IHSG Naik ke 6.430 Pasca Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga
|- IHSG melanjutkan pemantulan dari terendah Rabu ke area 6.400
- BI mempertahankan suku bunga di 5,75% Rabu lalu.
- Indeks berpotensi membentuk struktur higher highs dan higher lows.
IHSG bergerak lebih tinggi 1,43% di 6.425,19 dari penutupan hari kemarin menuju penutupan sesi I Kamis ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia dibuka dengan gap naik di 6.346,61 dan meraih tertinggi harian di 6.430,76. Level tersebut juga menandai level tertinggi sejak 21 Mei 2026. Indeks memulihkan penutupan negatif kemarin dan melanjutkan kenaikan dari terendah 2026 yang dicapai di 5.317,90 pada awal Juni setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga pada hari kemarin.
Bank Indonesia Tidak Mengubah Suku Bunga di 5,75%
Meskipun BI mempertahankan suku bunga, indeks INFOBANK15 tidak menjadi pendorong dominan untuk kenaikan IHSG hari ini. JII yang menjadi pendorong dengan naik 1,62% ditopang terutama oleh BUMI (+8,33%), DEWA (+7,73%), dan BRMS (+4,13%). Tiga perseroan di balik saham-saham di atas tidak melakukan aksi korporasi yang menjadi penggerak aksi tersebut, sehingga aksi beli menjadi pendorong utama di tengah kinerja positif IHSG secara umum.
Dalam konfrensi pers pasca Rapat Dewan Gubernur (RDG), Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di 5,75%, suku bunga Deposit Facility di 4,57%, dan suku bunga Lending Facility di 6,50%. Keputusan tersebut bertentangan dengan prakiraan kenaikan suku bunga 25 bp. Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan, "Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75% dan memperluas kebijakan insentif, termasuk pemberian insentif baru sebesar 15% untuk transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF)." Gubernur menilai langkah-langkah tersebut untuk meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing serta mengendalikan stabilitas Rupiah.
Setelah keputusan suku bunga Bank Indonesia berlalu, perhatian para investor akan bergeser ke perkembangan global mengingat kosongnya kalender ekonomi Indonesia dan tidak ada aksi korporasi yang signifikan. Konflik AS-Iran tetap dominan dalam memengaruhi sentimen secara umum karena dampak langsungnya pada harga minyak. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghch, mengatakan mata dibalas mata jika terjadi agresi terhadap infrastruktur Iran. Pernyataan tersebut menyusul unggahan Presiden Trump bahwa AS akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik Iran jika negara tersebut menyerang kapal yang melewati Selat Hormuz. Pertikaian tersebut menyebabkan minyak West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 2% di $87,64 per barrel dari penutupan hari kemarin, berada di ambang memulihkan seluruh penurunan bulan lalu.
IHSG Membentuk Higher High Baru
Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 65,90 mulai Kembali naik setelah sedikit turun pada hari kemarin, menunjukkan bahwa momentum bullish kembali muncul dan masih ada ruang di sisi atas sebelum masuk ke zona jenuh beli. IHSG berpotensi membentuk struktur higher highs dan higher lows jika dapat terus naik dan bertahan di atas 6.377,19 (higher high) untuk membuat higher high baru. Namun, Simple Moving Average (SMA) 200-hari yang berada di atas mengindikasikan bahwa tren jangka lebih panjang IHSG masih menurun.
Pertanyaan Umum Seputar Saham Asia
Asia menyumbang sekitar 70% pertumbuhan ekonomi global dan menjadi tuan rumah bagi beberapa indeks pasar saham utama. Di antara negara-negara maju di kawasan tersebut, Nikkei Jepang – yang mewakili 225 perusahaan di bursa saham Tokyo – dan Kospi Korea Selatan menonjol. Tiongkok memiliki tiga indeks penting: Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, dan Shenzhen Composite. Sebagai negara berkembang yang besar, ekuitas India juga menarik perhatian investor, yang semakin banyak berinvestasi di perusahaan-perusahaan dalam indeks Sensex dan Nifty.
Ekonomi utama di Asia berbeda-beda, dan masing-masing memiliki sektor khusus yang perlu diperhatikan. Perusahaan teknologi mendominasi indeks di Jepang, Korea Selatan, dan semakin banyak di Tiongkok. Layanan keuangan memimpin pasar saham seperti Hong Kong atau Singapura, yang dianggap sebagai pusat utama sektor ini. Manufaktur juga besar di Tiongkok dan Jepang, dengan fokus kuat pada produksi mobil atau elektronik. Kelas menengah yang berkembang di negara-negara seperti Tiongkok dan India juga semakin menonjolkan perusahaan yang berfokus pada ritel dan e-commerce.
Banyak faktor yang mendorong indeks pasar saham Asia, tetapi faktor utama di balik kinerjanya adalah hasil agregat dari perusahaan-perusahaan komponen yang terungkap dalam laporan pendapatan triwulanan dan tahunan mereka. Fundamental ekonomi masing-masing negara, serta keputusan bank sentral atau kebijakan fiskal pemerintah mereka, juga merupakan faktor penting. Secara lebih luas, stabilitas politik, kemajuan teknologi atau supremasi hukum juga dapat memengaruhi pasar ekuitas. Kinerja indeks ekuitas AS juga merupakan faktor karena, lebih sering daripada tidak, pasar Asia memimpin dari saham-saham Wall Street dalam semalam. Terakhir, sentimen risiko yang lebih luas di pasar juga berperan karena ekuitas dianggap sebagai investasi yang berisiko dibandingkan dengan opsi investasi lain seperti sekuritas pendapatan tetap.
Berinvestasi dalam ekuitas itu sendiri berisiko, tetapi berinvestasi dalam saham Asia disertai dengan risiko khusus kawasan yang perlu diperhitungkan. Negara-negara Asia memiliki berbagai macam sistem politik, dari demokrasi penuh hingga kediktatoran, sehingga stabilitas politik, transparansi, supremasi hukum, atau persyaratan tata kelola perusahaan mereka mungkin sangat berbeda. Peristiwa geopolitik seperti sengketa perdagangan atau konflik teritorial dapat menyebabkan volatilitas di pasar saham, seperti halnya bencana alam. Selain itu, fluktuasi mata uang juga dapat berdampak pada valuasi pasar saham Asia. Hal ini khususnya berlaku di negara-negara yang berorientasi ekspor, yang cenderung menderita karena mata uang yang lebih kuat dan mendapat keuntungan dari mata uang yang lebih lemah karena produk mereka menjadi lebih murah di luar negeri.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.