IHSG Naik 1,09% ke 6.667, Bank Besar dan Transportasi Menopang jelang Data PMI Jasa ISM AS
|- IHSG ditutup naik 1,09% atau 72 poin ke 6.667, setelah bertahan di zona positif sepanjang perdagangan dan sempat menyentuh 6.681.
- Transportasi dan kelompok saham value memimpin kenaikan, sementara BMRI, BBCA, dan BBRI turut menopang indeks.
- IHSG mengungguli mayoritas bursa Asia setelah Wall Street rebound, sementara Rupiah menguat dan minyak di sekitar US$95 tetap menjadi risiko.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan kenaikan pada perdagangan Kamis dan ditutup naik 1,09% atau 72 poin ke 6.667, setelah dibuka di 6.632 dan bergerak dalam rentang 6.614–6.681. Indeks bertahan di zona positif sepanjang sesi, ditopang saham transportasi, kelompok saham value, serta perbankan besar. Kenaikan tersebut membuat IHSG mencatat performa lebih kuat dibandingkan sebagian besar bursa utama Asia, setelah Wall Street pulih semalam, sementara Rupiah yang menguat turut mendukung sentimen aset domestik. Namun, harga minyak yang masih tinggi tetap menjadi risiko, dengan perhatian pasar selanjutnya tertuju pada Klaim Tunjangan Pengangguran, PMI Jasa ISM, dan komentar pejabat The Fed.
Transportasi Memimpin, Teknologi Tertinggal
Penguatan pasar dipimpin IDXTRANS yang naik 2,45% ke 1.844, diikuti IDXVESTA28 sebesar 2,26% ke 142 dan IDXV30 sebesar 2,24% ke 126. Sebaliknya, IDXTECHNO turun 1,63% ke 7.179, menjadi kelompok yang paling tertekan dalam perdagangan Kamis. DBX melemah 0,19% ke 3.169, sedangkan IDXHEALTH nyaris tidak berubah dengan turun 0,02% ke 1.529.
Saham bank besar ikut menopang indeks. BMRI naik 2,3% ke Rp4.460 dan ditutup tepat di level tertinggi hariannya, setelah bergerak dari Rp4.360 hingga Rp4.460. BBCA bertambah 1,5% ke Rp6.775, sementara BBRI naik 0,6% ke Rp3.410. Ketiganya termasuk saham dengan aktivitas perdagangan terbesar pada Kamis, memperlihatkan bahwa kenaikan indeks tidak hanya bertumpu pada saham transportasi.
IHSG Mengungguli Mayoritas Bursa Asia
Kinerja IHSG lebih kuat dibandingkan sebagian besar pasar utama Asia yang bergerak beragam. ASX naik 0,46%, KOSPI bertambah 0,26%, dan Shanghai Composite naik tipis 0,02%. Sebaliknya, Nikkei turun 0,17%, Hang Seng melemah 0,39%, sementara STI nyaris datar dengan penurunan 0,01%.
Sentimen regional mendapat dukungan dari pemulihan Wall Street. Dow Jones naik 0,56%, S&P 500 bertambah 0,46%, dan Nasdaq menguat 0,45%. Menurut ahli strategi Deutsche Bank, saham AS akhirnya stabil setelah S&P 500 melemah selama tiga sesi berturut-turut. Kenaikan tersebut ditopang Magnificent Seven yang naik 0,76%, terutama Nvidia yang melonjak 3,21% dan Meta yang bertambah 2,47%.
Dari pasar domestik, Rupiah menguat ke Rp17.650 per Dolar AS pada Kamis, dari Rp17.750 sehari sebelumnya, sementara kurs referensi JISDOR Bank Indonesia berada di Rp17.689. Pergerakan mata uang yang lebih kuat membantu meredakan sebagian tekanan terhadap aset Indonesia, meski tingginya harga energi masih menjadi perhatian karena Indonesia merupakan importir minyak bersih.
Pasar Mencermati Data AS dan Sinyal The Fed
Perhatian berikutnya beralih ke Amerika Serikat, dengan pasar menunggu Klaim Tunjangan Pengangguran, PMI Jasa ISM, serta komentar sejumlah pejabat Federal Reserve pada Kamis malam sebelum laporan Nonfarm Payrolls (NFP) dirilis Jumat. Data tenaga kerja dan aktivitas jasa akan menjadi petunjuk tambahan bagi prospek kebijakan moneter The Fed setelah pasar kembali meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada September.
Di sisi lain, harga minyak yang masih berada di sekitar US$95 per barel tetap menjadi faktor risiko bagi IHSG dan Rupiah. Kenaikan biaya energi berpotensi memperbesar tekanan inflasi global dan mempertahankan imbal hasil obligasi AS pada level tinggi, sehingga dapat kembali membatasi minat terhadap aset berisiko apabila data ekonomi AS menunjukkan tekanan harga yang lebih persisten.
Indikator Ekonomi
PMI Jasa ISM
Indeks Manajer Pembelian (PMI) Jasa dari Institute for Supply Management (ISM), yang dirilis setiap bulan, merupakan indikator utama yang mengukur aktivitas bisnis di sektor jasa AS, yang merupakan sebagian besar perekonomian. Indikator ini diperoleh dari survei terhadap eksekutif pasokan di seluruh Amerika berdasarkan informasi yang mereka kumpulkan di organisasi masing-masing. Respons survei mencerminkan perubahan, jika ada, pada bulan ini dibandingkan bulan sebelumnya. Angka di atas 50 menunjukkan bahwa perekonomian jasa secara umum berkembang, yang merupakan tanda bullish bagi Dolar AS (USD). Angka di bawah 50 menandakan bahwa aktivitas sektor jasa secara umum menurun, yang dipandang sebagai bearish bagi USD.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Kam Sep 03, 2026 14.00
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 54.3
Sebelumnya: 54.1
Sumber: Institute for Supply Management
Indeks Manajer Pembelian (PMI) Jasa Institute for Supply Management (ISM) mengungkapkan kondisi sektor jasa AS saat ini, yang secara historis menjadi kontributor PDB yang besar. Data di atas 50 menunjukkan ekspansi aktivitas ekonomi sektor jasa. Pembacaan yang lebih kuat dari perkiraan biasanya membantu USD mengumpulkan kekuatan melawan mata uang utama lainnya. Selain PMI utama, data Indeks Ketenagakerjaan dan Indeks Harga yang Dibayar juga diawasi ketat oleh investor karena memberikan wawasan yang berguna mengenai keadaan pasar tenaga kerja dan inflasi.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.