IHSG Merosot 0,83% ke 6.071, Teknologi dan Penjualan Asing Tekan Pasar
|- IHSG turun 0,83% ke 6.071 dan mencatat pelemahan tiga sesi berturut-turut, sekaligus ditutup di level terendah harian.
- Sektor teknologi anjlok 2,76% dan saham-saham berkapitalisasi besar melemah, sementara tekanan jual asing masih membayangi pasar.
- Investor menanti PCE dan NFP AS serta PMI Manufaktur, inflasi, dan neraca perdagangan Indonesia yang akan dirilis Kamis.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahan pekan ini dengan mencatat penurunan untuk sesi ketiga berturut-turut pada Rabu, 30 September 2026. Indeks turun 50 poin atau 0,83% ke 6.071, sekaligus berakhir tepat di level terendah harian setelah sempat naik hingga 6.187. Sejak awal pekan, IHSG telah merosot sekitar 2,72% dari penutupan Jumat di 6.241 dan masih bergerak dalam tren bearish yang terbentuk sejak 9 September lalu.
Tekanan terutama datang dari sektor teknologi dan saham-saham berkapitalisasi besar, di tengah arus jual asing serta imbal hasil Treasury AS yang masih tinggi, meski sebagian bursa Asia bergerak menguat. IHSG sempat berbalik naik, tetapi penguatan tersebut tidak mampu bertahan hingga penutupan ketika aksi ambil untung dan penyesuaian posisi akhir bulan serta akhir kuartal kembali muncul. Perhatian investor berikutnya tertuju pada inflasi PCE dan NFP AS, sementara dari dalam negeri pasar menanti PMI Manufaktur, inflasi, serta neraca perdagangan Indonesia.
Teknologi dan Saham Berkapitalisasi Besar Menekan IHSG
Sektor teknologi mencatat penurunan terdalam sebesar 2,76%, disusul sektor siklikal yang melemah 2,36% dan energi 1,35%. Sektor keuangan turun 0,60%, transportasi 0,70%, sementara infrastruktur terkoreksi 0,37%. Sebaliknya, sektor industri menguat 1,17% dan barang konsumen primer naik tipis 0,15%.
Tekanan juga terlihat pada kelompok saham berkapitalisasi besar. BBCA turun ke 6.075, TLKM ke 2.290, BMRI ke 4.010, dan BBRI ke 3.140. Indeks LQ45 turun 1,15% ke 601, sedangkan IDX30 kehilangan 1,31% ke 332. Pelemahan tersebut membuat IHSG gagal mempertahankan kenaikan harian dan kembali tertekan menjelang penutupan.
Arus jual asing masih menjadi beban bagi pasar domestik. Hingga 29 September, investor asing membukukan penjualan bersih sekitar Rp7,20 triliun sepanjang bulan, saat IHSG telah terkoreksi hampir 7% dibanding akhir Agustus. Tekanan pada saham teknologi juga berlanjut setelah penerapan batas harga minimum saham Rp1 sejak 28 September. Sementara itu, pasar bersiap menghadapi pembukaan kembali transaksi short selling mulai 1 Oktober, yang pada tahap awal berlaku untuk lima saham.
Imbal Hasil AS Masih Tinggi, Pasar Tunggu PCE dan NFP
Dari pasar global, kenaikan imbal hasil Treasury AS dan harga minyak masih menjadi sumber tekanan bagi aset berisiko. Wall Street ditutup melemah pada Selasa, dengan Dow Jones turun 0,26%, S&P 500 -0,17%, dan Nasdaq Composite -0,09%. Imbal hasil Treasury 10 tahun sempat mendekati 5,3%, tertinggi sejak 2007, sementara tenor 30 tahun menyentuh 5,62%, tertinggi sejak Juni 2002.
