IHSG Meraih Tertinggi Baru Februari di Atas 8.437, Kurang Tindak Lanjut di Seputar Observasi Laporan APBNKITA
|- IHSG mencatatkan tertinggi baru bulan ini, meskipun tidak ada tindak lanjut sejauh ini.
- Pendapatan negara sampai 31 Januari 2026 sebesar Rp172,7 triliun.
- Uang Beredar M2 Januari 2026 tumbuh 10%.
- Emas Antam melanjutkan kenaikan di atas Rp3.000.000.
IHSG bergerak di area 8.391,02 yang lebih rendah 0,06% dari penutupan hari kemarin pada saat berita ini ditulis. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka dengan gap bullish pada hari kedua perdagangan minggu ini di 8.428,05 dan naik ke tertinggi hari 8.437,08 dalam satu jam pertama perdagangan. Level tersebut juga merupakan tertinggi baru bulan ini. Namun demikian, indeks kesulitan untuk naik lebih lanjut dan malah turun ke terendah hari 8.388,31 sejauh ini di sesi pertama saat para investor mendalami laporan APBNKITA yang dirilis kemarin di tengah kosongnya kalender ekonomi Indonesia hingga bulan ini berakhir.
Indeks-indeks saham Indonesia sebagian besar merah pagi ini, meskipun penurunannya kurang dari 1%. LQ45 turun 0,16% ditekan oleh saham-saham seperti EMTK (-2,02%), EXCL (-1,83%), PGEO (-1,75%), AADI (-1,61%) dll. Meskipun JPFA (+3,31%), MDKA (+2,14%), BREN (+0,93%), ASII (+0,75%), dan ANTM (+0,68%) tampak meredam penurunan.
Dalam konferensi pers APBNKITA Februari 2026, Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan bahwa Pendapatan Negara sampai dengan 31 Januari 2026 sebesar Rp172,7 triliun yang 5,5% terhadap APBN. Perinciannya adalah Rp116,2 triliun dari penerimaan pajak; Rp22,6 T dari penerimaan Kepabeanan dan Cukai; dan Rp33,9 dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBN).
Sementara dari sisi Belanja Negara, sampai dengan 31 Januari 2026 totalnya Rp227,3 triliun (5,9% terhadap APBN) dengan perincian Rp131,9 triliun belanja pemerintah pusat dan Rp95,3 triliun untuk transfer ke daerah. Dengan demikian, defisit APBN Rp54,6 triliun (0,21% terhadap PDB) dengan defisit kesimbangan primer Rp4,2 triliun.
Tidak akan ada rilis data ekonomi Indonesia hingga bulan ini berakhir. Data terbaru adalah Uang Beredar M2 Indonesia Januari 2026 yang dirilis kemarin yang tumbuh 10% YoY dari bulan sebelumnya 9,6%.
Imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun di 6,451% cenderung stabil di level-level ini sejak Jumat pekan lalu. Imbal hasil ini tampak jeda sejenak setelah rally dari terendah 2026 6,088% hingga tertinggi 2026 di 6,464% yang dicapai pada 9 Februari.
Emas 1 gram Antam dijual di harga Rp3.068.000 hari ini yang naik Rp40.000 dari harga kemarin seperti diinformasikan dalam situs Logam Mulia. Kenaikan di atas level Rp3.000.000 mengekor harga Emas dunia (XAU/USD) yang ditutup naik 2,43% di $5.227 per troy ons, naik untuk empat hari perdagangan berturut-turut. Namun demikian, XAU/USD sedikit turun setelah meraih tertinggi baru Februari di $5.249 di perdagangan sesi Asia hari ini.
Data Perubahan Ketenagakerjaan ADP Rata-Rata 4 Minggu, Keyakinan Konsumen, data perumahan dari AS yang akan dirilis pada perdagangan sesi Amerika Utara hari ini berpotensi menjadi penggerak harga Emas. Di samping data, pernyataan para pejabat The Fed juga akan diamati untuk mencari isyarat apa pun untuk keputusan suku bunga bank sentral di depan.
Grafik Harian IHSG
IHSG melanjutkan rebound dari 7.481,98, terendah 2026 yang dicapai pada 29 Januari pada hari kemarin. Aksi tersebut memperkuat tren bullish yang diindikasikan oleh posisi indeks yang tetap di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari.
Namun, jalan masih panjang sebelum indeks memulihkan gap bawah yang terbentuk pada 28 Januari 2026. Relative Strength Index RSI) 14-hari di 49,64 mengindikasikan bahwa momentumnya bearish-ke-netral, bangkit lebih jauh dari zona jenuh jual yang diraih selama akhir bulan lalu.
Untuk level-level teknis, sisi atas IHSG dibatasi penghalang 8.596,17 (tertinggi 28 Januari 2026), 8.980,23 (penutupan 27 Januari 2026), dan 9.000 (level angka bulat). Untuk sisi bawah, support terdekat berada di 7.913,60 (SMA 200-hari), 7.712,34 (terendah 3 Februari 2026), dan 7.481,98 (terendah 2026 yang dicapai pada 29 Januari).
Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.
Informasi di halaman ini berisi pernyataan berwawasan ke depan yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset ini. Anda harus melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet sama sekali tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, kekeliruan, atau salah saji material. Ini juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Pasar Terbuka melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, serta tekanan emosional. Semua risiko, kerugian, dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian pokok, adalah tanggung jawab Anda. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi FXStreet maupun pengiklannya.