

Bank Indonesia (BI) akan merilis data Cadangan Devisa Indonesia bulan Desember 2025 pada hari ini pukul 03:00 GMT (10:00 WIB). Tidak ada prakiraan untuk data tersebut namun Cadangan Devisa pada bulan November 2025 tercatat di $150,1 miliar yang setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angkanya terlihat bagus mengingat berada di atas standar kecukupan internasional yaitu sekitar 3 bulan impor.

Setelah itu, para investor bisa bersiap menghadapi data Keyakinan Konsumen Indonesia untuk Desember 2025 yang akan dirilis pada Jumat besok.

Imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun di 6,088% yang belum berubah sejak hari kemarin. Ada dua penyebab imbal hasil tidak berubah, yang pertama adalah permintaan-penawaran seimbang dan kurangnya minat pada obligasi. Kasus kedua bisa jadi terjadi karena para investor sedang meminati aset-aset yang lebih berisiko yang berpotensi memberikan imbal hasil lebih besar.

Emas Antam Sedikit Koreksi

Harga Emas Antam untuk berat 1 gram dijual di harga Rp2.570.000 hari ini seperti diinformasikan dalam situs Logam Mulia. Harganya turun Rp14.000 dari harga kemarin Rp2.584.000. Harga tampak sedikit koreksi setelah naik berturut-turut dari hari Senin. Perubahan ini mencerminkan harga Emas dunia kemarin.

Harga Emas dunia (XAU/USD) ditutup merah di $4.456 per troy ons (-0,85%) pada hari kemarin. Emas turun setelah kesulitan untuk menembus level $4.500 saat aset ini tampaknya menghadapi aksi profit taking setelah Emas naik untuk dua hari perdagangan berturut-turut.

Ke depan, data dari Amerika Serikat berpotensi menjadi penggerak harga Emas seperti Klaim Tunjangan Pengangguran dan Neraca Perdagangan yang akan dirilis pada perdagangan sesi Amerika hari ini. Namun demikian, fokus utamanya adalah data Nonfarm Payrolls yang akan diterbitkan pada Jumat besok.

Grafik Harian IHSG

Grafik harian IHSG, 8 Januari 2026

Meskipun IHSG tidak menunjukkan pergerakan yang signifikan pada hari kemarin, indeks sempat mencatatkan rekor tertinggi baru di 8.970,86. Aksi ini membuatnya memperkuat tren naik yang diindikasikan oleh Simple Moving Average (SMA) 200-hari yang bergerak naik di bawah indeks. Tertinggi tersebut juga sekaligus memperbarui higher high dari struktur higher highs dan higher lows, sebuah stuktur yang mengindikasikan aset berada dalam tren naik.

Namun demikian, Relative Strength Index (RSI) 14-hari berada 73 yang menunjukkan bahwa momentumnya memasuki zona jenuh beli. Dalam kasus IHSG menetralkan keadaan jenuh beli, indeks bisa bertemu support di 8.776,97 (tertinggi 11 Desember 2025, higher high), 8.525,10 (terendah 29 Desember 2025, higher low), dan 8.288,27 (tertinggi 13 Oktober 2025, higher high). Namun jika minat terhadap saham-saham Indonesia tetap tinggi, indeks akan mengincar tertinggi baru sepanjang masa selanjutnya di level-level angka bulat 9.000, 9.050, dan 9.100.

Pertanyaan Umum Seputar Emas

Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.

Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.

Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.

Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.

Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.


KONTEN TERKAIT

Memuat ...



Hak cipta ©2025 FOREXSTREET S.L., dilindungi undang-undang.