IHSG Naik ke 6.525 saat Rebalancing MSCI Warnai Pasar, Minyak Melonjak
|- IHSG naik 0,11% ke 6.525 setelah sempat turun ke 6.476 dan menyentuh tertinggi harian 6.528.
- IDXV30 menguat 1,83%, IDXINDUST naik 1,47%, dan SMinfra18 bertambah 1,29%, sementara IDXHEALTH turun 1,67%.
- Rebalancing MSCI mewarnai akhir Agustus, sementara pasar mencermati komentar hawkish Warsh, lonjakan Brent di atas US$91, dan data Indonesia.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan sekaligus mengakhiri perdagangan Agustus dengan kenaikan tipis pada Senin, ditutup naik 0,11% atau 7 poin ke 6.525. Indeks sempat turun hingga 6.476 sebelum berbalik mendekati level tertinggi hariannya di 6.528, ditopang saham bernilai, industri, dan infrastruktur ketika rebalancing MSCI turut mewarnai perdagangan akhir bulan. Di luar negeri, bursa Asia bergerak beragam di tengah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan lonjakan harga minyak akibat kembali meningkatnya ketegangan AS–Iran, sementara pelaku pasar menanti serangkaian data ekonomi Indonesia pada Selasa, termasuk PMI Manufaktur, inflasi, dan neraca perdagangan.
Saham Bernilai dan Industri Menopang, Kesehatan Tertekan
Penguatan pasar terutama terlihat pada IDXV30 yang naik 1,83% ke 123, disusul IDXINDUST yang menguat 1,47% ke 1.607 dan SMinfra18 yang bertambah 1,29% ke 240. Sebaliknya, IDXHEALTH turun 1,67% ke 1.512, sementara IDXBASIC melemah 0,40% ke 1.832 dan IDXTECHNO terkoreksi tipis 0,16% ke 6.836. Perbedaan kinerja tersebut menunjukkan kenaikan IHSG tidak berlangsung merata, dengan penguatan beberapa kelompok saham mengimbangi tekanan di sektor lainnya.
Perdagangan akhir bulan turut diwarnai rebalancing indeks MSCI yang berlaku setelah penutupan Senin dan efektif mulai 1 September. CPIN turun 2,61% ke Rp2.980 dan mengakhiri perdagangan tepat di level terendah hariannya. Dalam penyesuaian terbaru, CPIN berpindah dari MSCI Global Standard ke Global Small Cap, sementara GOTO keluar dari Global Standard. Sembilan saham Indonesia lainnya, termasuk ARTO, BUKA, ESSA, FILM, HEAL, KPIG, RATU, SMGR, dan TCPI, dikeluarkan dari indeks Small Cap. Penyesuaian portofolio investor yang mengikuti indeks MSCI berpotensi meningkatkan pergerakan teknis pada saham-saham terkait menjelang tanggal efektif.
Dari sisi kebijakan domestik, menurut IDNFinancials, pasar juga mencermati sinyal mengenai arah pembiayaan pemerintah. Presiden Prabowo Subianto mengatakan Indonesia telah menolak tawaran pinjaman IMF beberapa bulan lalu, karena pemerintah tidak ingin menambah beban utang terlalu besar. Prabowo mengatakan pemerintah lebih terbuka terhadap investasi dan, apabila melakukan pinjaman, akan mengutamakan biaya bunga serendah mungkin. Ia juga menyebut penghematan pemerintah di berbagai bidang mendekati Rp300 triliun per tahun.
Bursa Asia Beragam setelah Data Manufaktur Tiongkok
Di kawasan Asia, Shanghai Composite naik 0,86%, STI Singapura menguat 0,69%, dan KOSPI Korea Selatan bertambah 0,46%. Sebaliknya, ASX Australia turun 0,18%, Nikkei Jepang melemah 0,14%, sementara Hang Seng Hong Kong turun tipis 0,07%. Pasar Tiongkok mendapat dukungan setelah PMI manufaktur resmi Agustus membaik menjadi 49,8 dari 49,2, meski masih menunjukkan kontraksi, sementara aktivitas sektor jasa tetap lemah. Di Korea Selatan, prospek ekspor tetap ditopang permintaan global terhadap semikonduktor dan chip kecerdasan buatan.
Wall Street sebelumnya juga berakhir melemah setelah komentar Ketua The Fed Kevin Warsh meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga. Nasdaq Composite turun 0,52%, S&P 500 melemah 0,25%, sedangkan Dow Jones hampir datar dengan penurunan 0,02%. Warsh mengatakan The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila tidak yakin inflasi yang mendasari bergerak menuju target 2%. Pernyataan tersebut mendorong probabilitas kenaikan suku bunga pada September ke sekitar 60%, sementara imbal hasil obligasi Pemerintah AS meningkat. Saham teknologi termasuk kelompok yang paling sensitif terhadap kenaikan ekspektasi suku bunga.
Minyak Kembali di Atas US$90
Risiko eksternal bertambah ketika Brent melonjak 3,69% ke US$91,35 per barel dan WTI naik 3,68% ke US$86,47 pada perdagangan Senin sesi Eropa. Harga minyak terdorong oleh kembali meningkatnya konflik AS-Iran setelah pasukan AS menyerang peluncur Iran di Pulau Larak dekat Selat Hormuz dan Iran membalas dengan serangan terhadap pasukan AS di Yordania. Ketidakpastian mengenai arus pengiriman melalui Hormuz kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Bagi pasar Indonesia, kenaikan minyak dapat mendukung sebagian saham energi, tetapi pada saat yang sama meningkatkan risiko terhadap inflasi dan biaya impor energi serta dapat menambah tekanan terhadap Rupiah. Perhatian pasar pada Selasa akan beralih ke sejumlah data domestik, termasuk PMI Manufaktur S&P Global Agustus, inflasi, serta neraca perdagangan, setelah tekanan mekanis dari rebalancing MSCI selesai. Data tersebut akan menjadi petunjuk berikutnya mengenai kondisi aktivitas ekonomi dan tekanan harga domestik di tengah meningkatnya risiko suku bunga dan energi global.
Indikator Ekonomi
Neraca Perdagangan
Neraca Perdagangan yang dirilis oleh Statistik Indonesia adalah keseimbangan antara ekspor dan impor barang dan jasa secara keseluruhan. Nilai yang positif menunjukkan surplus perdagangan, sedangkan nilai negatif menunjukkan defisit perdagangan. Jika permintaan dalam pertukaran untuk ekspor Indonesia yang stabil terlihat, Rupiah akan menerima efek positif (atau bullish), sebaliknya akan memiliki efek negatif (atau bearish).
Baca lebih lanjutInformasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.