Imbal hasil Treasury AS mulai turun dari level tertinggi multi-dekade pada Rabu. Pada saat yang sama, komentar Presiden The Fed New York John Williams ikut meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat setelah ia mengatakan tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga kembali usai pertemuan September. Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober kemudian turun menjadi sekitar 45% dari sekitar 70% pada awal pekan.
Pasar kini menunggu inflasi PCE AS, sebelum perhatian beralih ke laporan Nonfarm Payrolls pada Jumat. Dari Indonesia, rangkaian data Kamis mencakup PMI Manufaktur September, inflasi September, dan neraca perdagangan Agustus, yang akan memberi gambaran terbaru mengenai aktivitas manufaktur, tekanan harga, dan perdagangan RI menjelang kuartal keempat.
Pertanyaan Umum Seputar Saham Asia
Asia menyumbang sekitar 70% pertumbuhan ekonomi global dan menjadi tuan rumah bagi beberapa indeks pasar saham utama. Di antara negara-negara maju di kawasan tersebut, Nikkei Jepang – yang mewakili 225 perusahaan di bursa saham Tokyo – dan Kospi Korea Selatan menonjol. Tiongkok memiliki tiga indeks penting: Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, dan Shenzhen Composite. Sebagai negara berkembang yang besar, ekuitas India juga menarik perhatian investor, yang semakin banyak berinvestasi di perusahaan-perusahaan dalam indeks Sensex dan Nifty.
Ekonomi utama di Asia berbeda-beda, dan masing-masing memiliki sektor khusus yang perlu diperhatikan. Perusahaan teknologi mendominasi indeks di Jepang, Korea Selatan, dan semakin banyak di Tiongkok. Layanan keuangan memimpin pasar saham seperti Hong Kong atau Singapura, yang dianggap sebagai pusat utama sektor ini. Manufaktur juga besar di Tiongkok dan Jepang, dengan fokus kuat pada produksi mobil atau elektronik. Kelas menengah yang berkembang di negara-negara seperti Tiongkok dan India juga semakin menonjolkan perusahaan yang berfokus pada ritel dan e-commerce.
Banyak faktor yang mendorong indeks pasar saham Asia, tetapi faktor utama di balik kinerjanya adalah hasil agregat dari perusahaan-perusahaan komponen yang terungkap dalam laporan pendapatan triwulanan dan tahunan mereka. Fundamental ekonomi masing-masing negara, serta keputusan bank sentral atau kebijakan fiskal pemerintah mereka, juga merupakan faktor penting. Secara lebih luas, stabilitas politik, kemajuan teknologi atau supremasi hukum juga dapat memengaruhi pasar ekuitas. Kinerja indeks ekuitas AS juga merupakan faktor karena, lebih sering daripada tidak, pasar Asia memimpin dari saham-saham Wall Street dalam semalam. Terakhir, sentimen risiko yang lebih luas di pasar juga berperan karena ekuitas dianggap sebagai investasi yang berisiko dibandingkan dengan opsi investasi lain seperti sekuritas pendapatan tetap.
Berinvestasi dalam ekuitas itu sendiri berisiko, tetapi berinvestasi dalam saham Asia disertai dengan risiko khusus kawasan yang perlu diperhitungkan. Negara-negara Asia memiliki berbagai macam sistem politik, dari demokrasi penuh hingga kediktatoran, sehingga stabilitas politik, transparansi, supremasi hukum, atau persyaratan tata kelola perusahaan mereka mungkin sangat berbeda. Peristiwa geopolitik seperti sengketa perdagangan atau konflik teritorial dapat menyebabkan volatilitas di pasar saham, seperti halnya bencana alam. Selain itu, fluktuasi mata uang juga dapat berdampak pada valuasi pasar saham Asia. Hal ini khususnya berlaku di negara-negara yang berorientasi ekspor, yang cenderung menderita karena mata uang yang lebih kuat dan mendapat keuntungan dari mata uang yang lebih lemah karena produk mereka menjadi lebih murah di luar negeri.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.